Showing posts with label Eka Laili Rosidha (11140110141). Show all posts
Showing posts with label Eka Laili Rosidha (11140110141). Show all posts

Wednesday, June 19, 2013

Bunda Karsiah, "Kasih Ibu Sepanjang Masa"

Raut kesedihan dan kekecewaan bercampur menjadi satu tatkala dia mengingat kembali tragedi itu. Terlalu dalam luka yang ditorehkan hingga sulit untuk disembuhkan. Inilah yang dirasakan oleh Karsiah selama lima belas tahun belakangan.
Sore itu langit tampak mendung, bersamaan dengan turunnya rintik-rintik hujan. Namun suasana itu tak lantas menyurutkan keinginan Karsiah untuk kembali kerumah. Dengan semangat, kaki mungilnya berjalan menyusuri  jalan besar dan kemudian masuk ke sebuah gang sempit yang padat dengan penghuni. Setelah kurang lebih lima belas menit berjalan, tibalah dia di sebuah rumah bercat kuning bertingkat satu.
Di dalam kamar berukuran tiga kali dua meter persegi, Karsiah yang biasa dipanggil ‘Bunda’ ini menetap. Dengan ukurannya yang terhitung kecil, kamar tersebut dipenuhi dengan berbagai barang. Mulai dari lemari, tempat tidur, televisi, dan pakaian-pakaian yang tergantung diluar lemari, membuat suasana kamar menjadi sesak. Tetapi disinilah bunda beristirahat, menghilangkan kepenatan selepas bekerja. Di salah satu bagian kamar, terpampang sebuah foto anak laki-laki berkacamata besar dengan senyum tersungging dari bibirnya. Foto itu sudah tampak sedikit usang, dilihat dari gaya anak tersebut jelas menunjukkan kesan oldies.
Dialah Hendriawan Sie, putra semata wayang bunda Karsiah yang telah tiada karena suatu peristiwa yang tidak pernah ia duga sebelumnya. Peristiwa yang telah mengukir sejarah bagi bunda Karsiah dan bangsa Indonesia.
credit to: kabarkampus.com

Pasar Lama Kisamaun, Kawasan Murah Meriah

Mendengar kata “wisata kuliner”, pasti akan terbayangkan di benak kita sekumpulan penjual makanan dengan bermacam-macam jenis hidangan. Mulai dari yang goreng, rebus, bakar, basah ataupun kering. Pemandangan inilah yang saya temukan di Pasar Lama Kisamaun, Tangerang. Dengan lokasi yang cukup strategis, tempat ini menjadi favorit warga Tangerang untuk ber-kuliner ria terutama di malam hari.

Montir Keliling Ala Lady Rocker

Pagi itu angin bertiup cukup kencang di sekitar kawasan Tangerang kota. Dari kejauhan tampak sesosok wanita berkaus hijau tua dipadu dengan celana jeans belel tengah berkutat dengan gelas plastik dan sebungkus kopi. Sekilas, wanita ini tampak seperti pedagang minuman keliling biasa. Membawa beberapa kardus minuman botol dan termos diatas gerobak berwarna oranye yang lebih mirip dengan rak bertuliskan “Teh Botol”. Tak lama kemudian, gelas berisikan kopi sudah siap di tangan dan dia berikan kepada seorang pemuda yang tengah duduk di trotoar. Semakin mendekat, wanita ini tersenyum kepada saya. Dengan rambut terurai ala lady rocker era 90-an, saya tidak menyangka perempuan yang biasa dikenal dengan nama Ida ini begitu baik dan ramah.
Disinilah saya menemukan pemandangan yang agak berbeda dari biasanya. Dibawah kotak-kotak minuman yang dijualnya, terselip sebuah tabung besar lengkap dengan selang panjang. Karena warna tabung yang senada dengan warna rak, membuat saya tidak menyadari itu adalah tabung kompresor. Ya, tabung yang dipakai untuk menambah angin pada ban motor itu terletak persis dibawah minuman dagangan Ida. Sudah  hampir 17 tahun ini Ida bekerja sebagai “Montir” keliling untuk membantu suaminya memenuhi ekonomi keluarga.
“Awalnya suami yang profesinya seperti ini, dulu suka bantu-bantu.. lama-lama ikut jatuh cinta sama kerjaan ini. Yang bikin alat-alat ini juga suami saya, tapi karena penglihatan dia sudah mulai berkurang, saya jadi mata dia dan lama-lama saya yang dominan bekerja.”
Bersama suaminya, Sutarya, mereka sejak dulu bekerja sebagai montir. Akan tetapi, dahulu mereka menjalankan usahanya dengan menyewa sebuah ruko. Sayangnya, karena semakin lama penghasilan yang didapat semakin menipis, Ida dan suaminya beralih menjadi montir keliling hingga sekarang. Memiliki enam orang anak membuat Ida mau tak mau harus ikut membantu suaminya demi menambah penghasilan keluarga. Apalagi lima dari empat dari enam anaknya masih membutuhkan biaya sekolah yang tidak sedikit. Bahkan kini dapat dikatakan Ida menjadi tulang punggung utama sejak kondisi kesehatan suaminya menurun.
Penghasilan yang didapatnya memang tidak besar. Untuk menjadi montir atau perbaikan-perbaikan Ida mendapat Rp 100.000-Rp 150.000 perhari. Sedangkan dari hasil menjual minuman hanya sedikit, karena ida menyajikan minuman-minuman itu untuk customernya.
“Paling buat orang2 yang tambal ban atau isi angin disini kalau habis dorong2 motor kan capek, haus.. Cuma nyediain untuk itu aja sih gak khususin jualan minuman.” Terangnya.
Setiap hari Ida dan suami mengawali perjalanan mencari rezeki menuju Pizza Hut Tangerang City dengan menggunakan gerobak motor hasil rancangan suami. Beruntung jaraknya tidak begitu jauh dari rumahnya. Kemudian menjelang siang dia akan berpindah lokasi kedepan halte salah satu kampus yang letaknya juga tidak jauh dari lokasi sebelumnya. Sementara itu, suaminya tidak berpindah tempat. Selama bekerja, Ida acap kali membawa serta anak bungsunya, Zaki yang masih balita, dan siangnya anak Ida yang masih duduk di bangku SMP akan beralih menemaninya mangkal. Pasangan suami istri ini bekerja sejak pukul enam pagi hingga pukul sepuluh sampai dua belas malam demi seperak-dua perak uang.
Tujuh belas tahun bukanlah waktu yang sebentar bagi wanita kelahiran Cirebon, 11 Juli 1970 ini dalam menjadi montir keliling. Berbagai macam suka duka telah dia rasakan. Awal-awal bekerja sebagai montir, salah satu perkakasnya pernah “mental” mengenai lehernya hingga dia pingsan selama enam jam. Selain itu juga banyak orang yang mencemoohnya, merasa tidak percaya dengan kemampuan Ida memperbaiki onderdil motor.  Bahkan Ida terkadang disalahkan apabila ada kerusakan yang bukan disebabkan olehnya.
“banyak pengalaman saya, kalau diceritain nggak bakal habis satu buku. Kalau saya punya diary kayak anak-anak sekarang mah mungkin udah abis..”
Resiko lain yang dihadapi oleh Ida selama bekerja sebagai montir adalah berhadapan dengan Satpol PP. Maklum saja, sebagai montir keliling ida tidak memiliki tempat mangkal yang tetap apalagi zurat izin. Jadi, apabila satpol PP muncul, dia akan cepat-cepat kabur atau bersembunyi.
“Satpol PP musuh saya.. ya.. nggak nyalahin mereka sih, mereka kan juga tugas.”
Namun, dibalik profesinya yang keras itu, Ida memiliki sisi lain yang mengejutkan. Sebelum bekerja sebagai montir, ida merupakan seorang ibu rumah tangga biasa yang merawat anak-anak dirumah. Menariknya, ida memiliki hobi menulis puisi dan cerita. Dulu dia sering mengirimkan karya-karyanya itu ke majalah-majalah lokal di Bandung yang lumayan menghasilkan.
Kerinduan yang sangat
Telah membuat langkahku tertatih
Kesunyian taman hati
Kini berhias bayangan dirinya yang samar
Seperti menungguku di ujung jalan sana….
Penggalan puisi  diatas merupakan buatan asli Ida yang dia persembahkan untuk idolanya, Michael Jackson ketika King of Pop itu wafat pada 2009 lalu. Selain gemar menulis puisi, Ida juga merupakan fans dari selebriti legendaris dunia itu sejak duduk di bangku sekolah menengah pertama. Bahkan, saking terobsesinya, Ida sempat mengikuti kursus bahasa Inggris selama satu tahun delapan bulan demi mendalami Michael Jackson.
Sayangnya, sang suami kurang mendukung hobi ida ini. Sutarya menganggap hal ini tidak berguna karena dia kurang paham dengan hal-hal semacam ini.
Beruntungnya, Ida benar-benar seorang wanita dan istri teladan. Tidak ada rasa menyesal pada dirinya karena dia tidak dapat mengembangkan hal-hal yang dia sukai demi suami dan keluarga. Dia memegang teguh prinsip dan tanggung jawabnya saat ini.
“Kalau bisa dibilang profesi ini jauh dari pribadi saya, cita-cita saya. Tapi yang penting kita nikmatin..”
Ida merupakan satu dari skeian juta wanita di dunia yang patut kita contoh. Sesulit apapun, suka atau tidak terhadap suatu hal, yang penting kita harus ikhlas menjalaninya. Karena dengan keikhlasan segalanya akan terasa lebih mudah dan ringan.


“Nikmati kerjaan.. dan bolehlah emansipasi wanita, tapi di hal yang positif. Bukan berarti kalau kita bergaul di jalanan kita juga harus ikut mabuk-mabukan”-Farida Hamdini/Ida-

“TIMEZONE” PASAR KELAPA DUA


Saya mau tamasya berkeliling-keliling kota
Hendak melihat-lihat keramaian yang ada
Saya panggilkan becak, kereta tak berkuda
Becak.. Becak… Coba bawa saya

Lantunan lagu anak-anak tadi terdengar nyaring di telinga saat saya baru saja sampai di depan sebuah arena taman bermain anak. Arena tersebut terbagi atas dua bagian. Pada salah satu sisi terdapat ruang terbuka dengan dikelilingi oleh pagar mini berwarna-warni. Di pinggirnya berjejer rapi mobil baterai, otopet dan barang-barang kiddy rides lainnya, yaitu semacam mainan yang dapat dikendarai oleh anak-anak. Sekilas tempat tersebut tampak seperti sekolah Taman Kanak-kanak lengkap dengan arena permainannya.