Showing posts with label Feature Perjalanan. Show all posts
Showing posts with label Feature Perjalanan. Show all posts

Wednesday, June 19, 2013

Cagar Budaya Betawi di Jakarte..

Lenteng agung,

Setu, Setu, Setu..

Tahaaan!  Tariiik pirrr....

Dengan menempuh perjalanan selama kurang lebih dua jam dengan menaiki kendaraan umum, akhirnya tibalah saya ditempat yang dituju. Disambut dengan gapura yang berdiri kokoh dan memiliki unsur ukir yang khas dari budaya Betawi yang bertuliskan “Pintu  Masuk 1 Gang Pitung Perkampungan Budaya Betawi - Setu Babakan

Perjuangan pun tidak berhenti sampai dengan menaiki kendaraan umum selama dua jam saja. Sesampainya di depan gapura saya masih harus berjalan menyusuri dan melewati komplek perumahan yang notabene semua rumahnya memiliki sentuhan gaya rumah khas Betawi, entah itu dari unsur  pagar  maupun atap rumahnya yang terbuat dari kayu ukir. Dan juga tidak lupa, disetiap teras rumah penduduk sekitar juga terdapat beberapa kursi dengan meja ditengahnya mirip seperti yang ada pada rumah  ‘Si Doel” salah satu tontonan televisi, jika kita pernah melihatnya.

“Ini sih biasanya dipake untuk santai, kalo kagak buat ngejamu tamu yang suka dateng sewaktu-waktu”, ujar Jaka, salah satu pemilik rumah bergaya Betawi itu.

Untuk menuju Setu (semacam waduk atau danau), saya masih harus menempuh jalanan kira-kira 100 meter dengan berjalan kaki agar dapat melihat Setu seperti yang disebut-sebut itu. Perjalanan pun dilanjutkan dengan menyusuri jalanan yang cukup mulus dan melewati rumah-rumah yang letaknya berdampingan dan berjajar rapih.

Saya pun disuguhkan dengan pemandangan rumah-rumah mulai dari yang berukuran kecil hingga rumah yang berukuran besar yang telah direnovasi dan sudah bergaya modern akan tetapi tidak dengan meninggalkan unsur budaya Betawinya.

Ditengah perjalanan menuju Setu, saya melihat salah satu sudut lahan komplek berpagar yang masih kosong sedang membangun beberapa rumah khas Betawi yang dibangun dengan ukuran tinggi seperti miniatur rumah adat yang ada di TMII(Taman Mini Indonesia Indah).

Setelah menyusuri jalanan yang  membutuhkan waktu sekitar 15 menit tersebut, tanpa terasa saya sudah berada di depan Setu yang dimaksud. Ya Setu Babakan. Setu yang merupakan danau buatan tersebut mempunyai lebar seluas ± 30 hektar dengan kedalaman mencapai 1 hingga 5 meter.

Setu yang terletak di kawasan Srengseng Sawah, Jagakarsa ini memiliki fungsi juga selain sebagai pusat Perkampungan Budaya Betawi. Tempat ini difungsikan sebagai tempat wisata alternatif bagi masyarakat Jakarta.

Perkampungan Budaya Betawi ini dibangun melalui usul yang dicetuskan oleh tokoh-tokoh Betawi maupun seniman kepada Badan Musyawarah Masyarakat Betawi. Kemudian Badan Musyawarah Masyarakat Betawi mengusulkan ke Pemerintah DKI Jakarta.

Dan akhirnya, pada bulan Oktober tahun 2000 lah pembangunan untuk Perkampungan Budaya Betawi dilaksanakan.  Kemudian  pada tanggal 20 Januari 2001 diresmikan oleh Gubernur DKI Jakarta yaitu Bapak Sutiyoso atau yang lebih akrab dipanggil Bang Yos tersebut.

Setu Babakan yang terhubung dengan Setu Mangga Bolong ini juga telah memiliki UU Perda DKI Jakarta  No.3 Tahun 2005 yang menyebutkan bahwa Perkampungan Budya Betawi adalah suatu kawasan di Jakarta dengan komunitas yang ditumbuh kembangkan budaya Betawi yang meliputi seluruh hasil gagasan dan karya baik fisik maupun non fisik yaitu kesenian, adat isitiadat foklore kesastraan dan kebhasaan, kesejarahan serat berbagai bangunan yang bercirikan kebetawian.

“Sebelum ini dibangun, sebenernya ada lima lokasi yang dijadiin pertimbangan. Itu di kawasan Marunda, Kemayoran, Condet, Srengseng yang di Jakarta Barat sama disini ini.” ujar Indra selaku pengurus kawasan Setu Babakan.

Puas menikmati udara yang masih segar dan tidak berpolusi, saya pun menikmati pemandangan sekitar setu yang masih rindang tersebut karena masih banyak dikelilingi oleh pohon-pohon yang berukuran cukup besar.
Saat mengarahkan pandangan ke berbagai sudut, mata saya pun dikejutkan dengan berbagai macam sepeda dengan bentuk binatang air yang dapat ditumpangi oleh 2 orang saja. Ternyata setu ini juga memanfaatkan tempat untuk menawarkan para pengunjungnya utnuk berwisata air.

Rupanya setu ini memanfaatkan wisata air dengan berbagai macam fasilitas seperti, sepeda air (seperti yang saya lihat), perahu naga, memancing dan olahraga kano.

Selain memiliki beragam khas kesenian dan kuliner, adat Betawi juga  memiliki beberapa tahapan pada proses pernikahan,  jika sepasang kekasih ingin menikah. Pada pernikahan dalam kebudayaan Betawi, terdapat satu macam makanan khas yang tidak boleh tertinggal yaitu, roti buaya yang selalu dibawa pada saat seserahan dimana seorang laki-laki melamar pasangannya. Konon roti buaya tersebut menandakan bahwa calon suami istri tersebut harus bisa setia layaknya buaya dan cukup menikah sekali seumur hidup.

Pada tahap pertama yaitu disebut Ngedelengin atau yang  biasa dikenal dengan Mak Comblang. Tahapan ini memiliki makna yaitu sebelum adanya pernikahan, ada baiknya jika terdapat perkenalan antara keluarga pria dan keluarga satu sama lain. Perkenalan keluarga tersebut tidak terjadi dengan sendirinya melainkan dengan bantuan seseorang yang menjadi Mak Comblang. Mak Comblang akan ikut serta juga saat pihak dari keluarga pria datang kerumah calon wanitanya.

Disini lah Mak Comblang bertugas memberikan uang sembe atau yang biasa dikenal dengan istilah angpao kepada calon istri. Jika telah terdapat persetujuan antara keluarga wanita dan keluarga pria, maka sampailah pada penentuan waktu lamaran. Dalam hal ini, Mak Comblang lah yang mengurus kapan dan apa saja yang menajdi barang bawaan pada saat waktu lamaran.

Kemudian tahap yang selanjutnya adalah tahap kedua. Pada tahap ini terjadilah pihak keluarga pria meminta izin kepada pihak keluarga wanita untuk melamar anaknya tersebut. Di tahap ini juga terdapat persyaratan untuk calon mempelai wanita. Persyaratannya, calon mempelai wanita harus sudah tamat dalam membaca Al-quran. Di tahap ini juga, Mak Comblang tetap hadir serta wakil orangtua dari mempelai pria yang terdiri dari sepasang wakil dari keluarga ibu dan keluarga bapak.

Selanjutnya pada tahap ketiga terdapat tradisi Bawa Tande Putus. Di tahap ini bukan berarti hubungan yang akan dilanjutkan ke acara pernikahan antara pria dan wanita tak jadi. Akan tetapi Tande Putus adalah tahapan dimana mempelai pria memberikan  sebuah barang atau cincin belah rotan sebagai tanda bahwa tidak ada seorang pria manapun yang boleh mengganggu gugat mempelai wanita. Setelah tahap ketiga berakhir, barulah adanya acara Akad Nikah.

Sebelum akad nikah dilaksanakan, mempelai wanita harus “di piare”(di piara). Maksudnya disini adalah mempelai wanita harus dipelihara oleh tukang rias dengan maksud dan tujuan setiap kegiatan atau hal apapun yang dilakukan oleh mempelai wanita dapat terkontrol dengan baik, mulai dari segi kesehatan dan kecantikan menuju acara akad nikah.

Selain itu, ada juga satu acara dimana mempelai wanita dimandikan dengan cara dilulur kemudian acara Tangas atau Kum yang bertujuan untuk membersihkan sisa-sisa lulur dan yang terakhir adalah acara Ngerik atau Malam Pacar dimana mempelai wanita memerahkan kuku tangan dan kaki dengan menggunakan pacar.
Setelah semua acara diatas selesai, barulah dilaksanakannya Akad Nikah. Sebelum memasuki rumah mempelai wanita, ada satu tradisi yang disebut Palang pintu. Tradisi ini merupakan gerakan silat yang dilakukan oleh Bapak dari mempelai wanita dan juga pria.

Baju yang dikenakan pada saat akad nikah pun juga menjadi tradisi . mempelai wanita menggunakan baju kurung yang padukan dengan selendang serta sarung songket. Kemudian kepala mempelai wanita juga dihias dengan sanggul sawi yang di beri lima buah kembang goyang (sesuai dengan nama salah satu kuliner khas Betawi) serta burung Hong. Di dahi mempelai wanita juga terdapat gambar hiasan bulan sabit berwarna merah yang memiliki arti bhawa mempelai wanita masih gadis.

Tak mau  kalah  penampilan juga dengan mempelai wanita, mempelai pria pun juga diharuskan menggunakan baju tradisi yang telah ditentukan seperti memakai Jas Rebet serta bawahan sarung Plakat, hem dan tak lupa hiasan kepala yaitu kopiah. Selain itu, ada juga busana Jubah Arab yang dikenakan saat resepsi berlangsung. Dikenakannya Jubah Arab, baju Gamis dan elendang yang panjang sisinya dari kiri ke kanan memiliki arti tersendiri, yaitu sebuah harapan agar rumah tangga kedua mempelai selalu damai.

Setelah mengitari jalanan yang cukup luas dan lebar disekitar Setu. Disana saya melihat banyak sekali penjual makanan yang sangat berjajar teratur di seberang pinggir Setu. Bukan sembarang makanan ataupun minuman yang mereka jajakan, tetapi makanan dan minuman khas Betawi lah yang akan  mereka tawarkan kepada kita sebagai  pengunjung yang baru datang ke tempat tersebut.

Banyak makanan khas Betawi yang dikenal, tetapi salah satu kuliner yang  paling banyak dicari oleh pengunjung dan telah  menjadi simbol makanan khas betawi setiap tahunnya di salah satu arena yaitu  PRJ adalah Kerak Telor. Asal muasal kerak telor sendiri sudah ada dari zaman Belanda ( saat itu Jakarta masih bernama Batavia). Sudah  tidak perlu ditanyakan lagi bahan utama apa yang dibutuhkan untuk membuat makanan tersebut. Ya, tentunya telor ayam atau bebek, kemudian tidak lupa dicampur dengan nasi ketan dan kelapa parut, karena pada saat itu (zaman Belanda)  kelapa menjadi salah satu komoditi utama. Harga yang ditawarkan pun juga bervariasi.

“Pake telor ayam 12ribu, kalo telor bebek 13ribu neng. Mau pesen yang mana?” ujar Hasan saat menawarkan makanan yang dijajakannya itu.

“Pesen dua ya bang. Pake telor ayam aja deh” jawab saya setelah memutuskan untuk memesan.

Selain kerak telor sebagai makanan khas, ada pula minuman yang juga menjadi khas dari budaya Betawi itu sendiri. Apalagi kalau bukan Bir Pletok. Minuman yang terbuat dari 100 persen bahan alami tersebut dibuat dari Jahe, Cengkeh, Daun Pandan, Secang, Batang Sereh, Gula dan Garam yang dicampur menjadi satu hingga menghasilkan sari (air) saat direbus dan kemudian dikemas dalam botol kaca yang serupa dengan botol sirup.

Sama halnya dengan kuliner, Betawi masih memiliki kesenian yang harus dan perlu dijaga dan dilestarikan hingga saat ini. Di Perkampungan Budaya Betawi ini, terdapat beberapa kegiatan kesenian yang ada dan sering diselenggarakan seperti berbagai macam tarian Betawi, lenong, marawis, dan pencak silat. Kegiatan yang tidak selalu di adakan  namun jika ada, pertunjukan akan diselenggarakan  pada hari Sabtu dan Minggu sini, dilakukan sesuai jadwal yang telah ditentukan sebelumnya.

Pas sekali, saat saya berkunjung ternyata di dinding telah terpampang  jadwal pertunjukan yaitu pertunjukan kesenian Wayang Kulit Betawi. Awalnya saya berpikir bahwa pertunjukan wayang kulit Betawi sama saja dengan wayang kulit Jawa. Namun, yang mebuat kesenian wayang ini berbeda adalah dari segi dalang yang memainkan, tidak terlihat secara visual seperti wayang Jawa pada umumnya. Dan juga bahan wayang yang digunakan pun tidak terbuat dari kulit sapi, tetapi terbuat dari kayu.

Merasa puas telah mengitari seluruh kawasan Perkampungan Budaya Betawi dan mendapatkan informasi tentang Budaya Betawi yang terletak di Jl. Moch Kahfi II, Setu Babakan Kel. Srengseng Sawah, Kec. Jagakarsa, Jakarta Selatan ini, akhirnya saya pun memutuskan  untuk kembali pulang kerumah. 
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                           
Dengan menyusuri jalan perumahan yang mengantarkan saya ke ujung jalan besar, untuk menunggu dan menaiki kendaraan umum yang sama seperti awal pertama datang ke tempat ini. Saya pun merasa senang dan ingin mengunjungi tempat ini lagi suatu hari nanti untuk melihat kesenian dan tradisi Betawi lainnya.


Pasar Lama Kisamaun, Kawasan Murah Meriah

Mendengar kata “wisata kuliner”, pasti akan terbayangkan di benak kita sekumpulan penjual makanan dengan bermacam-macam jenis hidangan. Mulai dari yang goreng, rebus, bakar, basah ataupun kering. Pemandangan inilah yang saya temukan di Pasar Lama Kisamaun, Tangerang. Dengan lokasi yang cukup strategis, tempat ini menjadi favorit warga Tangerang untuk ber-kuliner ria terutama di malam hari.

BENTENGKU KINI


BENTENGKU KINI

Tak ada beda dengan bangunan kuno yang angker. Memasuki kawasan bangunan pagar berkarat, cat bangunan berwarna ungu yang terkelupas, rumput yang tinggi dan tak ada aktivitas pasti apapun di kantor-kantor yang ada dibagian luar banguanan besar yang disebut stadion Benteng ini.

Stadion yang mampu menampung kapasitas 25.000 penonton ini semakin tampak tak terurus jika memasuki pintu masuk stadion. Lantai kotor, tulisan-tulisan ber-pilox di tembok yang kusam dan kotorpun menghiasi sepanjang penglihatan para pengunjung stadion ini. Tempat duduk para pengunjung yang datang untuk mendukung tim kesayangan mereka yang bertanding pun kini sudah dihiasi oleh rumput-rumput yang tumbuh di sela-sela tembok bangku yang juga dipenuhi pilox ulah dari para suporter.
Stadion yang merupakan markas dari dua tim sepak bola besar asal Tangerang yaitu PERSITA dan PERSIKOTA ini sangat tidak terawat. Bahkan ketidakterawatan stadion ini banyak disesali oleh masyarakat Tangerang dan pengurus yang berkantor disana.

Pak Oji. Pria paruh baya yang bekerja di stadion Benteng sejak tahun 1994 ini mengaku sangat kecewa dengan pemerintahan kabupaten Tangerang yang seharusnya membantu dalam membiayai keterawatan stadion kebanggaan kota Tangerang ini.

Bapak enam anak ini bekerja untuk stadion Benteng sebagai tukang cuci baju seragam para pemain.
“Saya kerja dari tahun ’94 disini, jadi tukang cuci seragam pemain yang kalo abis latihan disini. Dulu saya diajak Pak Daeng kerja, saya digaji 25.000 waktu itu,” kenang Pak Oji.
Pak Oji yang saat ditemui sedang memperbaiki arena lompat jauh yang ada dipinggir lapangan bola dalam stadion tersebut adalah seorang Benteng Viola, sebutan untuk suporter tim sepak bola PERSITA.
Kecintaannya kepada tim Viola (sebutan PERSITA) menjadi saksi perkembangan keterawatannya stadion Benteng ini. Pak Oji mengaku bekerja untuk stadion ini dengan ikhlas dan juga karena dia dipercaya oleh salah satu pengurus stadion yang sudah lama ia kenal.

“Saya bisa dibilang dipercaya lah sama Pak Daeng, makanya saya mau bekerja disini. Kalau Pak Daeng minta bantu untuk stadion, ya saya bantu”, terangnya sambil terus menyusun bata dan menimpanya dengan semen.

Dalam membantu mengurus stadion, Pak Oji mengalami naik turun upah yang didapat hingga sampai hari ini ia tidak digaji sama sekali.

“Dulu sempat digaji 500 ribu, 1,5 juta, 1 juta terus turun lagi ke 500 ribu. Tapi sekarang, yaa saya tidak dapat gaji lagi,” kenang bapak yang memiliki tiga anak yang masih sekolah ini.

Masalah keuangan sering ia alami dalam menghidupi keluarganya sehari-hari. Ia sempat kebingungan saat anak ketiganya terkena tunggakan keuangan sekolah hingga 700ribu sedangkan dirinya sedang tidak ada kerjaan yang menghasilkan saat itu. Juga beberapa waktu yang lalu istrinya sempat sakit dan ia butuh dana untuk pengobatan istrinya, “Saya sempat minta kasbon untuk biaya pengobatan tapi nggak dapet”.
Perhatian pemerintah kabupaten Tangerang terhadap stadion Benteng dan pengurusnya mustinya lebih memberikan yang terbaik demi kesejahteraan stadion yang menjadi saksi sejarah pemekaran daerah Tangerang pada tahun 1993. Perhatian terhadap stadion yang beralamat di Jalan TMP Taruna, Kecamatan Karawaci, Kota Tangerang ini, justru didapat dari pemerintah walikota Tangerang, Wahidin Halim.

Dikutip dari Sindonews.com, 6 Maret 2013, Ia geram dan hanya tidak ingin melihat kondisi Kota Tangerang yang saat ini sudah bersih menjadi terganggu karena adanya aset Pemerintah Kabupaten yang dikenal sebagai kota Adipura sejak meraih piala tersebut pada 2010 – 2012 ini menjadi terlantarkan.
“Ini merupakan aset Kabupaten Tangerang, tapi tidak terurus. Semua aset kabupaten disini tidak terurus. Kalau tidak sanggup, biar saya yang urus,” kata Wahidin saat berada di Stadion Benteng, Tangerang. 
Wahidin mengerahkan pasukan kuning (petugas kebersihan) dari Dinas Kebersihan dan Pertamanan (DKP) dan Satpol PP Kota Tangerang untuk membersihkan stadion Benteng. Tindakannya mengirim pasukan kuning untuk membersihkan stadion Benteng bukan maksud untuk mengambil alih stadion ini dari pemerintahan kabupaten tapi karena geram untuk membersihkan karena tidak terurus.
Namun, setelah dilakukan verivikasi, Apakah ada pasukan kuning kiriman dari walikota Tangerang yang membantu untuk membersihkan stadion ini? Pak Oji menjawab, “Tidak ada yang datang, yaa kayak yang dilihat sekarang, stadion ini begini-begini saja. Dan stadion ini kan tanggung jawab kabupaten bukan walikota.”
Sejak tidak PERSITA dan PERSIKOTA Tangerang masuk dalam Liga Super Indonesia(LSI), mereka jarang menggunakan stadion Benteng untuk pertandingan dikarenakan stadion ini tidak memenuhi standar LSI dan sering terjadinya adu suporter yang menyebabkan kerusuhan.
Adu suporter para pendukung yang bertanding sering menimbulkan kerusuhan bahkan pernah menyebabkan seseorang meninggal akibat penyerangan kasar suporter. Salah seorang warga Tangerang, Syahrul, menceritakan salah seorang teman sekolahnya pernah menjadi korban jiwa saat pertandingan di stadion Benteng sekitar tahun 2007/2008.
“Temen saya itu pertama kali nonton bola di stadion itu, dan pas ada kerusuhan suporter dia lari panik dan dia kabur naik ke salah satu angkot yang melintas. Ada suporter lawan yang melihat dia kabur ke angkot terus menariknya keluar dan dia digebukin. Kondisi dia kritis selama tiga hari di Rumah Sakit dan tak lama itu meninggal,” kenangnya.
“Dia dikejar superter lawan soalnya dia pakai jersey dari PERSITA,” lanjutnya.
Alasan keamanan pertandingan dan pasca pertandingan juga menjadi alasan tidak lagi diselenggaraknnya pertandingan besar di stadion Benteng. Namun, stadion tersebut masih digunakan untuk para pemain yang melakukan latihan, untuk SSB (sekolah sepak bola) yang bernaung disitu, PERSITA U-21, dan pertandingan acara luar seperti DANONE CUP yang melakukan babak kualifikasi untuk regional Tangerang di stadion Benteng.
“Sebenarnya untuk pertandingan stadion ini masih bisa dipakai, hanya saja yang dijkhawatirkan adalah suporternya. Karena gak jarang disini masalah datang dari suporternya bukan dari tim yang bertanding,” ujar Pak Daeng saat ditemui di kantor sekretariat.
Tim PERSITA dan PERSIKOTA memang sudah tidak rutin lagi menggunakan stadion Benteng sebagai markas lagi. Kini PERSITA memiliki markas sementara di daerah Kuningan, Jawa Barat sedangkan PERSIKOTA hanya beberapa kali saja.
Pemerintah Kabupaten Tangerang akan membangun stadion sebagai ganti dari stadion Benteng yang berencana akan membangun stadion baru untuk PERSITA dengan memilih lokasi di kelurahan Bojongnangka, kecamatan Pagedangan. Stadion baru untuk PERSITA diperkirakan akan rampung pada tahun 2014.
Stadion yang berpijak ditanah seluas 44.000 m2 ini berkantor tiga kantor sekretariat yaitu kantor sekretariat PERSITA, PERSIKOTA dan kantor Pengurus Cabang PSSI. Keberadaan kantor Pengurus Cabang PSSI di Stadion Benteng tak tampak memberikan perhatian terhadap keterawatan stadion Benteng. Keberadaan kantor PENGCAB PSSI disana seharusnya menjadi gertakan bagi pemerintah kabupaten Tangerang untuk segera merenovasi atau memberikan perhatian lebih kepada stadion menjadi  yang lebih layak lagi dan sesuai standar Liga Super Indonesia agar tim-tim besar Indonesia seperti PERSITA dan PERSIKOTA dapat kembali bertanding di Stadion Benteng.
Selain itu, ada kantor cabang KONI (Komite Olahraga Nasional Indonesia) dan beberapa kantor pengurus juga yang berada disana. Tapi tak tampak ada kegiatan atau aktivitas kantor yang ada disana. Ruang-ruang yang disebut kantor terlihat hanya ruangan kotor, bahkan salah satu kantor yang kosong terlihat seperti penjara. Dengan pagar teralis hitam dan lantai ubin keramik yang kotor di dalamnya tanpa furniture kantor yang ada.
Stadion yang diresmikan oleh Gubernur Kepala Daerah Tingkat 1, H.R. Moh. Yogie S.M pada 11 Januari 1989 ini kini lebih dikenal sebagai ‘kandang kambing’ karena rumput ilalang yang tinggi tumbuh disekitar stadion. Disekeliling stadion juga sudah menjadi tempat tinggal bagi pengurus stadion seperti Pak Oji dan keluarga. Bahkan Pak Oji juga membuka warung kopi di depan ruangan yang ia dan keluarga sebut tempat tinggal. Warung yang dijaga oleh anak kedua Pak Oji tersebut merupakan salah satu tambahan untuk membiayai keuangan sehari-hari apabila tidak ada pekerjaan yang diberikan kepadanya dari pengelola stadion Benteng.
Bukan hanya Pak Oji dan keluarga saja yang tinggal disitu, bahkan ada pemulung yang saat siang itu sedang tertidur pulas dengan hanya beralaskan kardus bekas yang terhampar  bersama tumpukan botol-botol bekas disampingnya. Pemandangan tersebut terlihat di lantai-lantai teras bagian kanan stadion.
Sebenarnya, Stadion Benteng memiliki lokasi yang strategis di tengah kota Tangerang. Berada di daerah pemerintahan kota yang dijadikan paru-paru kota Tangerang, Satadion Benteng memiliki pemandangan indah jika dari dalam stadion terlihat kubah masjid indah dari Masjid Raya Al-Azhom, masjid yang berada berhadapan dengan gedung Pemerintah Kota dan DPRD kota Tangerang. Pohon – pohon yang rindang dan asri pun tumbuh disekitar Stadion. Untuk masyarakat yang ingin bertandang ke stadion pun sudah stratergi dengan angkutan umum yang banyak lalu-lalang disana. Hanya disayangkan pemandangan tak elok diantara bangunan pemerintahan daerah yang asri tersebut datang dari bangunan dari olah raga yang paling digemari di Indonesia, sepak bola, dari Stadion Benteng yang terlihat seperti banguan tua yang tak terurus. Bahkan mungkin orang yang baru melewati stadion itu tidak tahu kalau itu adalah sebuah Stadion kebanggan kota Tangerang dan markas dari dua tim sepak bola besar di Indonesia, PERSITA dan PERSIKOTA. Pemandangan itu akan terlihat lebih indah lagi jika didukung dengan kondisi lapangan yang juga bersih dan terawat. Agar setiap orang yang melewati daerah sekitar Tangerang kota tersebut melihat kelengkapan indahnya daerah itu.
Masih banyak harapan yang datang dari fans tim PERSIKOTA dan PERSITA Tangerang serta masyarakat yang ada di Tangerang untuk melihat Stadion Benteng yang rapi, terawat dan bersih. Hal tersebut dapat terwujud apabila pemerintah kabupaten kota Tangerang segera mungkin untuk memperbaiki kelayakan Stadion Benteng agar masyarakat Tangerang bisa menikmati tim kesayangan mereka bertanding disana dan menjadi kembali sebagai Stadion kebanggan kota Tangerang. Dalam hal ini selain dapat memuaskan keinginan masyarakat kota Tangerang dan para pecinta sepak bola juga dapat memperbaiki citra pemerintahan kabupaten kota Tangerang yang diniai lamban dalam menangani perawatan Stadion Benteng ini. Tindakan pemerintah Kabupaten Kota Tangerang untuk Stadion Benteng juga akan membawa kebanggan untuk kota dan masyarakat Kota Tangerang.


*Tulisan ini diperuntukan untuk pengambilan nilai UAS mata kuliah Penulisan Feature*
Salam 

RIMA WAHYUNINGRUM

Murah Diantara yang Mewah

“Mbak, coba liat yang itu dong!” perintah seorang laki-laki berambut klimis kepada seorang wanita berbadan cukup gemuk. Laki-laki itu menunjuk sebuah boneka teddy bear berwarna merah muda yang ukurannya begitu besar. “Berapa mbak?” tanya laki-laki itu sambil menyeka keringat didahinya. “Seratus tujuh lima, mas,” jawab penjual boneka tersebut sambil memberikan teddy bear raksasa itu kepada calon pembelinya itu.

Aksi tawar menawar pun dimulai. Seperti dua orang yang sedang bermain bulutangkis, melempar kok kesana kemari menggunakan raket, demikian penjual dan calon pembeli ini. Mereka berdua saling melempar harga, keduanya tak ada yang mau kalah. “Seratus ribu?” tawar laki-laki itu. “Seratus lima puluh deh,” si penjual kembali menaikan harga. Hampir lima menit, mereka berkutat dengan adegan tawar menawar yang tak kunjung usai, sampai akhirnya calon pembeli itu benar-benar hanya menjadi calon pembeli, alias tidak jadi membeli.

Tempat ini memang sudah menjadi pusat mainan anak murah dan meriah di Jakarta sejak tahun 1990. Karena kawasan ini bukan terdiri dari kios mainan dengan bangunan bagus, berpendingin ruangan, dan dengan label harga yang sudah digantung disetiap mainan, adegan tawar menawar harga selalu terjadi antar penjual dan calon pembeli.

Pasar Gembrong, ya, itu dia nama tempat yang menjadi pusat mainan murah di Jakarta setelah Pasar Asemka dan Pasar Tanah Abang. Dari mana nama gembrong berasal, tidak ada satupun yang tahu. Nama pasar ini sebenarnya adalah Pasar Prumpung karena letaknya memang berada di JL. Basuki Rachmat, Prumpung, Jakarta Timur. Pasar yang usianya sudah puluhan tahun ini bisa dibilang terletak didekat kawasan elit ambassador sampai cassablanca.

Awalnya, pasar ini tidak menghadirkan banyak kios-kios mainan, melainkan seperti pasar tradisional pada umumnya yang menjual aneka bahan-bahan pokok seperti sayur mayur, ikan, ayam, dan kebutuhan pokok lainnya. Bisa dihitung dengan jari berapa banyaknya pedagang yang menjajakan mainan-mainan anak.

Tetapi semuanya berubah sejak pemerintah DKI Jakarta memutuskan untuk membangun jalan baru dari Casablanca menuju ke Pondok Kopi. Pedagang-pedagang bahan-bahan pokok di wilayah itu harus rela pergi digusur untuk kepentingan pembangunan jalan. Saat jalanan Casablanca-Pondok Kopi jadi, satu persatu penduduk membangun kios-kios semi permanen di tepi jalan baru tersebut, namun mereka yang tadinya menjual sayur mayur dan aneka kebutuhan pokok itu beralih menjadi penjual mainan anak-anak. Stok mainan anak-anak didapatkan para penjual mula-mula dari Pasar Asemka dan Tanah Abang.

Seiring berjalannya waktu dan semakin padatnya kawasan Casablanca, Pasar Gembrong ikut berkembang dengan sangat pesat. Bangunan-bangunan semi permanen yang menjual beragam mainan anak semakin banyak berdiri berjejer disepanjang jalan Basuki Rachmat. Hingga kini, Pasar Gembrong menjadi pusat mainan nomor satu di Jakarta mengalahkan Asemka dan Pasar Tanah Abang, meski awalnya kedua pasar tersebut adalah tempat para pedagang di Pasar Gembrong mencari aneka mainan untuk dijual kembali.

Sekarang ini, disepanjang Jalan Basuki Rachmat benar-benar sudah dipadati oleh pedagang mainan. Display mainan yang akan dijual sudah seperti tumpah-tumpah ke jalan melebihi kapasitas kios sehingga mengambil porsi trotoar untuk pejalan kaki. Bahkan sampai ada lapak-lapak yang seperti terjun bebas ke pinggir jalan.
Sore itu hujan turun cukup deras, berbanding lurus dengan pengunjung yang juga tetap deras mengunjungi pasar gembrong. Anak-anak yang rata-rata berusia sekitar 10 tahunan tampak sibuk menawari payung berukuran besar kepada ibu-ibu yang baru saja keluar dari mobil yang diparkirkannya dipinggir jalan. Rupanya, hujan sore itu tidak menghalangi pembeli yang kebanyakan adalah ibu-ibu untuk tetap berbelanja atau sekedar mencuci mata di Pasar Gembrong.

Saya menyusuri trotoar disepanjang kios-kios mainan di Pasar Gembrong berdiri. Agak kesulitan berjalan disini. Agak kesulitan memang berjalan di trotoar ini, maklum, para pedagang menaruh etalase atau meja untuk menjajakan dagangan mereka sampai meluap ke trotoar, memakan setengah bagian trotoar. Bahkan beberapa kios sampai membabat habis trotoar di depan kios mereka, sehingga saya harus sesekali turun ke jalanan, itupun saya masih harus berjuang, karena di pinggir jalanpun tidak sedikit pedagang yang membuka lapak. Berjalan berdesak-desakan dengan penjual dan pengunjung lainnya, saking terlalu sempitnya tempat untuk berjalan, saya dan beberapa pengunjung didepan saya sesekali menjatuhkan satu dua mainan yang ditumpuk sampai tingginya hampir sepinggang orang dewasa.

Sebuah kios menarik perhatian saya karena kios yang satu ini tidak terdiri dari berbagai jenis mainan, melainkan hanya menyediakan boneka. Aneka boneka ada di sini, mulai dari ukuran yang paling kecil, sampai yang sangat besar. Dari paling depan, boneka-boneka kecil tampak dalam etalase kaca dan saat saya masuk ke dalam kios, WAW....... boneka-boneka seukuran badan saya ada di dalam, rapih terbungkus plastik bening.

Tidak terlihat papan nama kios ini di bagian depan kios ini saat saya masuk tadi, ternyata benar kata Ibu Farida, penjaga kios ini yang baru memulai pekerjaannya sejak lima tahun terakhir.

“Bos saye gak ngasih nama tokonya, kaga penting katanya mah,” ujar Ibu Farida dengan logat Betawi.
Ibu Farida memang baru lima tahun menjaga kios tanpa nama ini, namun kios berukuran 3x3 meter ini sudah berdiri kokoh menjual bermacam-macam boneka sudah sejak 27 tahun yang lalu.

“Saye Cuma jaga tapi tahu ceritanye lumayan, bosnya masih sodara saye. Bos saye orang Arab tapi udah lama tinggal di Jakarta,” cerita bu Farida yang ternyata juga keturunan Arab tapi sangat lihai berbicara memakai logat Betawi ini.

Menengok keadaan kios yang semi permanen dan bisa dibilang sempit dan seadanya, sayapun bertanya kepada Ibu Farida, “Kios-kios di Pasar Gembrong ini tuh sebenernya sah gak sih, bu?”

“Sah kok, suratnya ada. Yang gak sah itu yang buka-buka lapak di pinggir jalanan noh, itu udah sering diamanin sama petugas kantib, nanti kalo petugas kantib udah dateng nah mereka ribet dah tuh mindahin lapak ke trotoar depan kios-kios yang sah ini, biar dikira masih bagian dari kios,” ungkap Ibu Farida.

Ibu Farida mengatakan, bahwa sebenarnya untuk keamanan dan kenyaman bersama, pemerintah DKI Jakarta sudah membangun bangunan modern dan permanen yang berisi kios-kios lebih layak untuk para pedagang, dengan harga sewa sama dan letaknya masih di pinggir Jalan Basuki Rachmat. Awal-awal bangunan permanen itu didirikan, banyak pedagang yang pindah kios kesana, namun sepi, calon pembeli malah mendatangi lokasi yang lama, jadilah Pasar Gembrong yang permanen itu sepi ditinggal pedagang yang memilih untuk kembali berjualan di kios semi permanen mereka.

Kios boneka tanpa nama ini diakui Ibu Farida selalu ramai didatangi pembeli dari berbagai kalangan. Mulai dari mahasiswa, ibu rumah tangga, pelaut, bahkan sampai artis pun ada yang menjadi langganan tetap kios yang dijaganya.

“Dony Kusuma noh dek, dateng tiap hari Selasa kesini, borong boneka buat anaknya kali ya, ganteng bener dek, putih,” cerita Ibu Farida yang membakar rokok. “Sama si itu si siapa itu penyanyi dangdut tuh lupa dah Ibu,” tambah Ibu Farida yang sudah berusia 45 tahun ini. “Cici Paramida,” sahut Mbak Della, anak Ibu Farida yang menemani menjaga kios.

Ibu Farida dan Della mengaku tidak pernah gerogi walaupun kiosnya sering didatangi artis-artis, “Sama-sama manusia sama-sama makan nasi kok, dek, stay cool aje,” ujar Ibu Farida yang ternyata selalu menolak diwawancarai oleh media-media televisi.

Keunikan Pasar Gembrong memang selalu menarik banyak media-media untuk meliput kawasan ini, apalagi media televisi. “Waktu itu ada JakTV, MetroTV, sama TransTV. Tadi siang juga ada tuh tapi saya gak mau masuk tipi, malu, jadinya si Della deh yang ditanya-tanya,” ungkap Ibu Farida

“Ada pelaut juga tinggal di Makasar, tiap 6 bulan sekali kesini, borong boneka belanjanya sampe jutaan, buat dijual lagi katanya, di sana susah boneka sama mainan,” cerita Ibu Farida sambil menghisap rokoknya.
Memang, karena Pasar Gembrong memang terkenal menjual mainan murah dengan kualitas bagus, banyak artis berdatangan ke sini untuk memborong beragam mainan. Di Pasar Gembrong, kita bisa mendapatkan mainan seperti yang ada di mall-mall dengan harga dua kali lebih murah. Misalnya, boneka tedy bear berukuran sangat besar, dipatok Ibu Farida dengan harga Rp 175.000,00- dan masih bisa ditawar, sedangkan dengan barang yang sama tetapi sudah dijual di toko yang ada di mall, harganya bisa mencapai Rp 300.000,00-

“Boneka-boneka yang di jual di mall tuh, sering ngambil di sini, kalo belanja ampe pake karung saking banyaknya. Ada tuh toko boneka di daerah Karawaci sebulan sekali kesini ambil stock barang,” jelas Ibu Farida.

Harga boneka di kios ini dipatok mulai dari harga Rp 35.000,00- sampai paling mahal Rp 250.000,00 dan itu semua masih bisa ditawar.

“Kadang ada yang nawar harganya kelewatan, masa boneka Rp 150.000,00- ditawar jadi Rp 50.000,00- kan sakit hati juga saya,” keluh Ibu Farida sambil geleng-geleng kepala.

Kios yang buka pukul 09.00 WIB dan tutup pukul 17.00 WIB ini paling sedikit menghasilkan Rp 3.000.000,00- per harinya, itu hari biasa, jika weekend tiba bisa dua bahkan tiga kali lipatnya.

“Kalo weekend noh ya dek, suka sampe puyeng kepala, rame bener manusia yang dateng kesini. Kadang sampe ketuker-tuker ngasih harga barang, yang murah jadi mahal yang maha jadi murah,” kata Ibu Farida sambil mengepulkan asap rokok ke arah atas.

Saking ramainya pengunjung saat weekend, ternyata kios ini pernah mengalami kerugian hingga Rp 7.000.000,00- di suatu hari sabtu sekitar dua tahun yang lalu. Waktu itu, kios ini diakui Ibu Farida belum mempunyai etalase kaca, jadi dibagian depan toko hanya ada meja untuk memajang banyak boneka.

“Kita gak sadar keilangan barang, tiba-tiba pas mau tutup lagi ngepak-ngepak barang eh kok banyak yang ilang, ternyata yang jaga kios sebelah cerita kalo pas siang barang-barang banyak yang jatoh ke trotoar terus diambil-ambilin orang-orang,” cerita Della yang diwajahnya masih tergores raut kesal mengingat kejadian itu.
Memang, boneka di kios ini sangat banyak, rata-rata adalah aseli buatan pabrik Indonesia, pabrik rumahan, namun ada juga beberapa yang di import dari luar negeri.  Saking banyaknya boneka di kiosnya, Ibu Farida tidak hafal nama-nama boneka yang dia jual. Saya saja hendak membeli boneka karakter dari Jepang, Domo Kun, tapi Ibu Farida malah memberi saya boneka karakter cookie monster dari sesame street.

“Begitu tuh si Ibu suka salah dan sok tahu, kadang malu harus berantem di depan pelanggan buat nyariin boneka pesenannya,” ujar Della. Della mengaku lebih banyak tahu tentang nama-nama karakter boneka yang dijualnya, “Saya sering cari tahu nama-namanya lewat internet,” kata Della.

Ibu Eni, salah satu pelanggan di kios boneka yang dijaga Ibu Farida dan Della ini mengaku tidak pernah merasa kecewa dengan barang-barang yang dibelinya. “Saya puas setiap beli di sini, selain beli boneka, biasanya saya belanja ke kios Kawan Lama, kalau disitu dia gak jual boneka, jualnya mainan. Disana lebih modern aja bayarnya bisa pake kartu kredit,” ujar Ibu Eni yang tinggal di Kota Bogor ini. “Kalau ngeluh, paling masalah parkir aja,” keluhnya.

Sore itu jam sudah menunjukkan pukul 18.00, tetapi kios boneka yang seharusnya sudah tutup ini belum juga tutup karena hujan masih turun dengan setia. Pembelipun juga masih setia membeli boneka-boneka di sini meski hujan mengguyur dan tidak ada kenyamanan sama sekali.

Berdoa, Berwisata, dan Berbuat Baik di Boen San Bio







Arahang sammâ Sambuddho Bhagavâ. Imehi sakkarehi tang Bhagavantang abhipujayama.
Svâkhâto Bhagavatâ Dhamma. Imehi sakkarehi tang Dhammang abhipujâyama.
Supatipanno Bhagavato sâvâakâ sangho. Imehi sakkarehi tang Sanghang abhipujâyama.


Pemimpin kebaktian memulai ibadat di Ruang Dhammasala, Vihara Boen San Bio. Sembari mengucapkan serentetan doa, merek meletakkan tangan di dahi, lalu diturunkan sedada. Mereka pun ber-namaskara (duduk bersila) sambil mengikuti pemimpin kebaktian.

Setiap minggunya, umat datang rutin untuk mengikuti kebaktian yang diadakan seksi kerohanian. Sebelum memasuki Ruang Dhammasala, patung Dewi Kwan Im Pouw Sat setinggi tiga meter menyambut. Saat memasuki ruang kebaktian, terpampang patung Buddha di altar depan dengan tinggi yang sama. Mereka yang menganut ajaran Theravada ini pun membaca buku Parita Suci sambil memanjatkan doa kembali.

Namo tassa bhagavato arahato samma sambuddhassa. Pujilah Sang Bhagava, Sang Buddha yang telah mencapai penerangan dan Kebijaksanaan Sempurna. Namo sabbe Bodhisattaya – Mahasattya. Pujilah para Bodhisatva – Mahasatva, mahkluk-mahkluk suci nan luhur budinya.

Dapat kita hirup bau hio yang menusuk hidung. Mata pun ikut terasa pedih karena aspanya. Suasana yang khusyuk saat membacakan doa-doa membuat seluruh umat yang hadir lebih berkonsentrasi.

“Kalau kebaktian, biasanya membaca Parita, mendengarkan dhama (khotbah), dan ber-dharma gita,” ujar Albert, staff tata usaha yang sehari-harinya mengurusi operasional vihara.

Selain ruang kebaktian, kita bisa melihat berbagai keunikan dan ciri khas lain di tempat ibadah ini. Salah satunya, pada bagian atap bangunan utama tampak sepasang burung fenghuang (burung phoenix) dengan sebutir mutiara di tengah-tengahnya. Lalu, ketika memasuki vihara yang dibangun oleh Lim Tau Koen pada 1689 ini, ratusan lampion merah tergantung rapi di atap-atap. Di bawahnya, terdapat sebuah nama pada masing-masing lampion. Hal ini menandakan suatu perwujudan doa manusia agar doanya dapat dikabulkan oleh Sang Buddha.

Di halaman depan, terdapat thian sin lo terbesar di Indonesia. Dengan berat 4.888 kg, tinggi 120 cm, dan diameter 150 cm, tempat menaruh hio atau dupa ini mendapatkan rekor dari Museum Rekor Indonesia (MURI). Thian sin lo ini terbuat dari batu onix, sejenis marmer yang berasal dari Poso, Sulawesi. Tak hanya tempat hio ini saja yang terbuat dari batu onix, tetapi juga seluruh patung yang terdapat di Vihara Boen San Bio ini. Hal ini supaya patung-patung tersebut terlihat lebih megah dan apabila terjadi kebakaran, tidak akan hancur.

Boen San Bio yang didominasi warna merah, kuning, dan biru ini memiliki arti kebajikan setinggi gunung. Hal ini tercermin dari bangunan yang menjulang tinggi dengan pagoda-pagoda di atasnya. Bahkan, terdapat beberapa candi menghiasi atap Ruang Dhammasala. Nuansa rohani memang begitu lekat pada vihara yang terletak di Pasar Baru, Tangerang ini.

Selain menyembah Sang Buddha, umat juga menyembah Dewa Bumi, Kong Co. Ia adalah seorang yang tua, berambut dan berjenggot putih panjang, wajah tersenyum ramah. Dewa yang juga disebut sebagai Dewa Hok Tek Tjeng Sin ini terletak di altar utama karena merupakan dewa tertua yang sangat dipercayai masyarakat China. Total, ada 16 altar di mana umat Buddha bersembahyang. Setiap altar diberi nomor urut agar umat tidak bingung ketika membawa hio mereka dari altar satu ke altar lain, berdoa kepada dewa-dewa di sana. Sam Kai Kong, Bie Lek Hud, Jie Lay Hud, Kwan Im Hud Cow, Co Shu Kong, Pek How Pek Coa, Kwee Sheng Ong, Kwen Tek Kum, dan Pat Sien Kwe Hay.

Vihara yang buka pada pukul 7 pagi hingga 12 malam ini nyatanya juga terkenal akan keindahannya sebagai tempat wisata.

“Banyak yang berkunjung kalau ada perayaan. Se-Jabodetabek. Ada juga yang dari luar negeri, datang untuk foto-foto,” tukas Albert yang sudah bekerja selama 15 tahun di vihara ini.

Taman yang terdapat di tengah vihara biasa digunakan umat untuk bersantai atau mengobrol. Bahkan, tak jarang calon pengantin yang memanfaatkan keindahannya guna melakukan sesi foto untuk pre-wedding.  Tak disangka, taman ini menyatukan unsur air, api, tanah, dan udara menjadi satu.

Ketika berkeliling vihara, pada bagian belakang dapat kita temukan Sumur Sumber Rezeki. Sumur ini dikelilingi oleh 8 pancuran air yang mengelilingi sumber air. Dulu, sumur ini dimanfaatkan warga sekitar untuk minum dan keperluan lainnya. Meski musim kemarau tiba, airnya tidak pernah berhenti mengalir. Uniknya, banyak umat yang percaya kalau sumur ini dapat memberikan keberuntungan bagi siapa saja yang meminumnya. Saya ingin sekali mencobanya, sayang saya tidak mengerti bagaimana tata cara sembahyang umat Buddha.

Keajaiban lain yang pernah terjadi di Vihara Boen San Bio adalah adanya bola api yang melayang-layang sekitar 1995-an. Dulu, Ruang Dhammasala merupakan sebuah gudang. Tak disangka, beberapa orang pernah melihat penampakan seekor ular besar berwarna putih. Sebelum gudang itu hendak direnovasi, para pengurus vihara mengadakan upacara sembahyang untuk mengusir si “penunggu”. Cuaca hari itu cerah. Namun, tiba-tiba terdengar suara petir menggelegar.... DHUUUARRR!!!

Mistisnya, seketika petir itu berubah menjadi bola api yang terbang ke sana kemari, memasukki ruang-ruang suci vihara, lalu keluar lagi. Bahkan, bola api itu membelah sebuah pohon menjadi dua. Singkat cerita, petir itu dipercaya merupakan kiriman dari Kong Co untuk mengusir si ular putih agar tak mengganggu lagi.

Di sudut lain, ada makam Mbah Raden Surja Kentjana di dalam vihara ini. Dulunya, ia adalah bangsawan dari Kerajaan Banten. Makamnya yang semula berada di dekat Sungai Cisadane, kini dipindahkan ke Vihara Boen San Bio guna dirawat. Tak heran, banyak umat –terutama umat Muslim- yang datang untuk berziarah. Itulah mengapa tempat suci ini sering disebut klenteng kepercayaan.

Tak hanya sekadar untuk bersembahyang atau berwisata, lebih dari itu, kita bisa mengetahui bagaimana ajaran-ajaran baik Sang Buddha. Ajaran-Nya dipercaya dapat menjadi arahan bagi manusia menuju perdamaian dunia dengan semboyan suci, yakni cinta kasih dan kasih sayang. Ajaran yang universal ini juga mengenalkan kita pada hukum karma.

“Sesuai dengan benih yang ditanam, itulah buah yang akan Anda peroleh. Perilaku kebaikan akan menuai kebaikan. Pelaku keburukan, memperoleh keburukan. Jika Anda menanamkan benih yang baik, maka Anda akan menikmati buah yang baik pula.”

– Samyutta Nikaya Vol. I, P.227.



Sabda sang Buddha senantiasa mengingatkan kita agar dapat melakukan perbuatan mulia, contohnya dengan memberikan sumbangan dalam rangka aksi sosial. Vihara Boen San Bio sendiri pun pernah melakukan bakti sosial dengan membagikan beras dan sembako untuk warga sekitar yang membutuhkan.

Tidak ada salahnya bukan kalau kita berkunjung ke Vihara Boen San Bio sambil berdoa, berwisata, dan berbuat baik?

Sabbe Satta Bhavantu Sukhitatta.
Sadhu! Sadhu! Sadhu!




Oleh Sintia Astarina - 11140110048
Tugas Mata Kuliah Penulisan Feature
www.sintia-astarina.blogspot.com

Wednesday, June 12, 2013

Yudha Brama Jaya



“Unit 65 dipanaskan! Unit 65!”, ujar laki-laki berkulit sawo matang itu.
“Unit 65, Pak?” Tanya saya kebingungan.
“Iya, 65 itu kode untuk kebakaran. Kalau 66 untuk banjir.”
“Setelah itu disebutkan alamat lokasi kejadian dan ada bunyi sirene panjang. Nguuuunngggg...,” tambahnya memperagakan bunyi sirene jika ada pelaporan kebakaran oleh masyarakat. Laki-laki itu adalah Boediono. Kepala Seksi Kecamatan Cakung ini sudah 15 tahun bekerja di Suku Dinas Pemadam Kebakaran dan Penanggulangan Bencana, Kota Administrasi Jakarta Timur.
Jalan Matraman Raya tidak begitu macet siang itu. Pukul sebelas siang di hari Selasa, memungkinkan masyarakat Jakarta sedang melangsungkan akrivitas bekerjanya. Lewat kaca mobil di sebelah kiri saya, mobil-mobil besar yang dominan berwarna merah itu, diparkir rapi walaupun ada beberapa motor para pemadam kebakaran berada di depan mobil-mobil tersebut. Kantor Pemadam Kebakaran di wilayah Jakarta Timur ini sebenarnya terletak di samping sekat-sekat tempat mobil pemadam kebakaran diparkir. Hanya ada dua warna yang menghiasi tembok-tembok sepanjang gedung itu. Warna merah dan biru. “Semua kantor pemadam kebakaran pasti menggunakan warna yang sama,” jelas Boediono sambil meminum kopi hitamnya.
Warna merah melambangkan keberanian atau semangat yang membara, sedangkan biru melambangkan kesetiaan. Dua warna ini juga terlihat pada logo Asosiasi Pemadam Kebakaran Indonesia yang bisa ditemukan ketika Anda berada di area tempat parkir mobil pemadam kebakaran, yang terletak di dekat tiang bendera atau di setiap pintu mobil pemadam kebakaran jenis apapun. Lima kelopak Bunga Wijaya, dua tangkai 19 lidah api, air, selang, kampak, helm menjadi sebuah kesatuan logo dengan dibawahnya persis tertulis, “YUDHA BRAMA JAYA”, yang berarti kemenangan dan keberhasilan dalam perang melawan kebakaran.
Untuk pemadam kebakaran sendiri sebenarnya sudah dibentuk pada tahun 1873 pada zaman Hindia Belanda. Peraturan tentang kebakaran sendiri atau yang dikenal dalam bahasa Belanda, Reglement of de Brandweer sudah dikeluarkan pada tanggal 25 Januari 1915. Inilah mengapa pada zaman dahulu, biasanya pemadam kebakaran dipanggil dengan sebutan Brandweer. Selain itu, tanggal 1 Maret 1929 juga menjadi momen penting. Tanda penghargaan dalam bentuk prasasti diserahkan kepada Brandweer Batavia karena sudah menjalankan tugasnya sebagai pemadam kebakaran. Prasasti ini sampai sekarang tersimpan di kantor Dinas Pemadam Kebakaran, Ketapang, Jakarta Pusat. Barulah pada tahun 1969, nama Dinas Pemadam Kebakaran dipakai.
Untuk kantor utama di Jakarta Timur ini tidak terlihat seperti kantor-kantor pada umumnya. Dua lemari pendek yang terbuat dari kayu masing-masing satu di sebelah kiri pintu dan di sebelah kanan pintu. Berkas-berkas dokumen berada di atas lemari kayu di sebelah kiri, sedangkan helm berwarna hitam ditaruh di atas lemari sebelah kanan. Poster film “Si Jago Merah” yang salah satunya dibintangi oleh Ringgo Agus Rahman, terpampang di tembok berwarna putih tersebut. Dua komputer masing-masing berwarna hitam dan putih juga sudah tidak digunakan. Hanya meja hitam dan sebuah asbak menjadi “teman” bagi para petugas untuk bercerita satu sama lain,berbagai pengalaman mereka.
“Waktu kebakaran di Bursa Efek Jakarta, saya ikut menangani,” kata Boediono. Sampai di sana, banyak orang di luar,” lanjutnya lagi. Bom yang terjadi pada tanggal 13 September 2000 itu menewaskan 15 orang, sepuluh di antaranya karena kesulitan bernapas. “Saya sempat takut juga karena penyebab kebakaran adalah bom,” kata laki-laki lulusan Intitut Pertanian Bogor ini. “Bisa saja ada bahan kimia yang berbahaya,” tambah laki-laki yang orang tuanya  juga seorang pemadam kebakaran.
“Saya juga pernah menyelamatkan seseorang yang terjatuh di sumur.” Di dalam sumur bisa saja tidak adanya oksigen, sehingga masyarakat dihimbau untuk tidak langsung menyelamatkan korban. “Terkadang ada saja orang yang mau menyelamatkan, eh..malah jadi nambah korbannya,” tuturnya.
Pekerjaan seorang pemadam kebakaran sebenarnya tidak hanya memadamkan kebakaran. Ikut menanggulangi bencana seperti banjir juga menjadi salah satu tugas mereka. Dinas Pemadam Kebakaran Jakarta Timur pernah menyediakan perahu karet waktu adanya banjir di Jakarta pada tahun 2010. Tidak hanya masalah banjir saja, tetapi semua yang sifatnya mendesak seperti pohon tumbang, seseorang yang terjepit atau bahkan menyelamatkan para hewan peliharaan. “Waktu itu ada kucing gubernur tersangkut di pohon, yah kita yang selamatkan,” kata Boediono sambil tertawa.
Namun tetap saja masalah utama yang sering dihadapi para pemadam kebakaran adalah kebakaran itu sendiri. Seperti dilansir Kompas.com, kebakaran yang terjadi di Jakarta pada tahun 2012 mencapai 1.008 kejadian dengan Jakarta Timur lebih “unggul” dibanding yang lain sebanyak 285 kali kejadian. Penyebab utama terbesar adalah korsleting listrik. Hal ini dibenarkan oleh Boediono. “Ini semua karena standar keselamatan pada sebuah bangunan tingkat tinggi tidak diketahui pemilik atau gara-gara masalah kecil.” Terkadang bahan-bahan yang ada di gedung tersebut mudah terbakar atau masalah seperti penggunaan tusuk kontak secara bertumpuk. “Biasanya kita panggil pemilik perusahaan jika tidak sesuai standar,” tambah laki-laki kelahiran Jakarta tersebut.
Bagi seorang pemadam kebakaran, mobil pemadam kebakaran adalah “sahabat sejatinya”. Setiap mobil memiliki jenis yang berbeda-beda. Saya pun berjalan-jalan ke area parkir untuk melihat lebih dekat. Ada mobil yang hanya berisi air saja, foam saja, kipas angin untuk menghilangkan asap atau alat pemadamnya saja. Setiap mobil memiliki kode sendiri yang ditulis di pintu setiap mobil, seperti T 01-02 atau T 09-01 dengan warna kuning.
Di mobil kode T 01-02, ada empat saluran yang bisa dipasang dengan selang, selain itu adanya pegangan untuk mengatur seberapa besar air yang keluar. T 01-02 dapat menampung 4000 liter air. Di sekat paling kanan, terdapat mobil dengan kode 563, tidak ada perbedaan warna dengan mobil sebelumnya, namun tangga berwarna putih yang bisa mencapai 24 meter itu berada di atasnya. Lain lagi dengan kode 508, bagian mobil ini dilengkapi dengan kotak besar yang berisikan pasokan air tambahan.
Saya pun berjalan ke belakang melewati kantor utama. Di sebelah kanan persis pintu kantor utama, ada sebuah majalah dinding yang ditempel kertas berwarna-warni berisikan kegiatan-kegiatan yang dilakukan para petugas seperti lomba-lomba dan ajakan untuk olahraga bersama. Dua orang petugas dengan seragam berwarna biru sedang menikmati acara televisi dan lainnya sedang bermain catur. Di area belakang, mobil-mobil pemadam kebakaran lainnya sedang dicuci, Ada juga yang menikmati makan siangnya di warung-warung kecil di depan gedung. Sekitar 450 orang bekerja menjadi pemadam kebakaran untuk wilayah Jakarta Timur dan mereka tahu bahwa menjadi pemadam kebakaran bukanlah hal mudah.
“Pemadam kebakaran itu kerja sosial dan taruhannya nyawa,” ujar Boediono. Boediono tahu bekerja menjadi pemadam kebakaran bukanlah pekerjaan yang bisa memberikan penghasilan tinggi. “Gaji saya tidak seberapa dengan pekerjaannya. Kakak saya pernah di sini, tapi dia keluar. Tidak tahan,” kata laki-laki yang memiliki dua orang anak ini.
 Belum lagi masalah, masyarakat yang terkadang selalu merasa tidak puas karena keterlambatan pemadam kebakaran. Di Jakarta yang sudah terkenal dengan kemacetannya tentu saja bukanlah hal mudah untuk mencapai lokasi kebakaran dengan cepat. “Kami selalu mencoba untuk datang lebih cepat. Target kami sepuluh sampai lima belas menit dalam perjalanan.” Wilayah Jakarta Timur menyediakan 24 pos untuk mempermudah para petugas datang ke lokasi lebih cepat.
Selain itu, seorang petugas pemadam kebakaran bekerja selama 24 jam dan mendapatkan hari kosong selama dua hari setelah bertugas. “Sempat capek, tapi itu kan pekerjaan kita,” kata Boediono. “Kadang baru mau mandi, eh ada kebakaran lagi,” tambahnya. Namun, mereka mengemban tugas ini dengan serius. Bagi mereka kebakaran adalah hal yang sangat berbahaya sehingga dibutuhkan konsentrasi yang tinggi.
Tinnnn! Tinnn! Suara klakson mobil terdengar di jalan raya, namun tidak ada suara “nguunnnnggg” dari sirene seperti yang diperagakan Boediono. Para petugas bersantai, menikmati hiburannya masing-masing, tetapi siapa yang tahu. Jam selanjutnya, menit selanjutnya atau detik selanjutnya, mereka semua akan mengenakan helm putih dan jaket oranye, bersama dengan “sahabat sejati” mereka, sang mobil pemadam kebakaran, melaksanakan makna dari warna cat tembok yang bukan sekedar warna, mempertaruhkan nyawa untuk melayani masyarakat karena sebuah kode “65”.
Zerica Estefania Surya/11140110026/C