Showing posts with label Tugas UAS Take Home Test Penulisan Feature. Show all posts
Showing posts with label Tugas UAS Take Home Test Penulisan Feature. Show all posts

Wednesday, June 19, 2013

Tidak Ada Salahnya Sekali-kali Menyalahkan Rivalitas



Tak ada warga Jakarta yang tidak mengenal Persija Jakarta. Kecuali anda tengah berpura-pura mengidap short-term memory lost akut, maka bolehlah anda berkata bahwa Persija adalah bagian dari sejarah era Majapahit yang sudah punah dan sekarang para peniliti sedang melakukan penggalian di bawah kaki gunung Merapi untuk menemunkan peninggalannya.

Begitupun dengan warga Bandung. Tidak ada warga Bandung yang tidak mengenal Persib Bandung. Kecuali anda adalah teman dari si warga Jakarta yang berpura-pura mengidap short-term memory lost akut tadi dan ingin menunjukkan rasa kesetiakawanan, maka bolehlah anda berkata bahwa Persib adalah sebuah nama pulau di bagian timur Indonesia yang menjadi tempat pengasingan ketika zaman Orde Baru.

Persija Jakarta dan Persib Bandung adalah dua klub sepakbola yang paling terkenal di Indonesia. Kemahsyuran nama kedua klub ini tidak kalah dengan nama-nama lain seperti PSMS Medan, PSM Makassar, Arema Malang, ataupun Persebaya Surabaya.

Apabila laga Arema Malang melawan Persebaya Surabaya kerap dilabeli Derby d’Java, maka pertandingan antara Persija Jakarta melawan Persib Bandung ini diberi tajuk Derby d’Indonesia. Tentu bukan tanpa alasan pertemuan kedua tim ini mendapatkan judul sebesar itu. Sejarah rivalitas yang terjadi diantara mereka membuat laga mereka sangat dinanti-natikan oleh seluruh penggemar sepakbola Indonesia.

Berbagai gelar yang telah mereka raih di era Perserikatan dan era Liga Indonesia membuat dua klub ini begitu dihormati oleh setiap lawan mereka hingga saat ini. Macan Kemayoran, begitu biasa orang-orang menyebut Persija, adalah sembilan kali juara Perserikatan dan satu kali juara Liga Indonesia. Sedangkan Maung Bandung menjuarai Perserikatan lima kali dan Liga Indonesia satu kali.

Ditambah dengan faktor geografis, rasanya tidak salah jika kedua klub ini memiliki tingkat persaingan yang tinggi. Apabila Persija sebagai perwakilan dari ibukota, maka Persib adalah wakil rakyat Jawa Barat. Dengan kata lain, dua klub ini sama-sama berusaha mempertaruhkan harga diri kota nya masing-masing.

Unsur geografis tersebut konon ditambah dengan sinisme gaya hidup. Jakarta identik dengan warganya yang modern dan tenggelam di dalam keglamoran, sedangkan Bandung justru mempertahankan tradisi budaya Sunda yang mereka miliki.

Apalagi manajemen Persija memang sempat diguyur dana besar-besaran setelah disokong oleh Pemerintah Provinsi DKI Jakarta. Macan Kemayoran mendapatkan dana berlimpah dan diisi oleh pemain-pemain bintang. Rasa iri yang timbul akibat hal tersebut pun menjadi alasan yang mendukung rivalitas mereka.

Merembet Ke Suporter

Setiap kali kedua klub ini bertemu, tensi tinggi di lapangan pasti tersaji selama 90 menit penuh. Kontroversi dan pelanggaran-pelanggaran keras sudah bukan lagi hal yang asing jika Persija sedang melawan Persib. Kartu kuning ataupun kartu merah juga hampir pasti tertulis di kertas laporan pertandingan yang diisi oleh panitia pelaksana.

Tensi tinggi ternyata bukan hanya terjadi di lapangan. Di luar lapangan, tepatnya di hati para fans kedua tim, tensi tersebut justru memuncak sebagai kebencian. The Jakmania, fans Persija membenci fans Persib yang menamani diri mereka Viking atau bobotoh. Rasa benci tersebut jelas tidak bertepuk sebelah tangan. Viking juga sangat membenci The Jakmania.

Kedua fans beberapa kali terlibat perkelahian berdarah. Kepala yang bocor atau badan penuh luka lebam tak lagi terhindarkan setiap kali mereka bentrok fisik. Bahkan yang terakhir, dua orang anggota Viking bernama Dani Maulana (17) dan Rangga Cipta Nugraha (22) tewas di kawasan Stadion Utama Gelora Bung Karno (SUGBK) ketika pertandingan Persija melawan Persib pada bulan bulan Mei 2012 akibat dikeroyok oleh oknum suporter yang diduga adalah The Jakmania.

Sekalipun misalnya oknum suporter tersebut bukanlah The Jakmania-karena belum tentu semua fans Persija adalah The Jakmania, bisa saja simpatisan-dapat dipastikan banyak anggota Viking yang tidak mau tahu hal tersebut. Yang jelas kedua orang tersebut meregang nyawa di Jakarta ketika suporter Persija memenuhi kawasan SUGBK.

**********

Tidak ada yang tahu pasti sejak kapan permusuhan kedua kelompok suporter ini berawal. Berbagai berita dan sudut pandang yang saya baca dari berbagai sumber, baik itu oleh pihak The Jakmania ataupun Viking sama-sama tidak dapat ditemukan kesamaan awal mula bibit perselisihan dan permusuhan ini tercipta.

Gesekan tertua yang saya temukan terjadi pada tanggal 16 April 1995. Berdasarkan berita yang diliris oleh Tempo.com tersebut, perkelahian mengambil tempat di Stadion Menteng (sekarang telah menjadi Taman Menteng). Ketika itu sedang dilaksanakan pertandingan Grup Barat putaran pertama kompetisi Liga Dunhill antara Persija melawan Persib. Kejadian berlangsung pada babak pertama dan sempat membuat pertandingan tertunda selama 20 menit. Terjadi kegiatan saling lempar melempar batu, botol, tongkat, dan benda-benda lain yang bisa dilempar oleh kedua belah pihak suporter setelah fans Persib merangsak ke pinggir lapangan akibat kapasitas stadion yang tidak memadai.

Gesekan berikutnya saya yang temui bersumber dari web simaung.com. Seorang pendukung Persib yang memiliki akun Twitter @ekomaung menceritakan bahwa pada tahun 1999 di Stadion Siliwangi pernah terjadi bentrokan. Suporter Persija yang ketika itu hadir dengan menggunakan bis menjadi sasaran amuk fans Persib yang marah karena tidak bisa masuk ke dalam stadion.

Berlanjut ke tahun 2000 ketika Liga Indonesia VI bergulir. Kembali mengambil tempat di Stadion Siliwangi, kerusuhan besar terjadi antara kedua belah fans. The Jakmania yang datang ke Bandung untuk mendukung Persija sebenarnya sudah berkoordinir dengan perwakilan Viking. Namun tetap saja beberapa oknum ternyata menyerang para fans Persija ini.

Konon katanya, penyerangan didasari oleh pertandingan Persijatim (sekarang Sriwijaya FC) melawan Persib di Stadion Lebak Bulus beberapa bulan sebelumnya. Fans Persib yang datang ke Jakarta dikala itu merasa diperlakukan tidak simpatik oleh “anak-anak” Jakarta meski sebenarnya Persijatim dengan Persija merupakan dua tim yang berbeda.

Bentrokan tidak dapat terelakkan. Beberapa anggota The Jakmania terluka parah akibat dikeroyok dan dipukul menggunakan benda tumpul. Beberapa kaca mobil hancur akibat terkena lemparan batu yang salah sasaran tersebut.

Namun dari berbagai perkelahian yang terjadi, bentrokan yang paling terkenal dan dianggap sebagai cikal bakal permusuhan mereka adalah ketika Kuis Siapa Berani di Jakarta pada tahun 2002.
Ketika itu, salah satu kuis paling terkenal tersebut mengundang beberapa fans klub tim-tim sepakbola di Indonesia. Yang hadir antara lain The Jakmania (mewakili Persija Jakarta), Pasoepati (mewakili Persis Solo), Aremania (mewakili Arema Malang), ASI (Asosiasi Suporter Indonesia), dan tentunya Viking (mewakili Persib Bandung). Viking menjadi juara satu dalam kuis tersebut.

Singkat cerita, tiba-tiba terjadi perkelahian seusai acara. The Jakmania yang awalnya hanya berjumlah 24 orang perlahan bertambah banyak seiring berdatangannya anggota The Jak lainnya setelah mendengar kabar tersebut.

Naas. Meski para anggota Viking sudah diungsikan oleh pihak kepolisian, penyerangan ternyata tetap terjadi meski Viking sudah berada dalam perjalanan pulang di Tol Kebun Jeruk. Satu buah mobil yang membawa para pendukung Persib tersebut berhasil dicegat oleh para The Jakmania dan yang selanjutnya terjadi adalah pengeroyokan. Total sembilan orang mengalami luka-luka dan harus mendapatkan perawatan.
Semenjak itulah kebencian diantara mereka memuncak dan tetap bertahan hingga sekarang.

*********

Tak hanya antara suporter, kebencian ini akhirnya ikut berimbas kepada para pemain dari tim lawan. Beberapa kali sempat terjadi penyerangan oleh pihak suporter lawan ketika salah satu klub datang ke kota mereka.

Pada tahun 2003, para pemain Persija sempat hampir menjadi korban seandainya mereka tidak cepat pergi dari hotel tempat mereka menginap. Setelah pertandingan melawan Persib di Bandung yang dimenangi oleh Persija, hotel mereka didatangi oleh beberapa pendukung Persib yang pada akhirnya melakukan pengerusakan prasarana hotel.

Sedangkan pada tahun 2007, bus yang berisikan para pemain Persib Bandung dilempari batu oleh beberapa suporter Persija pada saat mereka sedang menuju Stadion Lebak Bulus. Alhasil para pemain Persib menolak bermain.

Beberapa kali pemain kedua belah tim juga harus menggunakan kendaraan barakuda milik pihak kepolisian untuk menghidari hal-hal yang tidak diinginkan, dan tentunya juga demi alasan keamaan ketika sedang melakukan laga tandang.

Hal ini bahkan merembet ketika para pemain sedang membela tim nasional Indonesia. Ketika para pemain Persib berada di Jakarta untuk pemusatan latihan, mereka dihujat oleh para pendukung Persija. Hal yang sama juga terjadi apabila ada pemain Persija yang melakukan pemusatan latihan bersama timnas di Bandung.

Tidak Hanya Terjadi Di Indonesia

Permusuhan antar suporter seperti ini memang merupakan bagian yang tidak bisa dilepaskan dari olahraga, terutama sepakbola. Ada berbagai alasan yang melatarbelakangi permusuhan yang mendarah daging tersebut.

Beberapa yang terkenal adalah fans Manchester United dengan Liverpool, Real Madrid dengan FC Barcelona, SS Lazio dengan AS Roma, Galatasaray dengan Fenerbache, Ajax Amsterdam dengan Feyenoord Rotterdam, dan River Plate dengan Boca Juniors.

Permusuhan tersebut memiliki asal usul yang berbeda-beda. Manchester United dengan Liverpool misalnya. Mereka bermusuhan karena sinisme setelah pembangunan pelabuhan di Manchester menyebabkan pelabuhan di Liverpool menjadi sepi dan berakhiir terhadap banyaknya penggangguran di kota asal The Beatles tersebut. Secara otomatis, muncul kebencian dari scousers-istilah untuk orang asli Liverpool- terhadap manchunian-sebutan untuk orang asli Manchester.

Hal yang berbeda terjadi kepada FC Barcelona-Real Madrid dan SS Lazio-AS Roma karena terdapat unsur politik di dalamnya. Real Madrid merupakan klub yang dicintai oleh pemerintah Spanyol yang dikala itu dipimpin oleh Raja Alfonso ke-13. Sedangkan Barcelona merupakan tim yang berasal dari daerah Katalan. Daerah berotonomi yang ditekan ketika rezim Jenderal Franco dan berusaha memerdekakan diri dari Spanyol.

Sedangkan SS Lazio dan AS Roma merupakan tim dengan kepentingan politik berbeda. Lazio adalah tim yang dahulu kala berisi penganut paham sayap kiri, dan AS Roma merupakan klub yang berisi penganut paham sayap kanan.

Untuk Galatasaray-Fenerbache dan River Plate- Boca Juniors, mereka merupakan tim-tim yang mewakili kasta masyarakat. Galatasaray dan River Plate mewakili rakyat menengah keatas, sedangkan Fenerbache dan Boca Juniors mewakili masyarakat kelas pekerja.

Perselisihan Ajax- Feyenoord lebih parah lagi. Ajax yang bertempat di Amsterdam dianggap sebagai klub berisi orang-orang Yahudi. Oleh sebab itulah mereka dibenci oleh para pendukung Feyenoord yang berada di Rotterdam. Maklum, hingga saat ini pun sebenarnya sinisme terhadap orang Yahudi di Eropa masih tetap hidup meski tidak lagi seekstrem dahulu kala.

Kalau mau dibandingkan dengan perselisihan The Jak dengan Viking, seluruh rivalitas diatas sebenarnya menyimpan sebuah keganjilan. Ketika mereka yang diluar negeri saling membenci karena alasan politik, strata sosial, dan ras, The Jak dan Viking malah berawal dari sesuatu yang sebenarnya dapat dihindari.

The Jakmania sendiri sebenarnya baru lahir secara resmi di tahun 1997. Sebelumnya, belum ada kelompok suporter resmi yang mendukung Persija Jakarta ketika bermain di Stadion Menteng. Bahkan tak jarang suporter lawanlah yang memenuhi stadion ketimbang suporter Persija. Ibaratnya, ketika PSMS datang maka yang memenuhi stadion adalah masyarakat Batak, ketika Persebaya yang datang maka yang memenuhi stadion adalah orang Jawa, dan begitu seterusnya.

Viking juga dahulu “hanyalah” satu dari puluhan kelompok suporter Persib. Terdapat Stone Lovers, Suporter Forever, BFT, Provost PERSIB, Vorib, Robokop, Casper, Tiger Fortune, dan masih banyak lagi. Viking bukanlah kelompok suporter yang besar seperti sekarang ketika semua suporter Persib telah identik sebagai Viking atau bobotoh.

Imbas Yang Terasa Merugikan

Pada tanggal 22 Juni 2013 yang akan datang, Persija Jakarta dijadwalkan bertanding melawan Persib Bandung di Stadion Utama Gelora Bung Karno. Namun sialnya, muncul berita bahwa pihak kepolisian hanya akan memberikan izin pertandingan apabila dilaksanakan tanpa penonton.

“Mereka khawatir pertandingan akan rusuh kalau dihadiri penonton karena tensinya sangat tinggi,” ungkap Larico Ranggamone, ketua The Jakmania.

Tentu hal ini sangat merugikan pihak Persija karena mereka akan menghadapi musuh bebuyutannya tanpa dukungan dari The Jakmania. Rangga dengan wajah yang sedikit berkerut berusaha membandingkan dengan tensi pertandingan River Plate melawan Boca Juniors yang sebenarnya jauh lebih sering terjadi perkelahian fisik ketimbang Persija melawan Persib.

"Pertandingan antara Boca Juniors dan River Plate selalu ramai dan tensinya tinggi. Tapi pihak kepolisian di sana bisa bertindak tegas terhadap fans yang melakukan pelanggaran. Mungkin itu bisa dicontoh,” lanjutnya seraya mengisyaratkan bahwa Polisi di Indonesia terlalu bersikap mencari aman.

**********

Memang acap kali pertandingan-pertandingan di Liga Indonesia harus dilaksanakan tanpa penonton akibat tidak mendapatkan izin dari pihak kepolisian. Pihak kepolisian menilai bahwa laga-laga tersebut terlalu riskan terjadi bentrokan apabila dihadiri penonton. Oleh sebab itu, dipilihlah keputusan untuk tidak memperbolehkan penonton masuk ke dalam stadion.

Tak jarang pula beberapa tim harus menjalani pertandingan di kota lain karena tidak mendapatkan izin sama sekali dari kepolisian setempat. Sungguh sesuatu hal yang aneh ketika fans-fans di luar negeri yang jauh lebih beringas justru bisa menghadiri pertandingan di kandang lawan dengan pengamanan dan penjagaan ketat dari pihak keamaan.

Biasanya, pihak polisi akan berusaha membuatkan rute khusus sehingga suporter lawan dan suporter tuan rumah tidak bertemu secara fisik. Hal-hal ini dilakukan untuk menghindari bentrok secara langsung. Jadi meskipun tensi pertandingan sangat tinggi, mereka tetap bisa mendukung tim nya ketika bertandang.

Di Inggris contohnya. Biasanya polisi akan membuat barikade untuk memisahkan suporter lawan dan suporter tuan rumah di dalam stadion. Bahkan jika dibutuhkan, mereka akan mengosongkan beberapa sektor agar fans tuan rumah tidak bisa menghampiri fans lawan, begitupun sebaliknya.

Di beberapa negara Eropa lainnya seperti Italy, Turki, Kroasia, dan Polandia, fans lawan yang diberikan tribun khusus akan dilindungi oleh jaring untuk menghindari lemparan dari fans tuan rumah. Di dalam tribun tersebut tentunya juga disiapkan beberapa anggota kepolisian untuk menghidari pengerusakan prasarana stadion.

*********

Beberapa pihak sebenarnya telah berusaha mendamaikan The Jakmania dengan Viking. Namun apa daya. Semua berakhir sia-sia dan perdamaian tersebut tak kunjung tercipta. Bahkan Ayi Beutik, Panglima Viking sempat berujar bahwa ia ingin rivalitas ini tetap dijaga agar menjadi seperti Real Madrid dan FC Barcelona.

Baru-baru ini Larico Ranggamone juga sempat kembali mengusahakan perdamaian dengan pihak Viking. 
Tujuannya jelas agar The Jak bisa mendukung Persija ke Bandung, dan Viking bisa mendukung Persib di Jakarta. Namun kembali lagi, tidak ada respon yang diberikan pihak Viking sampai saat ini.

"Mari kita hilangkan dendam masa lalu. Tidak jamannya lagi melakukan kekerasan antarsuporter. Kami akan mengawasi setiap anggota yang ingin melakukan sweeping atau larangan masuk buat Viking," tambahnya.

Sejatinya, perdamaian kedua belah pihak akan sangat menguntungkan klub karena bisa mendapatkan dukungan ketika bertanding ke kandang lawan. Tidak ada lagi bentrokan yang bisa saja kembali berujung kematian.

Indonesia bukanlah Eropa yang pihak keamanannya bisa bersikap preventif secara tegas. Kita dibiasakan untuk bersikap represif secara halus dan memilih untuk tidak memberikan izin ketimbang nantinya malah merepotkan. Padahal tugas mereka adalah mengayomi dan melindungi masyarakat, bukan melarang.

Terkhusus pertandingan pada tanggal 22 Juni esok, seharusnya pertandingan tersebut bisa dipenuhi oleh penonton. Apalagi tanggal tersebut jatuh pada hari kelahiran kota Jakarta yang notabenenya berarti derby tersebut akan terasa lebih special dari biasanya.


Sebuah ironi memang. Ketika fans sepakbola tidak lagi dianggap sebagai sebuah bentuk kebebasan berorganisasi dan berekpsresi, maka hanya tinggal menunggu waktu saja sepakbola di negara tersebut akan mati. Eh, atau apakah sebenarnya kita sedang mati suri?

Cagar Budaya Betawi di Jakarte..

Lenteng agung,

Setu, Setu, Setu..

Tahaaan!  Tariiik pirrr....

Dengan menempuh perjalanan selama kurang lebih dua jam dengan menaiki kendaraan umum, akhirnya tibalah saya ditempat yang dituju. Disambut dengan gapura yang berdiri kokoh dan memiliki unsur ukir yang khas dari budaya Betawi yang bertuliskan “Pintu  Masuk 1 Gang Pitung Perkampungan Budaya Betawi - Setu Babakan

Perjuangan pun tidak berhenti sampai dengan menaiki kendaraan umum selama dua jam saja. Sesampainya di depan gapura saya masih harus berjalan menyusuri dan melewati komplek perumahan yang notabene semua rumahnya memiliki sentuhan gaya rumah khas Betawi, entah itu dari unsur  pagar  maupun atap rumahnya yang terbuat dari kayu ukir. Dan juga tidak lupa, disetiap teras rumah penduduk sekitar juga terdapat beberapa kursi dengan meja ditengahnya mirip seperti yang ada pada rumah  ‘Si Doel” salah satu tontonan televisi, jika kita pernah melihatnya.

“Ini sih biasanya dipake untuk santai, kalo kagak buat ngejamu tamu yang suka dateng sewaktu-waktu”, ujar Jaka, salah satu pemilik rumah bergaya Betawi itu.

Untuk menuju Setu (semacam waduk atau danau), saya masih harus menempuh jalanan kira-kira 100 meter dengan berjalan kaki agar dapat melihat Setu seperti yang disebut-sebut itu. Perjalanan pun dilanjutkan dengan menyusuri jalanan yang cukup mulus dan melewati rumah-rumah yang letaknya berdampingan dan berjajar rapih.

Saya pun disuguhkan dengan pemandangan rumah-rumah mulai dari yang berukuran kecil hingga rumah yang berukuran besar yang telah direnovasi dan sudah bergaya modern akan tetapi tidak dengan meninggalkan unsur budaya Betawinya.

Ditengah perjalanan menuju Setu, saya melihat salah satu sudut lahan komplek berpagar yang masih kosong sedang membangun beberapa rumah khas Betawi yang dibangun dengan ukuran tinggi seperti miniatur rumah adat yang ada di TMII(Taman Mini Indonesia Indah).

Setelah menyusuri jalanan yang  membutuhkan waktu sekitar 15 menit tersebut, tanpa terasa saya sudah berada di depan Setu yang dimaksud. Ya Setu Babakan. Setu yang merupakan danau buatan tersebut mempunyai lebar seluas ± 30 hektar dengan kedalaman mencapai 1 hingga 5 meter.

Setu yang terletak di kawasan Srengseng Sawah, Jagakarsa ini memiliki fungsi juga selain sebagai pusat Perkampungan Budaya Betawi. Tempat ini difungsikan sebagai tempat wisata alternatif bagi masyarakat Jakarta.

Perkampungan Budaya Betawi ini dibangun melalui usul yang dicetuskan oleh tokoh-tokoh Betawi maupun seniman kepada Badan Musyawarah Masyarakat Betawi. Kemudian Badan Musyawarah Masyarakat Betawi mengusulkan ke Pemerintah DKI Jakarta.

Dan akhirnya, pada bulan Oktober tahun 2000 lah pembangunan untuk Perkampungan Budaya Betawi dilaksanakan.  Kemudian  pada tanggal 20 Januari 2001 diresmikan oleh Gubernur DKI Jakarta yaitu Bapak Sutiyoso atau yang lebih akrab dipanggil Bang Yos tersebut.

Setu Babakan yang terhubung dengan Setu Mangga Bolong ini juga telah memiliki UU Perda DKI Jakarta  No.3 Tahun 2005 yang menyebutkan bahwa Perkampungan Budya Betawi adalah suatu kawasan di Jakarta dengan komunitas yang ditumbuh kembangkan budaya Betawi yang meliputi seluruh hasil gagasan dan karya baik fisik maupun non fisik yaitu kesenian, adat isitiadat foklore kesastraan dan kebhasaan, kesejarahan serat berbagai bangunan yang bercirikan kebetawian.

“Sebelum ini dibangun, sebenernya ada lima lokasi yang dijadiin pertimbangan. Itu di kawasan Marunda, Kemayoran, Condet, Srengseng yang di Jakarta Barat sama disini ini.” ujar Indra selaku pengurus kawasan Setu Babakan.

Puas menikmati udara yang masih segar dan tidak berpolusi, saya pun menikmati pemandangan sekitar setu yang masih rindang tersebut karena masih banyak dikelilingi oleh pohon-pohon yang berukuran cukup besar.
Saat mengarahkan pandangan ke berbagai sudut, mata saya pun dikejutkan dengan berbagai macam sepeda dengan bentuk binatang air yang dapat ditumpangi oleh 2 orang saja. Ternyata setu ini juga memanfaatkan tempat untuk menawarkan para pengunjungnya utnuk berwisata air.

Rupanya setu ini memanfaatkan wisata air dengan berbagai macam fasilitas seperti, sepeda air (seperti yang saya lihat), perahu naga, memancing dan olahraga kano.

Selain memiliki beragam khas kesenian dan kuliner, adat Betawi juga  memiliki beberapa tahapan pada proses pernikahan,  jika sepasang kekasih ingin menikah. Pada pernikahan dalam kebudayaan Betawi, terdapat satu macam makanan khas yang tidak boleh tertinggal yaitu, roti buaya yang selalu dibawa pada saat seserahan dimana seorang laki-laki melamar pasangannya. Konon roti buaya tersebut menandakan bahwa calon suami istri tersebut harus bisa setia layaknya buaya dan cukup menikah sekali seumur hidup.

Pada tahap pertama yaitu disebut Ngedelengin atau yang  biasa dikenal dengan Mak Comblang. Tahapan ini memiliki makna yaitu sebelum adanya pernikahan, ada baiknya jika terdapat perkenalan antara keluarga pria dan keluarga satu sama lain. Perkenalan keluarga tersebut tidak terjadi dengan sendirinya melainkan dengan bantuan seseorang yang menjadi Mak Comblang. Mak Comblang akan ikut serta juga saat pihak dari keluarga pria datang kerumah calon wanitanya.

Disini lah Mak Comblang bertugas memberikan uang sembe atau yang biasa dikenal dengan istilah angpao kepada calon istri. Jika telah terdapat persetujuan antara keluarga wanita dan keluarga pria, maka sampailah pada penentuan waktu lamaran. Dalam hal ini, Mak Comblang lah yang mengurus kapan dan apa saja yang menajdi barang bawaan pada saat waktu lamaran.

Kemudian tahap yang selanjutnya adalah tahap kedua. Pada tahap ini terjadilah pihak keluarga pria meminta izin kepada pihak keluarga wanita untuk melamar anaknya tersebut. Di tahap ini juga terdapat persyaratan untuk calon mempelai wanita. Persyaratannya, calon mempelai wanita harus sudah tamat dalam membaca Al-quran. Di tahap ini juga, Mak Comblang tetap hadir serta wakil orangtua dari mempelai pria yang terdiri dari sepasang wakil dari keluarga ibu dan keluarga bapak.

Selanjutnya pada tahap ketiga terdapat tradisi Bawa Tande Putus. Di tahap ini bukan berarti hubungan yang akan dilanjutkan ke acara pernikahan antara pria dan wanita tak jadi. Akan tetapi Tande Putus adalah tahapan dimana mempelai pria memberikan  sebuah barang atau cincin belah rotan sebagai tanda bahwa tidak ada seorang pria manapun yang boleh mengganggu gugat mempelai wanita. Setelah tahap ketiga berakhir, barulah adanya acara Akad Nikah.

Sebelum akad nikah dilaksanakan, mempelai wanita harus “di piare”(di piara). Maksudnya disini adalah mempelai wanita harus dipelihara oleh tukang rias dengan maksud dan tujuan setiap kegiatan atau hal apapun yang dilakukan oleh mempelai wanita dapat terkontrol dengan baik, mulai dari segi kesehatan dan kecantikan menuju acara akad nikah.

Selain itu, ada juga satu acara dimana mempelai wanita dimandikan dengan cara dilulur kemudian acara Tangas atau Kum yang bertujuan untuk membersihkan sisa-sisa lulur dan yang terakhir adalah acara Ngerik atau Malam Pacar dimana mempelai wanita memerahkan kuku tangan dan kaki dengan menggunakan pacar.
Setelah semua acara diatas selesai, barulah dilaksanakannya Akad Nikah. Sebelum memasuki rumah mempelai wanita, ada satu tradisi yang disebut Palang pintu. Tradisi ini merupakan gerakan silat yang dilakukan oleh Bapak dari mempelai wanita dan juga pria.

Baju yang dikenakan pada saat akad nikah pun juga menjadi tradisi . mempelai wanita menggunakan baju kurung yang padukan dengan selendang serta sarung songket. Kemudian kepala mempelai wanita juga dihias dengan sanggul sawi yang di beri lima buah kembang goyang (sesuai dengan nama salah satu kuliner khas Betawi) serta burung Hong. Di dahi mempelai wanita juga terdapat gambar hiasan bulan sabit berwarna merah yang memiliki arti bhawa mempelai wanita masih gadis.

Tak mau  kalah  penampilan juga dengan mempelai wanita, mempelai pria pun juga diharuskan menggunakan baju tradisi yang telah ditentukan seperti memakai Jas Rebet serta bawahan sarung Plakat, hem dan tak lupa hiasan kepala yaitu kopiah. Selain itu, ada juga busana Jubah Arab yang dikenakan saat resepsi berlangsung. Dikenakannya Jubah Arab, baju Gamis dan elendang yang panjang sisinya dari kiri ke kanan memiliki arti tersendiri, yaitu sebuah harapan agar rumah tangga kedua mempelai selalu damai.

Setelah mengitari jalanan yang cukup luas dan lebar disekitar Setu. Disana saya melihat banyak sekali penjual makanan yang sangat berjajar teratur di seberang pinggir Setu. Bukan sembarang makanan ataupun minuman yang mereka jajakan, tetapi makanan dan minuman khas Betawi lah yang akan  mereka tawarkan kepada kita sebagai  pengunjung yang baru datang ke tempat tersebut.

Banyak makanan khas Betawi yang dikenal, tetapi salah satu kuliner yang  paling banyak dicari oleh pengunjung dan telah  menjadi simbol makanan khas betawi setiap tahunnya di salah satu arena yaitu  PRJ adalah Kerak Telor. Asal muasal kerak telor sendiri sudah ada dari zaman Belanda ( saat itu Jakarta masih bernama Batavia). Sudah  tidak perlu ditanyakan lagi bahan utama apa yang dibutuhkan untuk membuat makanan tersebut. Ya, tentunya telor ayam atau bebek, kemudian tidak lupa dicampur dengan nasi ketan dan kelapa parut, karena pada saat itu (zaman Belanda)  kelapa menjadi salah satu komoditi utama. Harga yang ditawarkan pun juga bervariasi.

“Pake telor ayam 12ribu, kalo telor bebek 13ribu neng. Mau pesen yang mana?” ujar Hasan saat menawarkan makanan yang dijajakannya itu.

“Pesen dua ya bang. Pake telor ayam aja deh” jawab saya setelah memutuskan untuk memesan.

Selain kerak telor sebagai makanan khas, ada pula minuman yang juga menjadi khas dari budaya Betawi itu sendiri. Apalagi kalau bukan Bir Pletok. Minuman yang terbuat dari 100 persen bahan alami tersebut dibuat dari Jahe, Cengkeh, Daun Pandan, Secang, Batang Sereh, Gula dan Garam yang dicampur menjadi satu hingga menghasilkan sari (air) saat direbus dan kemudian dikemas dalam botol kaca yang serupa dengan botol sirup.

Sama halnya dengan kuliner, Betawi masih memiliki kesenian yang harus dan perlu dijaga dan dilestarikan hingga saat ini. Di Perkampungan Budaya Betawi ini, terdapat beberapa kegiatan kesenian yang ada dan sering diselenggarakan seperti berbagai macam tarian Betawi, lenong, marawis, dan pencak silat. Kegiatan yang tidak selalu di adakan  namun jika ada, pertunjukan akan diselenggarakan  pada hari Sabtu dan Minggu sini, dilakukan sesuai jadwal yang telah ditentukan sebelumnya.

Pas sekali, saat saya berkunjung ternyata di dinding telah terpampang  jadwal pertunjukan yaitu pertunjukan kesenian Wayang Kulit Betawi. Awalnya saya berpikir bahwa pertunjukan wayang kulit Betawi sama saja dengan wayang kulit Jawa. Namun, yang mebuat kesenian wayang ini berbeda adalah dari segi dalang yang memainkan, tidak terlihat secara visual seperti wayang Jawa pada umumnya. Dan juga bahan wayang yang digunakan pun tidak terbuat dari kulit sapi, tetapi terbuat dari kayu.

Merasa puas telah mengitari seluruh kawasan Perkampungan Budaya Betawi dan mendapatkan informasi tentang Budaya Betawi yang terletak di Jl. Moch Kahfi II, Setu Babakan Kel. Srengseng Sawah, Kec. Jagakarsa, Jakarta Selatan ini, akhirnya saya pun memutuskan  untuk kembali pulang kerumah. 
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                           
Dengan menyusuri jalan perumahan yang mengantarkan saya ke ujung jalan besar, untuk menunggu dan menaiki kendaraan umum yang sama seperti awal pertama datang ke tempat ini. Saya pun merasa senang dan ingin mengunjungi tempat ini lagi suatu hari nanti untuk melihat kesenian dan tradisi Betawi lainnya.


Sabar, itu Kunci Paling Ampuh!

“Halo, kakak.”

Akhsan menuntun saya menuju papan tulis yang ada di depan kelas. Kelas yang terbilang mungil untuk ukuran sekolah negeri. Ya sekitar 3x5 meter saja. Terdapat sepuluh meja dan sepuluh kursi untuk murid. Dan satu meja dan satu kursi untuk sang guru. Pada kesepuluh meja dan kursi bercat coklat ini terdapat tulisan “BANSOS DIKDAS 2011” yang berwarna putih. Pada tembok kelas terlihat beberapa lembar kertas yang sengaja ditempel. Seperti kertas denah tempat duduk, kertas jadwal mata pelajaran, kertas jadwal piket, bahkan hasil karya anak-anak yang menempati kelas ini sendiri.

Suasana kelas yang tak pernah rapi.

“Kakak bisa baca yang ini nggak?”, tanya Akhsan dengan lugu sambil menunjuk papan tulis yang bertuliskan “Alat untuk mandi” dengan tinta spidol bewarna biru, karena pada saat itu sedang berlangsung pelajaran Bina Diri.

Akhsan adalah salah satu siswa yang Murni didik di Sekolah Khusus Yayasan Karya Dharma Wanita (YKDW), Karawaci Baru, Tangerang, Banten. Murni adalah wali kelas Akhsan dan kesembilan anak autis lainnya.

Sekolah yang sudah ada sejak tahun 1981 ini merupakan sekolah luar biasa (SLB) bagian C untuk anak tuna grahita dan autis. Maka tak heran jika melihat papan yang berada di pintu-pintu kelas yang ditandai dengan pengenal bertuliskan “I-C, II-C, III-C, IV-C, V-C, VI-C”.

***

Berdasarkan urutan sejarah berdirinya, kategori kecacatan SLB itu dikelompokkan menjadi enam kategori, yaitu SLB bagian A untuk anak tuna netra, SLB bagian B untuk anak tuna rungu, SLB bagian C untuk anak tuna grahita, SLB bagian D untuk anak tuna daksa, SLB bagian E untuk anak tuna laras, lalu yang terakhir ada SLB bagian F untuk anak tuna ganda.

Dalam UUD 1945 pasal 31 ayat 1, setiap warga negara berhak mendapatkan pengajaran. Ini artinya seluruh warga negara berhak mendapatkan pengajaran tanpa terkecuali apakah dia mempunyai kelainan seperti anak autis ini.

Dikutip dari edukasi.kompasiana.com, pada tahun 2003 pemerintah mengeluarkan Undang-Undang No 20 tentang Sistem Pendidikan Nasional (UUSPN). Dalam undang-undang tersebut dikemukakan hal-hal yang erat hubungannya dengan pendidikan bagi anak-anak dengan kebutuhan pendidikan khusus, yakni sebagai berikut:

Bab IV (pasal 5 ayat 1), Setiap warga negara mempunyai hak yang sama untuk memperoleh pendidikan yang bermutu, baik yang memiliki kelainan fisik, emosional, mental, intelektual atau sosial, berhak memperoleh pendidikan khusus.
Bab V bagian 11, Pendidikan Khusus (pasal 32 ayat 1), Pendidikan khusus bagi peserta yang memiliki tingkat kesulitan dalam mengikuti proses pembelajaran karena kelainan fisik, emosional, mental, sosial atau memiliki potensi kecerdasan.

***

Dengan logat jawanya, Murni mengaku bahwa menjadi guru di sekolah luar biasa bukanlah impiannya. Ia memiliki impian untuk bekerja di Departemen Sosial. Tahun 1998, sewaktu pengambilan jurusan, kebetulan sekali Murni tidak masuk. Lalu temannya lah yang memilih jurusan Pendidikan Luar Biasa (PLB), spealisasi tuna laras dan tuna wicara.

“Ya, namanya mahasiswa kan, ada temen segrup, diambilin lah itu jurusan plb,” ucapnya dengan diiringi tawa.

Setelah lulus kuliah, ia merantau ke Tangerang. Ia merasa bosan sudah mengenyam pendidikan hingga kuliah di Jawa, maka ia memutuskan untuk merantau. Karena kebetulan juga waktu itu orang tuanya memang berada di Jakarta. Sebelum bekerja di sekolah khusus ini, ia mencoba melamar pekerjaan di LP, namun tak diterima karena Murni lulusan dari Dinas Pendidikan. Pihak LP-pun menyarankan Murni untuk melamar saja ke sekolah tempatnya ia mengajar sekarang, karena pada waktu itu sekolah ini kekurangan pengajar. Maka ia pun resmi menjadi guru di Sekolah Khusus Yayasan Karya Dharma Wanita ini sejak tahun 2004.

Dua tahun terakhir ini, Murni ditugaskan untuk menjadi guru kelas anak autis. Khususnya kelas 5 SD. Kelas yang ia pegang ini terdiri dari 10 murid saja. Anak-anak itu antara lain Aditya Aji, Cindy Wijaya, Fajar Mahendra, Rakha Azhari, Akhsan W, Dewi Apriyani, Fauzan R, Dwi Kartika Sari, Nico, dan Arif Fahrudin. Murni mengaku mempunyai penanganan khusus dan berbeda pada setiap murid.

Dikutip dari wikipedia.org, autis adalah suatu kondisi mengenai seseorang sejak lahir atau pada saat balita yang membuat dirinya tidak dapat membentuk hubungan sosial atau komunikasi yang normal. Akibatnya, anak tersebut terisolasi dari manusia lain. Ada enam gangguan yang menjadi karakteristik dari anak autisme, yakni gangguan interaksi sosial, konumikasi (bahasa dan bicara), perilaku-emosi, pola bermain, gangguan sensorik dan motorik, serta perkembangan terlambat atau tidak normal. Gejala ini biasanya mulai tampak sejak lahir, atau sebelum anak berusia 3 tahun.

Sedangkan tuna grahita adalah kelainan dalam pertumbuhan dan perkembangan pada mental intelektual sejak bayi atau dalam kandungan yang disebabkan oleh faktor biologis maupun faktor fungsional. Ciri-ciri anak yang mengalami tuna grahita antara lain kecerdasannya sangat terbatas, mereka tidak mampu mengurus diri sendiri, sehingga selalu memerlukan bantuan orang lain. Daya ingat mereka juga lemah, keterbatasan minat, emosi yang sangat labil. Mereka juga akan acuh terhadap sekitarnya. Secara fisik, badan mereka terlihat membungkuk, raut wajah yang datar, mulut melongo, dan matanya terlihat sipit.

Walaupun Murni jebolan Universitas Sebelas Maret, Surakarta, jurusan Pendidikan Luar Biasa, ia tetap kewalahan mengatur sepuluh anak autis yang dititipkan padanya. Apalagi masing-masing dari anak tersebut memiliki ‘kenakalan-kenakalan’ yang berbeda. Contohnya saja pada Nico. Ia adalah anak didik Murni kelahiran tahun 1995. Salah satu ciri anak autis adalah tidak mampun mengurus dirinya sendiri, maka tak heran jika buang air kecil saja, Nico masih dibantu oleh orang tuanya.

“Itu si Nico, pipis aja burungnya masih dipegangin sama mamanya. Mamanya kan nungguin tiap hari tuh,” ucap Murni sambil terkekeh.

“Harusnya kan anak kelahiran tahun 1995 udah SMA. Tapi ini masih kelas 5 SD, ya maklumlah ya,” lanjutnya.

Padahal penanganan yang tepat terhadap anak-anak seperti itu adalah membiarkan mereka melakukan segala sesuatunya sendiri, seperti anak normal pada umumnya. Misalnya saja, biarkan anak memakai pakaiannya sendiri, walaupun dibantu orang tua, tapi biarkan mereka terbiasa melakukan kegiatan sehari-hari seperti memakai pakaian dengan usahanya sendiri. Yang penting prosesnya.

Murni mengaku senang menjadi tenaga pengajar untuk anak-anak autis di sekolah ini. Karena ia bisa bertemu dan bertukar pengalaman dengan guru-guru yang sejurusan dengan dirinya. Menurut pengakuan Elis, teman seprofesi Murni, walaupun anak-anak disini memiliki keterbelakangan mental, tetapi mereka anak yang menyenangkan. Bahkan mereka bisa lebih jeli jika dibandingkan dengan anak normal.

“Mereka juga suka memprotes baju gurunya kalo keseringan dipake”, timpal Murni.

“Iya bener tuh,” omongan Murni dibenarkan dengan cepat oleh Elis yang duduk di sofa persis sebelah Murni.

Murni juga pernah ingin dicium oleh salah satu muridnya sendiri. “Walaupun mental mereka terbelakang, tapi perasaan sayangnya biasa seperti orang normal. Mungkin dia pengen cium saya karena rasa sayang terhadap gurunya.”

Murni merasa kesulitan jika anak didiknya mengamuk secara tiba-tiba di dalam kelas. Ia mengaku sempat kewalahan menghadapi kelakukan mereka. Tetapi karena ia ingat bahwa mereka adalah anak-anak dengan mental yang terbelakang, maka ia pun menahan amarah dengan bersabar.

“Mau marah juga gimana, mereka gak ngerti apa-apa. Lagian kalau saya balik marah, mereka malah ketawa-tawa. Mereka kalau ngamuk spontan langsung ngegigit, langsung menyakar,”wanita 33 tahun ini menceritakan dengan antusias sambil memperlihatkan pergelangan tangan kanannya yang dicakar oleh Nico.

***

“Yang penting anaknya mengerti dengan apa yang saya ajarkan.”

Inilah prinsip yang Murni pegang selama mengajar. Ia tak berharap lebih terhadap anak-anak didiknya harus menjadi pintar layaknya anak pintar pada sekolah anak normal. Yang ia prioritaskan adalah kepahaman anak terhadap pelajaran yang diberikan oleh Murni selama jam sekolah berlangsung.

Suasana kelas sesaat sebelum anak-anaknya dipulangkan
Jangan Anda bayangkan pembelajaran kelas 5 SD anak normal setara dengan pelajaran anak kelas 5 SD di sekolah khusus anak dengan mental terbelakang ini, tentu sangat amat berbeda sekali. Jika pelajaran Matematika pada kelas 5 SD anak normal diajarkan perkalian dan pembagian angka, namun di Skh ini anak kelas 5 SD hanya diajarkan pertambahan atau pengurangan angka sederhana saja. Ini terlihat ketika anak-anak didik Murni akan dipulangkan saat bel sekolah berbunyi, Murni memberi mereka pertanyaan mengenai pertambahan angka sederhana.

“Cindy, 5 ditambah 4, berapa?” tanya Murni dengan suara lantang kepada sang ketua kelas.

Anak yang dipanggil pun dengan sigap menghitung dengan bantuan kesepuluh jarinya. Karena ia bisa menjawab pertanyaan sang guru dengan benar, maka ia pun boleh pulang.

Anak berikutnya yang kebagian pertanyaan adalah Akhsan, anak yang paling iseng menurut ibu dua anak ini.
“Akhsan, 4 ditambah 5, berapa?”

Sama seperti Cindy, Akhsan pun mencoba menjawab pertanyaan sang wali kelas dengan bantuan jari-jari mungilnya. Murni pun melakukan hal serupa kepada keenam sisa anak yang berada di dalam kelas pada hari itu. Tentunya dengan angka sederhana yang berbeda-beda pada setiap anaknya.

Salah satu murid yang sedang berhitung agar bisa pulang
Menurut cerita Murni, Akhsan mengalami penyakit Hydrocepalus. Tentu ini membingungkan karena jika melihat anak ini secara langsung, kita tidak akan melihat besarnya kepala Akhsan. Karena ciri-ciri pasien pengidap peyakit Hydrocepalus adalah kepalanya akan lebih besar daripada tubuhnya sendiri.

Ini adalah Akhsan
“Anak itu sudah koma. Orang tuanya sudah kemari, minta maaf sama guru-guru, memohon ampun untuk segala perbuatan yang sudah dilakukan Akhsan selama di sekolah. Tapi Alhamdulillah sekarang anak itu udah bisa sekolah lagi,” ungkap Murni dengan raut wajah sedih.

“Tapi itu anak juga isengnya kebangetan,” lanjutnya dengan nada kesal dan dilanjutkan dengan tawa.

Akhsan pernah menjahili salah satu teman sekelasnya, Arif, dengan melempar penghapus karet milik Arif keluar jendela kelas mereka.

Murni menegur Akhsan dengan nada agak tinggi, “San, kamu ya yang ngebuang penghapus Arif?”

“Ngga, bu” jawab Akhsan dengan nada polos dan memperlihatkan kedua telapak tangannya yang kosong.

***

Kesabaran Murni dan ke 39 guru lainnya di sekolah ini diuji ketika anak yang mereka didik tiba-tiba memberontak dan tidak mau belajar. Menurut Murni, menghandle anak-anak yang sedang seperti itu penanganannya berbeda-beda. Tergantung perilaku dari anaknya sendiri.

Jika salah satu anak didiknya ‘kambuh’, ia akan mengajak sang anak untuk bermain. “Buat si anak seneng dulu, balikin mood dia jadi bagus lagi. Nanti kalo udah kaya gitu, baru deh lanjut lagi belajarnya.”

Tetapi jika mood sang anak tak kunjung kembali, maka Murni pun tak bisa berbuat banyak selain memperhatikan tingkah laku lucu sang anak.

“Mereka tuh kadang-kadang nyebelin, bikin kesel. Tapi terkadang mereka juga bisa bikin kita tertawa karena tingkah laku mereka yang konyol”

Ya, kuncinya mengajar anak terbelakang adalah sabar. Mau marah dan kesal seperti apapun kepada mereka, mereka tak akan pernah mengerti apa yang kita rasakan. J


Oleh Ella Elsadilaga