Mendengar kata
“wisata kuliner”, pasti akan terbayangkan di benak kita sekumpulan penjual
makanan dengan bermacam-macam jenis hidangan. Mulai dari yang goreng, rebus,
bakar, basah ataupun kering. Pemandangan inilah yang saya temukan di Pasar Lama
Kisamaun, Tangerang. Dengan lokasi yang cukup strategis, tempat ini menjadi
favorit warga Tangerang untuk ber-kuliner ria terutama di malam hari.
Showing posts with label Tugas Mingguan. Show all posts
Showing posts with label Tugas Mingguan. Show all posts
Wednesday, June 19, 2013
Montir Keliling Ala Lady Rocker
Pagi itu angin bertiup cukup kencang di sekitar
kawasan Tangerang kota. Dari kejauhan tampak sesosok wanita berkaus hijau tua
dipadu dengan celana jeans belel tengah berkutat dengan gelas plastik dan
sebungkus kopi. Sekilas, wanita ini tampak seperti pedagang minuman keliling
biasa. Membawa beberapa kardus minuman botol dan termos diatas gerobak berwarna
oranye yang lebih mirip dengan rak bertuliskan “Teh Botol”. Tak lama kemudian,
gelas berisikan kopi sudah siap di tangan dan dia berikan kepada seorang pemuda
yang tengah duduk di trotoar. Semakin mendekat, wanita ini tersenyum kepada
saya. Dengan rambut terurai ala lady rocker era 90-an, saya tidak menyangka
perempuan yang biasa dikenal dengan nama Ida ini begitu baik dan ramah.
Disinilah saya menemukan pemandangan yang agak
berbeda dari biasanya. Dibawah kotak-kotak minuman yang dijualnya, terselip
sebuah tabung besar lengkap dengan selang panjang. Karena warna tabung yang
senada dengan warna rak, membuat saya tidak menyadari itu adalah tabung
kompresor. Ya, tabung yang dipakai untuk menambah angin pada ban motor itu
terletak persis dibawah minuman dagangan Ida. Sudah hampir 17 tahun ini Ida bekerja sebagai
“Montir” keliling untuk membantu suaminya memenuhi ekonomi keluarga.
“Awalnya suami yang profesinya seperti ini, dulu
suka bantu-bantu.. lama-lama ikut jatuh cinta sama kerjaan ini. Yang bikin
alat-alat ini juga suami saya, tapi karena penglihatan dia sudah mulai
berkurang, saya jadi mata dia dan lama-lama saya yang dominan bekerja.”
Bersama suaminya, Sutarya, mereka sejak dulu bekerja
sebagai montir. Akan tetapi, dahulu mereka menjalankan usahanya dengan menyewa
sebuah ruko. Sayangnya, karena semakin lama penghasilan yang didapat semakin
menipis, Ida dan suaminya beralih menjadi montir keliling hingga sekarang. Memiliki
enam orang anak membuat Ida mau tak mau harus ikut membantu suaminya demi
menambah penghasilan keluarga. Apalagi lima dari empat dari enam anaknya masih
membutuhkan biaya sekolah yang tidak sedikit. Bahkan kini dapat dikatakan Ida
menjadi tulang punggung utama sejak kondisi kesehatan suaminya menurun.
Penghasilan yang didapatnya memang tidak besar.
Untuk menjadi montir atau perbaikan-perbaikan Ida mendapat Rp 100.000-Rp
150.000 perhari. Sedangkan dari hasil menjual minuman hanya sedikit, karena ida
menyajikan minuman-minuman itu untuk customernya.
“Paling buat orang2 yang tambal ban atau isi angin
disini kalau habis dorong2 motor kan capek, haus.. Cuma nyediain untuk itu aja
sih gak khususin jualan minuman.” Terangnya.
Setiap hari Ida dan suami mengawali perjalanan mencari
rezeki menuju Pizza Hut Tangerang City dengan menggunakan gerobak motor hasil
rancangan suami. Beruntung jaraknya tidak begitu jauh dari rumahnya. Kemudian
menjelang siang dia akan berpindah lokasi kedepan halte salah satu kampus yang
letaknya juga tidak jauh dari lokasi sebelumnya. Sementara itu, suaminya tidak
berpindah tempat. Selama bekerja, Ida acap kali membawa serta anak bungsunya,
Zaki yang masih balita, dan siangnya anak Ida yang masih duduk di bangku SMP
akan beralih menemaninya mangkal. Pasangan suami istri ini bekerja sejak pukul
enam pagi hingga pukul sepuluh sampai dua belas malam demi seperak-dua perak
uang.
Tujuh belas tahun bukanlah waktu yang sebentar bagi
wanita kelahiran Cirebon, 11 Juli 1970 ini dalam menjadi montir keliling.
Berbagai macam suka duka telah dia rasakan. Awal-awal bekerja sebagai montir,
salah satu perkakasnya pernah “mental” mengenai lehernya hingga dia pingsan
selama enam jam. Selain itu juga banyak orang yang mencemoohnya, merasa tidak
percaya dengan kemampuan Ida memperbaiki onderdil motor. Bahkan Ida terkadang disalahkan apabila ada
kerusakan yang bukan disebabkan olehnya.
“banyak pengalaman saya, kalau
diceritain nggak bakal habis satu buku. Kalau saya punya diary kayak anak-anak
sekarang mah mungkin udah abis..”
Resiko lain yang dihadapi oleh Ida selama bekerja
sebagai montir adalah berhadapan dengan Satpol PP. Maklum saja, sebagai montir
keliling ida tidak memiliki tempat mangkal yang tetap apalagi zurat izin. Jadi,
apabila satpol PP muncul, dia akan cepat-cepat kabur atau bersembunyi.
“Satpol PP musuh saya.. ya.. nggak nyalahin mereka
sih, mereka kan juga tugas.”
Namun, dibalik profesinya yang keras itu, Ida
memiliki sisi lain yang mengejutkan. Sebelum bekerja sebagai montir, ida
merupakan seorang ibu rumah tangga biasa yang merawat anak-anak dirumah.
Menariknya, ida memiliki hobi menulis puisi dan cerita. Dulu dia sering
mengirimkan karya-karyanya itu ke majalah-majalah lokal di Bandung yang lumayan
menghasilkan.
Kerinduan yang
sangat
Telah membuat
langkahku tertatih
Kesunyian taman
hati
Kini berhias
bayangan dirinya yang samar
Seperti
menungguku di ujung jalan sana….
Penggalan puisi
diatas merupakan buatan asli Ida yang dia persembahkan untuk idolanya,
Michael Jackson ketika King of Pop itu wafat pada 2009 lalu. Selain gemar
menulis puisi, Ida juga merupakan fans dari selebriti legendaris dunia itu
sejak duduk di bangku sekolah menengah pertama. Bahkan, saking terobsesinya,
Ida sempat mengikuti kursus bahasa Inggris selama satu tahun delapan bulan demi
mendalami Michael Jackson.
Sayangnya, sang suami kurang mendukung hobi ida ini.
Sutarya menganggap hal ini tidak berguna karena dia kurang paham dengan hal-hal
semacam ini.
Beruntungnya, Ida benar-benar seorang wanita dan
istri teladan. Tidak ada rasa menyesal pada dirinya karena dia tidak dapat
mengembangkan hal-hal yang dia sukai demi suami dan keluarga. Dia memegang
teguh prinsip dan tanggung jawabnya saat ini.
“Kalau bisa dibilang profesi ini jauh dari pribadi
saya, cita-cita saya. Tapi yang penting kita nikmatin..”
Ida merupakan satu dari skeian juta wanita di dunia
yang patut kita contoh. Sesulit apapun, suka atau tidak terhadap suatu hal,
yang penting kita harus ikhlas menjalaninya. Karena dengan keikhlasan segalanya
akan terasa lebih mudah dan ringan.
“Nikmati
kerjaan.. dan bolehlah emansipasi wanita, tapi di hal yang positif. Bukan
berarti kalau kita bergaul di jalanan kita juga harus ikut mabuk-mabukan”-Farida
Hamdini/Ida-
“TIMEZONE” PASAR KELAPA DUA
Saya
mau tamasya berkeliling-keliling kota
Hendak
melihat-lihat keramaian yang ada
Saya
panggilkan becak, kereta tak berkuda
Becak..
Becak… Coba bawa saya
Lantunan lagu
anak-anak tadi terdengar nyaring di telinga saat saya baru saja sampai di depan
sebuah arena taman bermain anak. Arena tersebut terbagi atas dua bagian. Pada
salah satu sisi terdapat ruang terbuka dengan dikelilingi oleh pagar mini
berwarna-warni. Di pinggirnya berjejer rapi mobil baterai, otopet dan
barang-barang kiddy rides lainnya,
yaitu semacam mainan yang dapat dikendarai oleh anak-anak. Sekilas tempat
tersebut tampak seperti sekolah Taman Kanak-kanak lengkap dengan arena
permainannya.
BERKISAH DARI SEORANG GURU
Hanya mengaku suka dengan anak-anak dan pintar saja, tak cukup untuk kita
mampu mendidik seorang anak. Hal itu diakui oleh seorang Ibu dua anak yang
menjadi salah satu relawan bersama teman-temannya membangun sebuah tempat pendidikan
untuk anak-anak yang menurut SISDIKNAS pada UU SISDIKNAS No.20/2003 ayat satu
adalah usia 0-6 tahun,di sekolah Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) di daerah
Bekasi.
Rini Mulyani, wanita berdarah sunda ini sudah kurang lebih dua tahun
mengajar sebagai guru PAUD dengan dasar sosial untuk membantu anak-anak yang
tidak mampu untuk masuk sekolah pendidikananak-anak swasta yang ada. Di sekolah
PAUD tempat ia mengajar, tidak dipungut biaya yang besar dan pengajar tidak
diberi upah.
“Kami hanya membuaka sebuah tabungan untuk anak-anak dengan minimum 30 ribu
rupiah per bulan, dan uang itu dipakai untuk fotocopy bahan bacaan anak dan liburan bersama setiap dua bulan
sekali”, ujar Rini saat ditemui sedang menemani makan siang anak keduanya,
Sasha.
Selama mengajar sebagai seorang guru PAUD, Rini mengalami hal-hal unik
dengan anak-anak yang diajarnya. Mulai dari mengajar anak yang bandel dan sulit
diatur hingga anak yang memiliki kebutuhan khusus. Menurut wanita kelahiran 19
Oktober 1972 ini, “Mengajar anak kecil zaman sekarang terlihat sulit dibanading
saat saya melihat Ibu saya mendidik adik saya yan berumur 4 tahun”, tuturnya.
Mengajar anak-anak di usia dini seperti ini dibutuhkan kesabaran dan
kecakaan khuusus. Sebal dan kesal dalam menghadapi anak-anak sudah menjadi
biasa. Ketika rasa itu muncul, dia langsun bersabar dan memikirkan kemabli soal
komitmentnya dalam mengajarkan secara cuma-cuma dengan dasar sosial melalau
bantuan mengajar di PAUD ini.
Pernah suatu hari, Rini mendapatkan seorang murid berkebutuhan khusus,
yaitu murid yang mengidap penyakit autis.
Anak berkebutuhan itu sebenarnya tidak masuk ke sekolah itu , melainkan masuk
ke Sekolah anak berkebutuhan khusus agar dia mendapatkan pendidikan yang layak.
Tapi, karena orang tua si anak tidak mampu untuk memasukkan anaknya ke sekolah
tersebut akibat kendala biaya, jadilah sekolah PAUD tempat Rini mengajar
menerima anak tersebut.
Di suatu pagi, setelah semua anak selesai melakukan senam pagi. Anak
tersebut kedapatan tengah mengacak-acak kelas dengan melepas dan merobek hasil
karya gambar teman-temannya yang di tempel di dinding kelas. Rini yang melihat
kejadian tersebut, langsung ber-istighfar
sambil mengelus dada, “ Astaghfirullahaladziim”.
“Saya tidak bisa memarahi ataupun menegur anak tersebut, karena saya takut
bertindak salah memperlakukan anak berkebutuhan khusus itu. Lebih baik, saya
dan teman-teman guru lainnya menunggu hingga ia tenang dan kami bereskan
bersama kelas yang sudah berantakan itu”, uajar Rini.
Ibu dari Inez dan Sasha ini, selain sebagai guru di sekolah PAUD, Ia juga
mengajar les untuka anak TK dan SD kelas 1-3 di rumahnya setiap sorenya.
Pekerjaannya sebagai guru PAUD tidak membuatnya merasa terganggu dengan
pekerjaannya sebagai Ibu rumah tangga juga. “Saya sih seneng-seneng aja ngejalaninnya,
toh ini saya lakukan atas dasar
sosial,” ujarnya.
Mengajar anak-anak kecil juga sempat membuatnya kalang kabut saat
mengahadapi anak kecil yang sudah bisa mempermainkannya. Saat itu, kelas pagi
tengah berlangsung, Ridho anak laki-laki yang paling aktif dikelas menolak
untuk ikut belajar bersama teman-temannya di kelas. Dia lebih memilih untuk
bermain di arena bermain sekolah. Saat itu Rini memintanya untuk segera masuk
ke kelas.
“Ridho, ayo ke kelas, belajar dulu,
mainnya nanti lagi. Nanti kalau kamu main terus kamu gak bisa ikut berenang
bareng temen-temen hari sabtu”, ujar Rini mengenang saat itu. “Gak mau bu guru,
aku mau maen aja. Aku udah berenang kok kemaren sama mama-papa”, balas Ridho.
“Berenangnya ini beda, nanti kita ke Galaxy*, ujar Rini. (* tempat berenang di
daerah Bekasi). “Berenang kan sama aja, sama-sama maen air bu. Aku gak mau ah,”
ujar Rini menirukan gaya bahasa Ridho saat itu.
Mengajar anak-anak kecil yang memiliki karakter yang berbeda-beda tak
membuat ia menyerah untuk mendekatkan dirinya pada anak-anak. Pernah suatu hari
ada murid baru, kembar perempuan. Sejak kedatangan kedua anak kembar itu hingga
kini, Rini masih mengalami kesulitan dalam membedakan kedua anak itu, karena
sangat-sangat kembar identik.
Saat itu, Rini mencoba untuk membedakan kedua anak itu dengan bertanya,
“Mana yang namanya Nayla? Mana yang Kayla?”. Kedua anak tersebut diam. Rini
semakin bingung karena tak ada jawaban dari anak tersebut. Ia pun mencoba lagi
dengan pancingan sebuah permen lollipop
yang ia siapkan di saku bajunya. “Kayla, ini permen buat kamu,” ujarnya saat
itu sambil melihat satu per satu anak tersebut. Akhirnya yang mengaku sebagai
Kayla, meraih permen dari tangannya.
Walaupun sudah dicoba demikian, Rini masih sering tidak bisa membedakanya.
Pernah suatu hari saat jam pulang sekolah. Dia menghampiri Ibu dari Kayla dan
Nayla. “Bu, bisa nggak, besok-besok
mana yang Kayla dan mana yang Nayla dibikin perbedaan. Misal Nayla rambutnya
dikuncir dan Kayla dipakein bando.
Saya masih susah bedainnya,” Ujar Rini kepada Ibu si kembar yang hany dibalas
dengan tertawa kecil mendengar keluhan guru anak kembarnya.
Masih banyak kisah-kisah menarik lainnya yang dialami Rini dalam mengajar
sebagai guru PAUD. Baginya mengajar untuk sekolah sosial adalah perbuatan yang
menyenangkan karena dapat membantu anak-anak yang membutuhkan pendidikan di
usia dini dengan suka rela. Karena, walaupun masih banyak anak yang tidak bisa
sekolah karena kesulitan biaya, ia dan teman-teman bisa membantu anak-anak
tersebut dengan tindakan kecil ini. Semoga pemerintah mampu menyediakan sarana
pendidikan yang dapat memudahkan masyarakat menengah ke bawah. Itu harapannya.
Subscribe to:
Posts (Atom)