Showing posts with label Feature Profil. Show all posts
Showing posts with label Feature Profil. Show all posts

Wednesday, June 19, 2013

Sabar, itu Kunci Paling Ampuh!

“Halo, kakak.”

Akhsan menuntun saya menuju papan tulis yang ada di depan kelas. Kelas yang terbilang mungil untuk ukuran sekolah negeri. Ya sekitar 3x5 meter saja. Terdapat sepuluh meja dan sepuluh kursi untuk murid. Dan satu meja dan satu kursi untuk sang guru. Pada kesepuluh meja dan kursi bercat coklat ini terdapat tulisan “BANSOS DIKDAS 2011” yang berwarna putih. Pada tembok kelas terlihat beberapa lembar kertas yang sengaja ditempel. Seperti kertas denah tempat duduk, kertas jadwal mata pelajaran, kertas jadwal piket, bahkan hasil karya anak-anak yang menempati kelas ini sendiri.

Suasana kelas yang tak pernah rapi.

“Kakak bisa baca yang ini nggak?”, tanya Akhsan dengan lugu sambil menunjuk papan tulis yang bertuliskan “Alat untuk mandi” dengan tinta spidol bewarna biru, karena pada saat itu sedang berlangsung pelajaran Bina Diri.

Akhsan adalah salah satu siswa yang Murni didik di Sekolah Khusus Yayasan Karya Dharma Wanita (YKDW), Karawaci Baru, Tangerang, Banten. Murni adalah wali kelas Akhsan dan kesembilan anak autis lainnya.

Sekolah yang sudah ada sejak tahun 1981 ini merupakan sekolah luar biasa (SLB) bagian C untuk anak tuna grahita dan autis. Maka tak heran jika melihat papan yang berada di pintu-pintu kelas yang ditandai dengan pengenal bertuliskan “I-C, II-C, III-C, IV-C, V-C, VI-C”.

***

Berdasarkan urutan sejarah berdirinya, kategori kecacatan SLB itu dikelompokkan menjadi enam kategori, yaitu SLB bagian A untuk anak tuna netra, SLB bagian B untuk anak tuna rungu, SLB bagian C untuk anak tuna grahita, SLB bagian D untuk anak tuna daksa, SLB bagian E untuk anak tuna laras, lalu yang terakhir ada SLB bagian F untuk anak tuna ganda.

Dalam UUD 1945 pasal 31 ayat 1, setiap warga negara berhak mendapatkan pengajaran. Ini artinya seluruh warga negara berhak mendapatkan pengajaran tanpa terkecuali apakah dia mempunyai kelainan seperti anak autis ini.

Dikutip dari edukasi.kompasiana.com, pada tahun 2003 pemerintah mengeluarkan Undang-Undang No 20 tentang Sistem Pendidikan Nasional (UUSPN). Dalam undang-undang tersebut dikemukakan hal-hal yang erat hubungannya dengan pendidikan bagi anak-anak dengan kebutuhan pendidikan khusus, yakni sebagai berikut:

Bab IV (pasal 5 ayat 1), Setiap warga negara mempunyai hak yang sama untuk memperoleh pendidikan yang bermutu, baik yang memiliki kelainan fisik, emosional, mental, intelektual atau sosial, berhak memperoleh pendidikan khusus.
Bab V bagian 11, Pendidikan Khusus (pasal 32 ayat 1), Pendidikan khusus bagi peserta yang memiliki tingkat kesulitan dalam mengikuti proses pembelajaran karena kelainan fisik, emosional, mental, sosial atau memiliki potensi kecerdasan.

***

Dengan logat jawanya, Murni mengaku bahwa menjadi guru di sekolah luar biasa bukanlah impiannya. Ia memiliki impian untuk bekerja di Departemen Sosial. Tahun 1998, sewaktu pengambilan jurusan, kebetulan sekali Murni tidak masuk. Lalu temannya lah yang memilih jurusan Pendidikan Luar Biasa (PLB), spealisasi tuna laras dan tuna wicara.

“Ya, namanya mahasiswa kan, ada temen segrup, diambilin lah itu jurusan plb,” ucapnya dengan diiringi tawa.

Setelah lulus kuliah, ia merantau ke Tangerang. Ia merasa bosan sudah mengenyam pendidikan hingga kuliah di Jawa, maka ia memutuskan untuk merantau. Karena kebetulan juga waktu itu orang tuanya memang berada di Jakarta. Sebelum bekerja di sekolah khusus ini, ia mencoba melamar pekerjaan di LP, namun tak diterima karena Murni lulusan dari Dinas Pendidikan. Pihak LP-pun menyarankan Murni untuk melamar saja ke sekolah tempatnya ia mengajar sekarang, karena pada waktu itu sekolah ini kekurangan pengajar. Maka ia pun resmi menjadi guru di Sekolah Khusus Yayasan Karya Dharma Wanita ini sejak tahun 2004.

Dua tahun terakhir ini, Murni ditugaskan untuk menjadi guru kelas anak autis. Khususnya kelas 5 SD. Kelas yang ia pegang ini terdiri dari 10 murid saja. Anak-anak itu antara lain Aditya Aji, Cindy Wijaya, Fajar Mahendra, Rakha Azhari, Akhsan W, Dewi Apriyani, Fauzan R, Dwi Kartika Sari, Nico, dan Arif Fahrudin. Murni mengaku mempunyai penanganan khusus dan berbeda pada setiap murid.

Dikutip dari wikipedia.org, autis adalah suatu kondisi mengenai seseorang sejak lahir atau pada saat balita yang membuat dirinya tidak dapat membentuk hubungan sosial atau komunikasi yang normal. Akibatnya, anak tersebut terisolasi dari manusia lain. Ada enam gangguan yang menjadi karakteristik dari anak autisme, yakni gangguan interaksi sosial, konumikasi (bahasa dan bicara), perilaku-emosi, pola bermain, gangguan sensorik dan motorik, serta perkembangan terlambat atau tidak normal. Gejala ini biasanya mulai tampak sejak lahir, atau sebelum anak berusia 3 tahun.

Sedangkan tuna grahita adalah kelainan dalam pertumbuhan dan perkembangan pada mental intelektual sejak bayi atau dalam kandungan yang disebabkan oleh faktor biologis maupun faktor fungsional. Ciri-ciri anak yang mengalami tuna grahita antara lain kecerdasannya sangat terbatas, mereka tidak mampu mengurus diri sendiri, sehingga selalu memerlukan bantuan orang lain. Daya ingat mereka juga lemah, keterbatasan minat, emosi yang sangat labil. Mereka juga akan acuh terhadap sekitarnya. Secara fisik, badan mereka terlihat membungkuk, raut wajah yang datar, mulut melongo, dan matanya terlihat sipit.

Walaupun Murni jebolan Universitas Sebelas Maret, Surakarta, jurusan Pendidikan Luar Biasa, ia tetap kewalahan mengatur sepuluh anak autis yang dititipkan padanya. Apalagi masing-masing dari anak tersebut memiliki ‘kenakalan-kenakalan’ yang berbeda. Contohnya saja pada Nico. Ia adalah anak didik Murni kelahiran tahun 1995. Salah satu ciri anak autis adalah tidak mampun mengurus dirinya sendiri, maka tak heran jika buang air kecil saja, Nico masih dibantu oleh orang tuanya.

“Itu si Nico, pipis aja burungnya masih dipegangin sama mamanya. Mamanya kan nungguin tiap hari tuh,” ucap Murni sambil terkekeh.

“Harusnya kan anak kelahiran tahun 1995 udah SMA. Tapi ini masih kelas 5 SD, ya maklumlah ya,” lanjutnya.

Padahal penanganan yang tepat terhadap anak-anak seperti itu adalah membiarkan mereka melakukan segala sesuatunya sendiri, seperti anak normal pada umumnya. Misalnya saja, biarkan anak memakai pakaiannya sendiri, walaupun dibantu orang tua, tapi biarkan mereka terbiasa melakukan kegiatan sehari-hari seperti memakai pakaian dengan usahanya sendiri. Yang penting prosesnya.

Murni mengaku senang menjadi tenaga pengajar untuk anak-anak autis di sekolah ini. Karena ia bisa bertemu dan bertukar pengalaman dengan guru-guru yang sejurusan dengan dirinya. Menurut pengakuan Elis, teman seprofesi Murni, walaupun anak-anak disini memiliki keterbelakangan mental, tetapi mereka anak yang menyenangkan. Bahkan mereka bisa lebih jeli jika dibandingkan dengan anak normal.

“Mereka juga suka memprotes baju gurunya kalo keseringan dipake”, timpal Murni.

“Iya bener tuh,” omongan Murni dibenarkan dengan cepat oleh Elis yang duduk di sofa persis sebelah Murni.

Murni juga pernah ingin dicium oleh salah satu muridnya sendiri. “Walaupun mental mereka terbelakang, tapi perasaan sayangnya biasa seperti orang normal. Mungkin dia pengen cium saya karena rasa sayang terhadap gurunya.”

Murni merasa kesulitan jika anak didiknya mengamuk secara tiba-tiba di dalam kelas. Ia mengaku sempat kewalahan menghadapi kelakukan mereka. Tetapi karena ia ingat bahwa mereka adalah anak-anak dengan mental yang terbelakang, maka ia pun menahan amarah dengan bersabar.

“Mau marah juga gimana, mereka gak ngerti apa-apa. Lagian kalau saya balik marah, mereka malah ketawa-tawa. Mereka kalau ngamuk spontan langsung ngegigit, langsung menyakar,”wanita 33 tahun ini menceritakan dengan antusias sambil memperlihatkan pergelangan tangan kanannya yang dicakar oleh Nico.

***

“Yang penting anaknya mengerti dengan apa yang saya ajarkan.”

Inilah prinsip yang Murni pegang selama mengajar. Ia tak berharap lebih terhadap anak-anak didiknya harus menjadi pintar layaknya anak pintar pada sekolah anak normal. Yang ia prioritaskan adalah kepahaman anak terhadap pelajaran yang diberikan oleh Murni selama jam sekolah berlangsung.

Suasana kelas sesaat sebelum anak-anaknya dipulangkan
Jangan Anda bayangkan pembelajaran kelas 5 SD anak normal setara dengan pelajaran anak kelas 5 SD di sekolah khusus anak dengan mental terbelakang ini, tentu sangat amat berbeda sekali. Jika pelajaran Matematika pada kelas 5 SD anak normal diajarkan perkalian dan pembagian angka, namun di Skh ini anak kelas 5 SD hanya diajarkan pertambahan atau pengurangan angka sederhana saja. Ini terlihat ketika anak-anak didik Murni akan dipulangkan saat bel sekolah berbunyi, Murni memberi mereka pertanyaan mengenai pertambahan angka sederhana.

“Cindy, 5 ditambah 4, berapa?” tanya Murni dengan suara lantang kepada sang ketua kelas.

Anak yang dipanggil pun dengan sigap menghitung dengan bantuan kesepuluh jarinya. Karena ia bisa menjawab pertanyaan sang guru dengan benar, maka ia pun boleh pulang.

Anak berikutnya yang kebagian pertanyaan adalah Akhsan, anak yang paling iseng menurut ibu dua anak ini.
“Akhsan, 4 ditambah 5, berapa?”

Sama seperti Cindy, Akhsan pun mencoba menjawab pertanyaan sang wali kelas dengan bantuan jari-jari mungilnya. Murni pun melakukan hal serupa kepada keenam sisa anak yang berada di dalam kelas pada hari itu. Tentunya dengan angka sederhana yang berbeda-beda pada setiap anaknya.

Salah satu murid yang sedang berhitung agar bisa pulang
Menurut cerita Murni, Akhsan mengalami penyakit Hydrocepalus. Tentu ini membingungkan karena jika melihat anak ini secara langsung, kita tidak akan melihat besarnya kepala Akhsan. Karena ciri-ciri pasien pengidap peyakit Hydrocepalus adalah kepalanya akan lebih besar daripada tubuhnya sendiri.

Ini adalah Akhsan
“Anak itu sudah koma. Orang tuanya sudah kemari, minta maaf sama guru-guru, memohon ampun untuk segala perbuatan yang sudah dilakukan Akhsan selama di sekolah. Tapi Alhamdulillah sekarang anak itu udah bisa sekolah lagi,” ungkap Murni dengan raut wajah sedih.

“Tapi itu anak juga isengnya kebangetan,” lanjutnya dengan nada kesal dan dilanjutkan dengan tawa.

Akhsan pernah menjahili salah satu teman sekelasnya, Arif, dengan melempar penghapus karet milik Arif keluar jendela kelas mereka.

Murni menegur Akhsan dengan nada agak tinggi, “San, kamu ya yang ngebuang penghapus Arif?”

“Ngga, bu” jawab Akhsan dengan nada polos dan memperlihatkan kedua telapak tangannya yang kosong.

***

Kesabaran Murni dan ke 39 guru lainnya di sekolah ini diuji ketika anak yang mereka didik tiba-tiba memberontak dan tidak mau belajar. Menurut Murni, menghandle anak-anak yang sedang seperti itu penanganannya berbeda-beda. Tergantung perilaku dari anaknya sendiri.

Jika salah satu anak didiknya ‘kambuh’, ia akan mengajak sang anak untuk bermain. “Buat si anak seneng dulu, balikin mood dia jadi bagus lagi. Nanti kalo udah kaya gitu, baru deh lanjut lagi belajarnya.”

Tetapi jika mood sang anak tak kunjung kembali, maka Murni pun tak bisa berbuat banyak selain memperhatikan tingkah laku lucu sang anak.

“Mereka tuh kadang-kadang nyebelin, bikin kesel. Tapi terkadang mereka juga bisa bikin kita tertawa karena tingkah laku mereka yang konyol”

Ya, kuncinya mengajar anak terbelakang adalah sabar. Mau marah dan kesal seperti apapun kepada mereka, mereka tak akan pernah mengerti apa yang kita rasakan. J


Oleh Ella Elsadilaga 

Vladimir Ivan: Teater Itu Nafas Hidup Saya




Take Home Test UAS Penulisan Feature
Profil - Sutradara Teater
Oleh: Desy Hartini
11140110059



Teater KataK - Perkawinan




“Kawin! Kawin! Kawin! Siapa butuh kawin?! Nikah!” Ahmad setengah berteriak

Ia menyeruput air yang ada di genggamannya…

“Berumah tangga? Nanti juga berantem, cekcok di rumah tangga terus cerai! Merepotkan aparat Negara yang mencatat penikahan!”

Jeda

“Memangnya kenapa kalau tidak menikah? Nggak papa kan? Nggak mati… Nggak mokat”

Jeda…
Tak lama ia merasa sedih…
Ia melihat penonton…

“Apa liat – liat? Jangan kira aku iri ya? Aku pantang untuk iri hati! Semua aku punya, harta, uang, jabatan, pekerjaan, kedudukan!”

Jeda…

“Aku punya segalanya… Kecuali itu… itu…”

Ia merasa sedih…
Lantas ia berteriak keras…

“Hiks… aku ingin menikah…” teriak Ahmad dan ia pun langsung pergi.....



***


Saya duduk di barisan belakang. Terlihat di depan panggung, beberapa pemain tengah berlatih teater untuk pementasan ke-22 mereka. Crew di balik pementasan pun terlihat sibuk. Sebagian menyiapkan kostum. Adapula mengurus lighting dan properti. Beberapa lainnya pun tampak asyik dengan suguhan latihan teater itu. Lampu yang berfokus ke arah panggung membuat semua mata tertuju pada seorang pemain berbadan tinggi yang berperan sebagai Ahmad, si pelamar. Sejenak, para pemain berhasil membuat para penonton, termasuk saya tercengang dengan penampilan teater kampus yang telah aktif sejak 4 tahun lalu. Judulnya Perkawinan. Sebuah teater yang diadopsi dari karya Nikolai Gogol.  

Ketika itu, latihan teater tengah diadakan di Function Hall, Universitas Multimedia Nusantara, Gading Serpong. Ruangan itu gelap. Tak ada penerangan. Hanya sebuah cahaya lighting yang menyorot ke arah panggung. Sebuah meja dan bangku tertata rapi di sana. Beberapa koran tergeletak di atas meja. Mantel dan topi pun tergantung di sudut ruang. Di sampingnya, sebuah lemari tua berwarna coklat masih berdiri kokoh. Bangku rotan panjang terlihat di sisi kanan. Suara para pemain masih terdengar. Pementasan pun dilengkapi dengan para pemusik yang duduk di depan panggung dengan berbagai jenis alat musik.

Lelaki berambut gondrong itu tengah berdiri di antara para pemain teater sampingan sambil melipat kedua tangan di depan dadanya. Tatapannya masih menghadap ke arah panggung. Sore itu, ia mengenakan baju barong berwarna hijau dan celana panjang hitam. Di tangannya sebuah naskah yang telah ia revisi sekitar setahun yang lalu. Sesekali, ia setengah berbisik kepada pemain sekaligus sedikit mengarahkannya.

“Ayo pemain yang belum dateng, coba disms atau ditelpon. Yuk, saling care satu sama lain,” ujar Ivan kepada tiga orang pemain di belakang yang tengah sibuk merapikan kostum mereka.

Venantius Vladimir Ivan
Namanya Venantius Vladimir Ivan, akrab disapa dengan Kak Ivan. Lelaki kelahiran 14 April 1983 ini tidak pernah menyangka jika dirinya dapat terjun ke dunia teater, baik sebagai pemain maupun pelatih. Semua berawal pada tahun 2001 ketika ia memutuskan untuk bergabung dalam Teater Tablo sebagai pemain, sembari mengenyam pendidikan S1 di bangku kuliah. Sejak saat itulah, teater telah menjadi nafas dalam hidupnya.

“Awalnya itu cuma jadi pemain di Tablo, judul naskahnya Kisah Sengsara Yesus, waktu itu ada yang nawarin aku untuk jadi pemeran Yesus. Akhirnya, aku coba dan ternyata jadi suka dengan teater. Sampai sekarang jadi main terus,” kenang Ivan.

Rupanya, lelaki berperawakan tinggi ini memang memiliki bakat terpendam dalam dunia peran dan teater. Terbukti dengan dirinya yang mampu melakoni peran Yesus dengan sempurna dan disambut dengan berbagai pujian.

“Pertamanya sih emang gak yakin untuk ngajak ivan tapi karena penampilannya yang gondrong saat itu sangat cocok dengan pemeran Yesus. Dia pun mau untuk belajar dan juga mudah dilatih sehingga karakternya dapat dari dirinya sendiri. Dia ternyata emang punya bakat. Setelah itu, aku suruh dia melatih para pemain di Tablo,” ujar Christian Tanuwijaya, sutradara Teater Tablo.

Ketika itu, lantaran Ivan merupakan pemeran utama dalam pementasan Kisah Sengsara Yesus, ia diberikan latihan ekstra dan khusus sekitar 2 bulan oleh sang sutradaranya. Christian pun juga tak menyangka jika Ivan cepat menguasai perannya walaupun terkadang kerap mengeluh lantaran kesakitan.

“Uniknya itu ketika latihan, Ivan tuh selalu mengeluh kesakitan karena sering dicambuk dan dipukuli, terus harus memanggul salib. Namun, ketika pementasan berjalan, justru ia tidak mengalami kesakitan sama sekali padahal lukanya benar-benar berdarah dan memar. Mungkin karena penjiwaannya jadi lupa dengan memar-memar dan lukanya yang sakit itu,” ujar Christian.


Sementara karir kepelatihan teater Ivan bermula dari tahun 2003, berawal dari melatih teater di pastoran. Perlahan demi perlahan, sambil belajar dari berbagai kesalahan, lelaki yang hobi membaca ini mulai melatih teater di berbagai sekolah, universitas, dan gereja di daerah Jakarta hingga Tangerang. Hingga saat ini, jabatannya sebagai sutradara dan penulis naskah teater menjangkau sekitar 35 tempat. Kecintaannya terhadap dunia teater tak pernah membuatnya merasa jenuh karena hal itu merupakan hobinya. Ivan pun rela jika dirinya tidak dibayar ketika melatih. Hal itu karena ia melakukannya dengan rasa cinta terhadap dunia teater. Setiap hari, ia selalu melatih teater di 3 hingga 4 tempat dan selalu pulang ke rumah di bilangan Jakarta Timur pada tengah malam. Hal itulah yang menyebabkan Ivan jarang menghabiskan waktunya bersama keluarga, bahkan di hari minggu sekalipun.

“Itu mungkin kelemahan Ivan. Waktu yang ia berikan kepada orang-orang tertentu seperti keluarganya menjadi sedikit,” ujar Yogie Pranowo, sahabat dekat Ivan.

Selain melatih, ivan juga menulis naskah pementasan sendiri. Hingga kini sudah ratusan naskah yang telah ia ciptakan dan pentaskan. Salah satunya perkawinan, yang akan dipentaskan untuk kedua kalinya di bilangan Menteng. Selain itu, adapula beberapa naskah lainnya seperti Kejatuhan Manusia (2009), Jatuh Cinta (2009), Apakah Cinta Sudah Mati (2010), Adaptasi dari The Marriage, yaitu Perkawinan (2012), Adaptasi dari Broadway (2013), dan masih banyak lainnya.

Anak pertama dari dua bersaudara ini mengaku pernah mementaskan 5 naskah berbeda dalam sehari. Ia pun terpaksa hanya hadir di salah satu pementasan teater tersebut. Seluruh naskah pementasan yang telah ia ciptakan sejak 2003 silam diberi nama Agrippina, lahir untuk terkenal (Bahasa Latin). Terkadang, ia pun juga membuat lagu atau backsound untuk pementasan yang akan ia pentaskan tersebut.

Ironis, kesuksesan yang telah ia raih dalam bidang teater pun sungguh bertolak belakang dengan pendidikan yang telah ia tempuh semasa kuliah. Gelar strata 1 dan strata 2 berhasil ia raih dengan jurusan hukum di Universitas Atma Jaya dan Universitas Tarumanegara. Ivan mengaku memilih hukum karena ia memang cinta dengan dunia tersebut. Ia pun tak berniat untuk bekerja di bidang sesuai kuliahnya itu.

“Kenapa yah? Udah bosen tuh belajar hukum mulu, mending main dan ngelatih teater aja,” ujar Ivan sambil tertawa ketika ditanya alasan tak ingin kerja di bagian hukum.

Rupanya, jiwa professional yang dimiliki Ivan menarik simpati dan kagum banyak orang. Salah satu resep kesuksesannya adalah selalu berani mencoba. Ia tak segan-segan belajar segala sesuatu dari siapapun, entah itu sutradara papan atas maupun amatiran, entah mahasiswa maupun anak TK sekalipun. Kerap kali, ketika ia melakukan kesalahan dalam menulis naskah atau mementaskannya, ia tak malu dan akan belajar dari kesalahannya tersebut.

“Tiap orang pasti pernah kok bikin kesalahan, abis itu yah bikin dan benerin lagi aja. Pasti memang banyak kesalahan. Selain itu, aku juga suka melihat teater-teater lain yang pentas dan belajar dari mereka juga. Prinsip aku learning by doing, belajar sambil lakukan,” ujar lelaki yang dulu memiliki cita-cita sebagai astronot ini.

Sikap rendah hati yang dimilikinya pun selalu menjadikannya untuk selalu mendengarkan pendapat orang lain dan memberikan kesempatan anak didiknya untuk mengekspresikan dirinya. Ivan selalu dapat menempatkan dirinya ketika melatih anak-anak kecil, siswa SMP dan SMA, mahasiswa, maupun orang tua.

“Itulah kelebihan dia, Ivan tuh sutradara professional. Ia tahu bagaimana cara menghadapi anak-anak kecil hingga orang tua sehingga latihan teater pun dapat menjadi lebih efektif. Waktu itu juga pernah satu produksi teater bareng ivan di SMP-SMA Darmajaya. Kemudian ketika sedang latihan, ada seorang anak yang ketika dikasih tahu justru memberikan penawaran. Nah, yang dilakukan ivan itu justru tidak langsung memotong perkataan si anak tetapi dia mendengarkan dan melihat apa yang ia lakukan hingga selesai. Lalu, kita pun saling mencari sintesisnya bersama,” kenang Yogie.

Gaya kekeluargaan dan kedisiplinan merupakan dua hal yang selalu diusung  oleh Ivan dalam melatih teater di berbagai tempat. Hal itu berarti jika tidak ada garis yang membatasi ruang gerak sesama anggota teater yang berasal dari angkatan, fakultas, latar belakang agama, ras, dan budaya. Ivan mengaku jika semua sama dan semua satu keluarga.

Selain itu, dalam dunia peran tentu bukan hanya menghafal naskah maupun melakoni peran saja, melainkan harus memiliki suatu kedisplinan dalam berlatih. Lelaki yang juga seorang dosen Character Building ini mengaku jika tantangan tersulit dalam melatih adalah ketika mereka tidak memiliki kedisiplinan untuk datang mengikuti latihan. Hal itulah yang kerap dianggap Ivan sebagai hal terburuk.

“Kalo menurut aku, ketika gagal pementasan karena mati lampu ataupun hujan bukan merupakan hal yang buruk, itu merupakan proses. Namun, ketika orang sudah tidak mau latihan itu adalah hal terburuk. Orang yang tidak disiplin dalam latihan juga merupakan hal terburuk. Sementara itu, gak ada hal yang terburuk selain kedua hal itu,” ujar Ivan sambil menyeruput minuman di hadapannya. 

Beberapa hal yang menjadi candu bagi Ivan dalam dunia teater, yaitu ketika sebuah pementasan dapat berjalan dengan lancar dan saat mendengar tepuk tangan penonton seusai pentas itu berakhir.


Makna teater bagi anak dari pasangan Alm. Y. Arief Biantoro dan L. Nur Indrawati ini adalah teater bukan hanya merupakan seni, melainkan teater dapat membuat disiplin pribadi dan tentunya menyampaikan pesan dan kesan terhadap orang lain dan dapat ditangkap oleh masyarakat luas. Selain itu, teater dapat dilakukan dengan proses yang panjang dan butuh biayanya yang tidak murah, sementara dunia teater pun kini kurang diminati oleh masyarakat zaman sekarang. Hal itulah yang mendorong Ivan untuk terus maju dan mengenalkan teater kepada banyak orang. Kata gagal pun tidak pernah terbesit dalam benaknya sekalipun. Ia selalu menekankan untuk selalu belajar dan belajar tanpa harus mengenal kata putus asa.

“Gagal itu ketika kamu memutuskan untuk tidak mau mencoba lagi, itu gagal namanya. Ketika kamu memang niat dan ingin terus mencobanya, pasti bisa. Kalau ada niat pasti bisa kok.” Ujar Ivan mengakhiri.

Target hidupnya pun simple. Ia ingin dapat senang-senang dalam hidup, dapat terus main dalam hidup. “Apapun yang Tuhan ingin lakukan yah aku lakukan. Pokoknya lebih bisa mengaplikasikan apa yang Tuhan inginkan dalam hidup ini,” ujarnya.

Waktu berjalan cepat. Percakapan kami pun terhenti. Ia memutuskan untuk kembali melatih teater di bilangan Grogol siang itu. “Tidak ada yang mustahil bagi orang yang percaya”. Itulah motto yang dipegang oleh lelaki beragama katholik itu.



@desyhartini ♥

Bunda Karsiah, "Kasih Ibu Sepanjang Masa"

Raut kesedihan dan kekecewaan bercampur menjadi satu tatkala dia mengingat kembali tragedi itu. Terlalu dalam luka yang ditorehkan hingga sulit untuk disembuhkan. Inilah yang dirasakan oleh Karsiah selama lima belas tahun belakangan.
Sore itu langit tampak mendung, bersamaan dengan turunnya rintik-rintik hujan. Namun suasana itu tak lantas menyurutkan keinginan Karsiah untuk kembali kerumah. Dengan semangat, kaki mungilnya berjalan menyusuri  jalan besar dan kemudian masuk ke sebuah gang sempit yang padat dengan penghuni. Setelah kurang lebih lima belas menit berjalan, tibalah dia di sebuah rumah bercat kuning bertingkat satu.
Di dalam kamar berukuran tiga kali dua meter persegi, Karsiah yang biasa dipanggil ‘Bunda’ ini menetap. Dengan ukurannya yang terhitung kecil, kamar tersebut dipenuhi dengan berbagai barang. Mulai dari lemari, tempat tidur, televisi, dan pakaian-pakaian yang tergantung diluar lemari, membuat suasana kamar menjadi sesak. Tetapi disinilah bunda beristirahat, menghilangkan kepenatan selepas bekerja. Di salah satu bagian kamar, terpampang sebuah foto anak laki-laki berkacamata besar dengan senyum tersungging dari bibirnya. Foto itu sudah tampak sedikit usang, dilihat dari gaya anak tersebut jelas menunjukkan kesan oldies.
Dialah Hendriawan Sie, putra semata wayang bunda Karsiah yang telah tiada karena suatu peristiwa yang tidak pernah ia duga sebelumnya. Peristiwa yang telah mengukir sejarah bagi bunda Karsiah dan bangsa Indonesia.
credit to: kabarkampus.com

Montir Keliling Ala Lady Rocker

Pagi itu angin bertiup cukup kencang di sekitar kawasan Tangerang kota. Dari kejauhan tampak sesosok wanita berkaus hijau tua dipadu dengan celana jeans belel tengah berkutat dengan gelas plastik dan sebungkus kopi. Sekilas, wanita ini tampak seperti pedagang minuman keliling biasa. Membawa beberapa kardus minuman botol dan termos diatas gerobak berwarna oranye yang lebih mirip dengan rak bertuliskan “Teh Botol”. Tak lama kemudian, gelas berisikan kopi sudah siap di tangan dan dia berikan kepada seorang pemuda yang tengah duduk di trotoar. Semakin mendekat, wanita ini tersenyum kepada saya. Dengan rambut terurai ala lady rocker era 90-an, saya tidak menyangka perempuan yang biasa dikenal dengan nama Ida ini begitu baik dan ramah.
Disinilah saya menemukan pemandangan yang agak berbeda dari biasanya. Dibawah kotak-kotak minuman yang dijualnya, terselip sebuah tabung besar lengkap dengan selang panjang. Karena warna tabung yang senada dengan warna rak, membuat saya tidak menyadari itu adalah tabung kompresor. Ya, tabung yang dipakai untuk menambah angin pada ban motor itu terletak persis dibawah minuman dagangan Ida. Sudah  hampir 17 tahun ini Ida bekerja sebagai “Montir” keliling untuk membantu suaminya memenuhi ekonomi keluarga.
“Awalnya suami yang profesinya seperti ini, dulu suka bantu-bantu.. lama-lama ikut jatuh cinta sama kerjaan ini. Yang bikin alat-alat ini juga suami saya, tapi karena penglihatan dia sudah mulai berkurang, saya jadi mata dia dan lama-lama saya yang dominan bekerja.”
Bersama suaminya, Sutarya, mereka sejak dulu bekerja sebagai montir. Akan tetapi, dahulu mereka menjalankan usahanya dengan menyewa sebuah ruko. Sayangnya, karena semakin lama penghasilan yang didapat semakin menipis, Ida dan suaminya beralih menjadi montir keliling hingga sekarang. Memiliki enam orang anak membuat Ida mau tak mau harus ikut membantu suaminya demi menambah penghasilan keluarga. Apalagi lima dari empat dari enam anaknya masih membutuhkan biaya sekolah yang tidak sedikit. Bahkan kini dapat dikatakan Ida menjadi tulang punggung utama sejak kondisi kesehatan suaminya menurun.
Penghasilan yang didapatnya memang tidak besar. Untuk menjadi montir atau perbaikan-perbaikan Ida mendapat Rp 100.000-Rp 150.000 perhari. Sedangkan dari hasil menjual minuman hanya sedikit, karena ida menyajikan minuman-minuman itu untuk customernya.
“Paling buat orang2 yang tambal ban atau isi angin disini kalau habis dorong2 motor kan capek, haus.. Cuma nyediain untuk itu aja sih gak khususin jualan minuman.” Terangnya.
Setiap hari Ida dan suami mengawali perjalanan mencari rezeki menuju Pizza Hut Tangerang City dengan menggunakan gerobak motor hasil rancangan suami. Beruntung jaraknya tidak begitu jauh dari rumahnya. Kemudian menjelang siang dia akan berpindah lokasi kedepan halte salah satu kampus yang letaknya juga tidak jauh dari lokasi sebelumnya. Sementara itu, suaminya tidak berpindah tempat. Selama bekerja, Ida acap kali membawa serta anak bungsunya, Zaki yang masih balita, dan siangnya anak Ida yang masih duduk di bangku SMP akan beralih menemaninya mangkal. Pasangan suami istri ini bekerja sejak pukul enam pagi hingga pukul sepuluh sampai dua belas malam demi seperak-dua perak uang.
Tujuh belas tahun bukanlah waktu yang sebentar bagi wanita kelahiran Cirebon, 11 Juli 1970 ini dalam menjadi montir keliling. Berbagai macam suka duka telah dia rasakan. Awal-awal bekerja sebagai montir, salah satu perkakasnya pernah “mental” mengenai lehernya hingga dia pingsan selama enam jam. Selain itu juga banyak orang yang mencemoohnya, merasa tidak percaya dengan kemampuan Ida memperbaiki onderdil motor.  Bahkan Ida terkadang disalahkan apabila ada kerusakan yang bukan disebabkan olehnya.
“banyak pengalaman saya, kalau diceritain nggak bakal habis satu buku. Kalau saya punya diary kayak anak-anak sekarang mah mungkin udah abis..”
Resiko lain yang dihadapi oleh Ida selama bekerja sebagai montir adalah berhadapan dengan Satpol PP. Maklum saja, sebagai montir keliling ida tidak memiliki tempat mangkal yang tetap apalagi zurat izin. Jadi, apabila satpol PP muncul, dia akan cepat-cepat kabur atau bersembunyi.
“Satpol PP musuh saya.. ya.. nggak nyalahin mereka sih, mereka kan juga tugas.”
Namun, dibalik profesinya yang keras itu, Ida memiliki sisi lain yang mengejutkan. Sebelum bekerja sebagai montir, ida merupakan seorang ibu rumah tangga biasa yang merawat anak-anak dirumah. Menariknya, ida memiliki hobi menulis puisi dan cerita. Dulu dia sering mengirimkan karya-karyanya itu ke majalah-majalah lokal di Bandung yang lumayan menghasilkan.
Kerinduan yang sangat
Telah membuat langkahku tertatih
Kesunyian taman hati
Kini berhias bayangan dirinya yang samar
Seperti menungguku di ujung jalan sana….
Penggalan puisi  diatas merupakan buatan asli Ida yang dia persembahkan untuk idolanya, Michael Jackson ketika King of Pop itu wafat pada 2009 lalu. Selain gemar menulis puisi, Ida juga merupakan fans dari selebriti legendaris dunia itu sejak duduk di bangku sekolah menengah pertama. Bahkan, saking terobsesinya, Ida sempat mengikuti kursus bahasa Inggris selama satu tahun delapan bulan demi mendalami Michael Jackson.
Sayangnya, sang suami kurang mendukung hobi ida ini. Sutarya menganggap hal ini tidak berguna karena dia kurang paham dengan hal-hal semacam ini.
Beruntungnya, Ida benar-benar seorang wanita dan istri teladan. Tidak ada rasa menyesal pada dirinya karena dia tidak dapat mengembangkan hal-hal yang dia sukai demi suami dan keluarga. Dia memegang teguh prinsip dan tanggung jawabnya saat ini.
“Kalau bisa dibilang profesi ini jauh dari pribadi saya, cita-cita saya. Tapi yang penting kita nikmatin..”
Ida merupakan satu dari skeian juta wanita di dunia yang patut kita contoh. Sesulit apapun, suka atau tidak terhadap suatu hal, yang penting kita harus ikhlas menjalaninya. Karena dengan keikhlasan segalanya akan terasa lebih mudah dan ringan.


“Nikmati kerjaan.. dan bolehlah emansipasi wanita, tapi di hal yang positif. Bukan berarti kalau kita bergaul di jalanan kita juga harus ikut mabuk-mabukan”-Farida Hamdini/Ida-

BERKISAH DARI SEORANG GURU


BERKISAH DARI SEORANG GURU

Hanya mengaku suka dengan anak-anak dan pintar saja, tak cukup untuk kita mampu mendidik seorang anak. Hal itu diakui oleh seorang Ibu dua anak yang menjadi salah satu relawan bersama teman-temannya membangun sebuah tempat pendidikan untuk anak-anak yang menurut SISDIKNAS pada UU SISDIKNAS No.20/2003 ayat satu adalah usia 0-6 tahun,di sekolah Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) di daerah Bekasi.
Rini Mulyani, wanita berdarah sunda ini sudah kurang lebih dua tahun mengajar sebagai guru PAUD dengan dasar sosial untuk membantu anak-anak yang tidak mampu untuk masuk sekolah pendidikananak-anak swasta yang ada. Di sekolah PAUD tempat ia mengajar, tidak dipungut biaya yang besar dan pengajar tidak diberi upah.
“Kami hanya membuaka sebuah tabungan untuk anak-anak dengan minimum 30 ribu rupiah per bulan, dan uang itu dipakai untuk fotocopy bahan bacaan anak dan liburan bersama setiap dua bulan sekali”, ujar Rini saat ditemui sedang menemani makan siang anak keduanya, Sasha.
Selama mengajar sebagai seorang guru PAUD, Rini mengalami hal-hal unik dengan anak-anak yang diajarnya. Mulai dari mengajar anak yang bandel dan sulit diatur hingga anak yang memiliki kebutuhan khusus. Menurut wanita kelahiran 19 Oktober 1972 ini, “Mengajar anak kecil zaman sekarang terlihat sulit dibanading saat saya melihat Ibu saya mendidik adik saya yan berumur 4 tahun”, tuturnya.
Mengajar anak-anak di usia dini seperti ini dibutuhkan kesabaran dan kecakaan khuusus. Sebal dan kesal dalam menghadapi anak-anak sudah menjadi biasa. Ketika rasa itu muncul, dia langsun bersabar dan memikirkan kemabli soal komitmentnya dalam mengajarkan secara cuma-cuma dengan dasar sosial melalau bantuan mengajar di PAUD ini.
Pernah suatu hari, Rini mendapatkan seorang murid berkebutuhan khusus, yaitu murid yang mengidap penyakit autis. Anak berkebutuhan itu sebenarnya tidak masuk ke sekolah itu , melainkan masuk ke Sekolah anak berkebutuhan khusus agar dia mendapatkan pendidikan yang layak. Tapi, karena orang tua si anak tidak mampu untuk memasukkan anaknya ke sekolah tersebut akibat kendala biaya, jadilah sekolah PAUD tempat Rini mengajar menerima anak tersebut.
Di suatu pagi, setelah semua anak selesai melakukan senam pagi. Anak tersebut kedapatan tengah mengacak-acak kelas dengan melepas dan merobek hasil karya gambar teman-temannya yang di tempel di dinding kelas. Rini yang melihat kejadian tersebut, langsung ber-istighfar sambil mengelus dada, “ Astaghfirullahaladziim”.
“Saya tidak bisa memarahi ataupun menegur anak tersebut, karena saya takut bertindak salah memperlakukan anak berkebutuhan khusus itu. Lebih baik, saya dan teman-teman guru lainnya menunggu hingga ia tenang dan kami bereskan bersama kelas yang sudah berantakan itu”, uajar Rini. 
Ibu dari Inez dan Sasha ini, selain sebagai guru di sekolah PAUD, Ia juga mengajar les untuka anak TK dan SD kelas 1-3 di rumahnya setiap sorenya. Pekerjaannya sebagai guru PAUD tidak membuatnya merasa terganggu dengan pekerjaannya sebagai Ibu rumah tangga juga. “Saya sih seneng-seneng aja ngejalaninnya, toh ini saya lakukan atas dasar sosial,” ujarnya.
Mengajar anak-anak kecil juga sempat membuatnya kalang kabut saat mengahadapi anak kecil yang sudah bisa mempermainkannya. Saat itu, kelas pagi tengah berlangsung, Ridho anak laki-laki yang paling aktif dikelas menolak untuk ikut belajar bersama teman-temannya di kelas. Dia lebih memilih untuk bermain di arena bermain sekolah. Saat itu Rini memintanya untuk segera masuk ke kelas.
 “Ridho, ayo ke kelas, belajar dulu, mainnya nanti lagi. Nanti kalau kamu main terus kamu gak bisa ikut berenang bareng temen-temen hari sabtu”, ujar Rini mengenang saat itu. “Gak mau bu guru, aku mau maen aja. Aku udah berenang kok kemaren sama mama-papa”, balas Ridho. “Berenangnya ini beda, nanti kita ke Galaxy*, ujar Rini. (* tempat berenang di daerah Bekasi). “Berenang kan sama aja, sama-sama maen air bu. Aku gak mau ah,” ujar Rini menirukan gaya bahasa Ridho saat itu.
Mengajar anak-anak kecil yang memiliki karakter yang berbeda-beda tak membuat ia menyerah untuk mendekatkan dirinya pada anak-anak. Pernah suatu hari ada murid baru, kembar perempuan. Sejak kedatangan kedua anak kembar itu hingga kini, Rini masih mengalami kesulitan dalam membedakan kedua anak itu, karena sangat-sangat kembar identik.
Saat itu, Rini mencoba untuk membedakan kedua anak itu dengan bertanya, “Mana yang namanya Nayla? Mana yang Kayla?”. Kedua anak tersebut diam. Rini semakin bingung karena tak ada jawaban dari anak tersebut. Ia pun mencoba lagi dengan pancingan sebuah permen lollipop yang ia siapkan di saku bajunya. “Kayla, ini permen buat kamu,” ujarnya saat itu sambil melihat satu per satu anak tersebut. Akhirnya yang mengaku sebagai Kayla, meraih permen dari tangannya.
Walaupun sudah dicoba demikian, Rini masih sering tidak bisa membedakanya. Pernah suatu hari saat jam pulang sekolah. Dia menghampiri Ibu dari Kayla dan Nayla. “Bu, bisa nggak, besok-besok mana yang Kayla dan mana yang Nayla dibikin perbedaan. Misal Nayla rambutnya dikuncir dan Kayla dipakein bando. Saya masih susah bedainnya,” Ujar Rini kepada Ibu si kembar yang hany dibalas dengan tertawa kecil mendengar keluhan guru anak kembarnya.
Masih banyak kisah-kisah menarik lainnya yang dialami Rini dalam mengajar sebagai guru PAUD. Baginya mengajar untuk sekolah sosial adalah perbuatan yang menyenangkan karena dapat membantu anak-anak yang membutuhkan pendidikan di usia dini dengan suka rela. Karena, walaupun masih banyak anak yang tidak bisa sekolah karena kesulitan biaya, ia dan teman-teman bisa membantu anak-anak tersebut dengan tindakan kecil ini. Semoga pemerintah mampu menyediakan sarana pendidikan yang dapat memudahkan masyarakat menengah ke bawah. Itu harapannya.