Showing posts with label Mingguan. Show all posts
Showing posts with label Mingguan. Show all posts

Wednesday, June 19, 2013

Nekad dengan Perhitungan

Feature Sosok/Tokoh

Nekad itu terjadi pada saat kita tau kemampuan kita dan tau kalau ada beberapa hal yang tidak bisa kita lakukan namun masih kita lakukan, namun kalau ‘punya nyai’ itu adalah kita tau kapasitas kita dan kita tau kalau kita bisa berhasil di satu hal dan kita punya keberanian untuk itu, nah itu baru disebut ‘’punya nyali’. ‘punya nyali’ disini diartikan kita masih ragu akan kemampuan kita yang membuat kita akhirnya tidak maju atau staknan pada suatu hal

Mengapa ada hal tersebut ? karena memang disini saya membahas tentang seseorang yang notabennya Nekad untuk melakukan sesuatu, namun akhirnya toh diujungnya atau sekarangnya dia berhasil dalam artian bukan sekedar sukses tapi apa yang dihasilkan benar benar menyebar ke segala penjuru dan hasil dari pekerjaannya telah membuat mimpi beberapa orang itu terwujud.

Perkenalkan, Bapak ini adalah David Karto

Bukan David Katro, seperti guyonan Tukul Arwana terhadap orang desa yang belum melek teknologi.

David Karto adalah seorang pengusaha di bidang Musik. Dia adalah orang Jakarta yang katanya tumbuh besar di daerah Mangga Besar dan tergabung dalam Geng yang disegani disana yaitu Pacinko. Saya tau soal Geng itu yang mempunyai ciri khas menggunakan Motor RX King dan membawa Samurai. Pengalaman dia adalah dari umur 17 dia menjadi DJ dengan pemikiran ingin memberikan hal baru kepada para pendengan sesuatu yang mungkin mereka belum pernah dengar.

Setelah 10 Tahun, akhirnya David berhenti menjadi pemutar piringan hitam dengan mesin elektronik, dia akhirnya membuat sebuah Toko yang menjual Vinyl atau dikenal dengan Piringan Hitam yang dimainkan dengan alat yang menggunakan Jarum, dan itu didirikannya di Gandaria yang menjadi awal sebuah Label Rekaman Independen nomor 1 di Indonesia, Demajors.

Awalnya Demajors adalah took yang menjual Vinyl, namun siapa yang sangka kalau akhirnya Demajors menjadi salah satu Perusahaan Rekaman yang paling digemari para musisi. 2001 awal didirikannya sebuah took yang menjual Vinyl dan kemudian mendirikan Demajors bersama dua rekannya, Adhi Djimar, dan Sandy Maheswara pada 30 Maret 2001.

2004. Demajors akhirnya bisa masuk ke ranah music Indonesia melalui jalur distribusi terlebih dahulu. DeMajors yang saat ini mengumpulkan lebih dari 100 artis lokal dengan beragam gaya musik. Artis seperti Rieka Roeslan,(Alm) Bubi Chen, Pure Saturday, Endah n Rhesa, Anda Perdana, Efek Rumah Kaca, tumbuh bersama DIMI (Demajors Independent Music Industries) dalam menegakkan iklim musik non-mainstream di Indonesia. Dan lebih dari 10 Artis non Indonesia juga berkerjasama dengan Demajors.

Demajors juga bertujuan untuk membina hubungan antara musik non-mainstream Indonesia dengan saingan internasionalnya. Rilisan DIMI saat ini dapat ditemui di took  musik ternama (Musik Plus, Disc Tarra, Duta Suara) maupun concept store (Goods Dept, Omuniuum, Unkl) yang tersebar di beberapa kota besar di Indonesia.

Kerja keras Demajors selama 10 tahun terhadap musik ditandai dengan dianugrahi oleh Rolling Stone Magazine Indonesia’s editor’s choice award untuk The New Alternative di tahun 2009. Di bawah nama merek Demajors, DIMI membuat De Majors Butik yang menjual CD, merchandise band yang tidak ada di toko-toko lain dengan harga yang sama, studio recording, terdapat pula hall yang tidak terlalu besar untuk coaching dan gelaran media meet & greet di Gandaria.

Pertemuan saya dengan David Karto sebenarnya bukan hal yang disengaja. Saya dipanggil ke Kantor Demajors perihal pengiriman CV saya yang diperuntukan untuk tim Demajors. Tidak disangka CV saya dibaca dan saya langsung diemail oleh David Karto soal pertemuan kami. Sebagai penggemar musik hasil Demajors maka menjadi ‘dag dig dug’ bukan hal aneh.

Di pikran saya adalah ‘Gila, gue mao ketemu David Karto’. Disamping segala kekaguman saya terhadap dia, David yang semula dipiran saya adalah orang yang Sombong dan perokok keras ternayat itu semua diputarbalikan dengan berbeda. David sangat ramah, dia menghampiri saya di halaman belakang Demajors dengan menggunakan Celana Pendek dan Kaos bertuliskan ‘Del Piero’ di pungggung.

Salaman atau berjabat tangan ? David sepertinya kurang menyukai, dia lebih menykai Tos Tinju yang selalu dilakukannya ke rekan kerjanya, karena saya mengalami penolakan salaman sebanyak 4 kali, maklum saya kebiasaan bersalaman. Saya pikir hanya saya yang tidak bisa bersalaman dengan mas David. Ternyata, semua rekannya pun diperlakukan hal yang sama, mulai dr OB, Bagian Jurnalistik, Orang Radio dampai Jimmy ‘Morfem’ dan Jamie Aditya saat mereka berkunjung ke kantor Demajors di Fatmawati.

Kesulitan awal Demajors jelas adalah Dominannya pasar music Mainstream, dan ketakutan tidak berhasilnya jika Demajors terus bergerak di aliran anti-mainstream, namun hal tersebut dipatahkan dengan kesuksesan Demajor mengorbitkan banyak Artis non mainstream namun yang berkulaitas jauh diatas musik musik kacangan di Indonesia. Bukti penjulan melebihi 300.00 keping CD dalam 4 Tahun bukanlah prestasi sembarangan.

‘itu kepingan yang dihitung, kita tidak tau untuk kepingan CD yang tidak dihitung, Hasil Pembajakan di Internet,dan segala rilisan via Online yang diunduh oleh para pengemar, kalau diingat ingat yah ini merupakan kesuksesan kita sebagai tim untuk tidak mengecewakan para Artis dan Bakat mereka’, kata David Karto.

 Tantangan Demajors sendiri adalah menurunkan tingkat pembajakan dengan cara kreatif. Karena pembajakan adalah salah satu kejahatan yang mematikan segala kreatifitas sang artis bahkan sebelum sang artis melakukan usaha untuk mengembangkan bakat mereka. Maka dari itu Demajors menjual setiap hasil rekaman mereka dengan package yang unik dan harga terjangkau sehingga meminimalisir segala bentuk pembajakan. Karena dengan ‘membeli’ kita menghargai hasil karya sang artis.

Banyak hal yang dilakukan untuk sukses di industri musik, mulai dari merilis CD, membuat acara, mengelola bakat artis, lisensi dan mendapatkan penghasilan tambahan agar para seniman merasa dihargai karya karya mereka. Untungnya, Demajors telah memiliki sendiri basis penggemar lokal yang akan dengan senang hati membeli cepat-cepat rilisan asli dari pada bajakan.

‘Mas David menyesal tidak menunggalkan dunia DJ dan segala music  Elektronik ketika Mas David melihat saat ini justru music sepertiitu sangat laku dipasaran ?’

David menjawab

‘wah, kalau mao nyesel mah, gue nyesel segala sesuatu, Josh. Mulai dr A –B C- D. Kalo gue pikirin bisa mati lama lama, kalau untuk nyesel si pasti ada cuma yah Life must go on, tapi ini yang gue senang lakukan, 12 Tahun bukan waktu yang pendek untuk Demajors. Kalau untuk DJ hanya musiman, ini ? gue mao bkin Everlasting !’

 tutup David Karto

‘Prinsip gue 1, kalau lu mao sukses yah jangan liat kebelakang, mereka ngak ada urusan sama hal didepan, kalau mau kita jalan bersama, ngak ada sukses ninggalin tim dibelakang, karena itu Demajors dibentuk sedikit orang dan yang bekerja hanya sedikit, biar kita semakin dekat dan berasa kekeluargaan, itu udah kesuksesan nomor 1 yang musti gue ciptakan’







 Joshua Gunadhi (11140110222)
Penulisan Feature
Bpk Samiaji Bintang



                                                       Joshuagunadhi.wordpress.com

Tembok Basah dan Berdarah

Feature Peristiwa

Ini bisa dibilang sebuah peristiwa yang sangat mengemparkan di daerah Jakarta Utara. Bisa jadi anda sudah pernah mengetahuinya dengan mambaca surat kabar yang menyajikan berita Kriminal sebagai unggulannya, bisa jadi dari mulut ke mulut atau berita televisi, namun jika anda ingin tau lebih dekat maka saya merupakan orang bisa dibilang cukup tepat untuk menceritakan hal ini, karena tempat tinggal saya hanya selemparan batu dengan tempat kejadian yang sempat menguncang itu, bukan hanya menguncang decak kagum karena seperti di film film luar negeri namun menguncang harga real estate di daerah Jakarta Utara.

Sekitar 14 tahun lalu…..

Lebih tepatnya tanggal berapa saya tidak tau persis karena saya masih berumur 6 tahun dan baru akan memasuki usia sekolah dasar.

Kami sekeliling mendapatkan kabar tidak mengenakan terjadi di perumahan kami yang dikenal damai dan tidak ada keributan, namun seketika itu juga mobil polisi datang, mengecek rumah kami satu persatu macam film NCIS atau CSI yang biasa kita tonton di televisi berlanganan.

Pintu diketok satu persatu apakah ada yang mengenal seorang bapak yang kita sebut saja Anton, karena memang ketika saya tanyakan ke narasumber soal kejadian itu yang tidak lain tidak bukan yang adalah ayah saya, ayah menolak untuk memberitahukan nama orang yang menjadi pokok kejadian masalah itu. Karena ini adalah salah satu kejadian paling menegangkan yang pernah terjadi di Sunter, Jakarta Utara

*********

Posisi tempat yang menjadi pokok permasalahan hari itu sekitar 14 tahun lalu tidak asing bagi saya, bahkan saya masih ingat suasana tempat tersebut karena memang hamper bersebrangan dengan teman kecil saya yang tinggal disana.

Suara pukulan batu, dan suara mesin pengaduk semen menjadi soundtrack disana.
Teriakan mandor menghiasi setiap harinya, dimana dipekerjakan 6 orang pembuat bangunan atau nama sederhana-nya adalah Kuli. Saat itu kira kira saya masih TK dan belum begitu mengerti sedang membuat apa, intinya saya hanya bermain dan lalu lalang disana hampir setiap hari.

Anton, seorang pria muda yang terkenal di komplek perumahan kita itu adalah seorang pengusaha dan mempunyai toko di daerah Glodok dan Asemka. Dia terkenal dengan kesibukannya berjualan karena memang dia mempunyai toko yang sangat laku, setiap hari dia selalu melakukan aktivitasnya, pergi pagi pulang malam, kebetulan dia adalah salah satu tetangga yang paling sulit ditemui sehingga memicu banyak gossip negatif yang tersemat pada dirinya.

Anton memiliki seorang anak dan istri, mereka juga kurang begitu bersosialisasi kepada tetangga sekitar.
Suatu saat, Anton memutuskan untuk memperbaharui rumah yang mereka tinggali, maka disewanya seorang mandor dan 6 orang kuli. Mereka telah menyusun segala keperluan. Istri dan akanya segera dicarikan rumah kost agar pembangunan bisa berjalan dengan baik. Namun, ada hal aneh yang benar benar membuat kami para tetangga heran.

Anton memindahkan 80persen barang barangnya ke rumah kost yang telah ia sewa tidak jauh dari rumah, namun 20persen sisanya Anton tetap meletakannya didalam rumah dan mengumpulkannya dalam 1 ruangan, yaitu kamar depan yang biasa dia tiduri. Dan lebih unik-nya Anton tidak tinggal bersama anak istrinya di Kost-an yang sudah dia sewa melainkan tetap tidur di kamar depan dan sesekali menjenguk keadaan anak istrinya.

Hal tersebut membuat kami tetangga merasa aneh, dimana seluruh bagian rumahnya sudah dalam tahap renovasi namun kenapa kamar depan-nya tidak kunjung dibenahi. Terlihat Anton seperti melindungi sesuatu atau merehasiakan sesuatu.

3bulan pekerjaan rumah itu berlangsung dan estimasi selesai adalah 7 bulan. Namun saat bulan ke3 itu bertepatan dengan bulan Ramadhan, maka para kuli berhak mendapat upah tambahan atau THR yang dia janjikan, namun Ramadhan itu akan berlangsung hari senin, dan hari ini masih hari Jumat. Kebetulan, Mandor sedang tidak ada ditempat karena berhalangan hadir dikarenakan istri sang mandor sakit.

4 pekerja bangunan itu mengetuk pintu kamar Anton, meminta THR yang harusnya diterima hari senin. Anton menolak memberikan karena sesuai perjanjian segala macam pemberian uang harus melalui Mandor, namun tidak hanya menolak, Anton sedikit menambahkan bumbu pedas kepada para pekerja dengan sedikit banyak melampiaskan kemarahan dalam bentuk caci maki.

‘Apa apaan minta THR ? Kerja belum benar mau THR ! pikir pake otak, kalau kerja sudah benar tidak usah minta pasti saya kasih’ kira kira itu kata kata pedas dan makian yang Anton ucapkan kepada para pekerja.

Suasana hari itu terik panas dan dalam keadaan puasa, maka tanpa berfikir dan pertimbangan matang, seorang pekerja melepaskan pukulan mentah ke wajah Anton dan pukulan ke belakang kepala Anton dengan balok yang digengamnya.
Anton pingsan seketika dengan darah bercucuran di lantai yang belum berkeramik.

*********

3 hari tidak ada kabar dari Anton. Keluarga ikutan cemas sehingga menelpon pihak berwajib, hal yang sama dirasakan sang mandor yang binggung kenapa para pekerja tidak meminta THR dan soal keberadaan Anton.
Maka datanglah pihak berwajib sekaligus membawa anjing pelacak untuk melacak keberadaan mereka yang dicari itu. Anjing dilepas di daerah komplek perumahan, namun seekor anjing terus mengendus ke bagian tembok tangga, terus mengendus sehingga menarik perhatian pihak berwajib yang mulai mempertanyakan perilaku tersebut, karena biasanya hal tersebut terjadi ketika anjing itu telah mendapatkan buruan yang dicari atau telah dekat dengan objek yang dicari.

Maka dengan sigap polisi mengambil palu dan memecahkan tembok tersebut, karena kebetulan tembok itu masih dingin yang berarti adalah hasil cor-an baru baru ini. Dikerahkan 3 aparat untuk membongkar tembok itu. Maka tanpa diduga, polisi menemukan Anton seperti patung dan tidak bernyawa serta mengeras akibat cor-an dan luka dikepalanya. Anton ditemukan tewas tidak bernyawa.
4 hari kemudia polisi berhasi menangkap 4 pekerja yang menjadi pelaku pembunuhan sadis Anton di kampung masing masing.

‘Awalnya, Anton belum tewas masih pingsan namun karena kami takut dia sadar dan melaporkan kami ke polisi maka kami langsung menyeret dia ke bawah tangga, dan mengecor-nya hari itu juga’ kata salah satu pelaku ketika diminta keterangan Polisi.

Ketika polisi melakukan pengecekan TKP maka ditemukan balok berdarah, dan ternyata Kamar yang tidak kunjung direnovasi memiliki berangkas sebensar TV 21 inch yang ditanam di bawah meja kerja Anton, ketika ditanya pihak keluarga, ternyata memang dibawah sana dikumpulkannya hasil keuntungan toko yang dia kelola.

Dan menurut bagian forensik, Anton tidak tewas 3 hari lalu namun 2 hari lalu yang berindikasi Anton sempat sadar selama 1 hari didalam tembok yang menunggu waktu untuk mengeras.



Joshua Gunadhi
 (11140110222)
Penulisan Feature
 (Kelas C1)
Bpk. Samiaji Bintang
*joshuagunadhi.wordpress.com*

Selamat Sampai Seberang

Seorang penyebrang jalan yang hampir tertabrak sepeda motor akibat tidak menggunakan Jembatan Penyebrangan Orang yang sudah tersedia di Jalan Raya Gading Serpong.

Salah satu penyebrang jalan yang tidak menggunaan fasilitas jembatan penyebrangan orang dengan baik

38... 37... 36... 35... 34... 23... 22... 21.... Lampu hijau menyala.

Digendongnya tas punggung warna hitam di bagian depan. Seragam karyawan pun masih lekat dikenakannya. Memasang badan di tepi jalan layaknya waktu tengah memburu. Dipasangnya mata tajam-tajam. Memerhatikan setiap laju kendaraan yang hendak melintas.

20... 19... 18... 17... 16... 15... 14.... Lampu hijau masih menyala.

Dengan sigap orang itu berlari tanpa lihat kanan-kiri. Menerobos lalu lintas menuju seberang jalan. Sedikit berlari kecil tanpa hati-hati. Deru mesin motor dan mobil mengirinya menuju seberang jalan.

Tiiiinnnnn!!! Tiiiinnnnn!!!

Ketika sadar laju kendaraan yang kian ramai dan cepat, tanpa sadar orang itu berhenti berlari. Motor hijau berplat nomor B 3980 NFO hampir saja menabraknya!

Tiiiinnnnn!!! Tiiiinnnnn!!!

Orang itu pun kembali berlari, melewati jalanan besar hingga ke seberang. Tak dihiraukannya muka-muka pengemudi yang ingin membunyikan klakson untuknya keras-keras.

***

Di kejauhan, beberapa polisi terlihat sibuk mengatur padatnya lalu lintas. Jalan Raya Serpong yang terkenal dengan kemacetannya pada jam-jam pulang kerja, membuat para polantas harus bekerja dengan ekstra. Tak hanya mengatur kendaraan-kendaraan yang lalu lalang saja. Namun, juga pejalan kaki yang hendak menyebrang.

“Saya tidak suka dengan orang yang menyebrang sembarangan, apalagi sudah ada fasilitas JPO, Jembatan Penyebrangan Orang. Kalau ada fasilitasnya, ya pakai. Makanya, kita himbau masyarakat agar melalui JPO tersebut,” ujar Brigadir Kepala Polisi Rahmatullah dari Polres Tangerang.

Dalam Undang-undang Republik Indonesia Nomor 22 tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan, terdapat dua pasal yang memuat hal dan kewajiban bagi para pejalan kaki.  Pasal 132 ayat 1 menyebutkan, “Pejalan kaki wajib menggunakan bagian jalan yang diperuntukkan bagi pejalan kaki atau jalan yang paling tepi atau menyeberang di tempat yang telah ditentukan”.

Meski ada hukum tertulis, toh masih saja banyak orang yang tak menghiraukannya.

“Kesal sih lihat orang nyebrang sembarangan, apalagi kalau jalannya pelan, bahkan harus rem mendadak. Tapi, kalau ada orang mau nyebrang, tentu aja gue kasih jalan karena gue juga suka nyebrang sembarangan. Hehehe...,” ujar Jordan Vincent, salah satu pengguna kendaraan bermotor.

Ya... gambaran orang yang menyebrang sembarangan tampaknya bukan hal yang biasa lagi. Kini, pemandangan serupa kerap kita temui di mana-mana. Bukankah sudah ada fasilitas jembatan penyebrangan yang siap digunakan? Bukankah juga ada zebra cross yang siap menjadi rambu-rambu? Lantas, mengapa masih banyak orang yang menyebrang sembarangan?"

“Saya lebih suka menyebrang langsung karena lebih cepat. Lagipula, jembatan penyebrangan masih jarang sekarang. Makan waktu kalau harus ke jembatan penyebrangan dulu,” tambahnya.

Sebagai pengguna jalan, tentu keselamatan adalah hal yang harus diprioritaskan. Pemerintah Kota Tangerang telah membuat sebuah fasilitas umum untuk masyarakat pakai, yakni jembatan penyebrangan itu sendiri. Bukan semata-mata hanya untuk melengkapi fasilitas saja, tetapi jembatan ini tentu memiliki banyak manfaat.

“Yang pertama safety. Lebih aman karena kita sudah berada di jalur yang tepat. Kalau misalnya kita tidak bisa menyeberang, gimana kita bisa memberi contoh ke orang lain untuk menyebrang di sana? Selama ini kita mengeluh, duhh... kenapa macetlah... segala macamlah... itu salah satu sebabnya orang yang menyeberang tidak pada tempatnya,” tutur David Mario Hutabarat, salah satu pejalan kaki.

Baginya, masyarakat belum punya cukup pengetahuan mengenai peraturan yang berlaku. Karena selama ini, mereka hanya mengetahui, tetapi tidak menerapkannya dalam kehidupan  nyata. Sebagai pengguna jalan yang bijak, haruslah saling mengerti kalau kita wajib menyeberang di tempat yang sudah disediakan.


Selain alasan keamanan, jembatan penyeberangan orang ini juga berfungsi untuk mengurangi kemacetan lalu lintas sehingga arusnya pun tidak terlalu terhambat. Di sisi lain, jembatan ini berfungsi untuk mengurangi kecelakaan lalu lintas. Namun sayangnya, kini fasilitas penyebrangan banyak dialihfungsikan menjadi lahan mata pencaharian.

Di sudut tangga, seorang wanita tua berkerdung cokelat tengah duduk manis. Menanti para pejalan kaki yang lewat, sambil sesekali memerhatikan angka-angka penunjuk waktu pada lampu lalu lintas. Menanti wadah uang receh di hadapannya untuk diisi penuh noleh pejalan kaki yang lalu lalang. Di sisi lain, seorang pria tua berkeriput menyodorkan gelas kecil miliknya ke depan. Berharap ada pejalan kaki yang lewat dan memberikan seperak dua perak untuknya.

Beruntung, fasilitas jembatan penyebrangan ini memang seadanya. Tidak seperti di kota Jakarta yang cenderung lebih panjang dan lebar. Bahkan, bukan hanya pengemis dan gelandangan saja yang dapat kita lihat. Di atas jembatan, bisa kita temui penjual masker, screen guard... casing handphone... power bank... stiker... aksesoris... buku... komik... novel... sandal crocs....

“Sebenarnya itu mengganggu pejalan kaki, karena space untuk berjalan semakin sempit. Cuma, hal itu membawa keuntungan. Pemda perlu mengkaji ulang mengenai solusinya. Pelebaran jalankah? Atau bikin underground seperti Singapur,” kata David lagi.

Minimnya jumlah dan fasilitas yang memadai terkait jembatan penyebrangan di Tangerang ini menjadi salah satu titik yang harus dibenahi oleh Pemda. Bukan dari sekadar fungsi, melainkan struktur, fondasi jembatan, serta kenyamanan dan keamanan dalam menyeberang.

Jumlah JPO di Tangerang memang sangat kurang. Perlu dibangun banyak jembatan di tempat-tempat umum, seperti mall, tempat perbelanjaan, sekolah, dan rumah sakit. Apabila membutuhkan waktu yang tidak sedikit, setidaknya ada zebra cross.

Kendati demikian, jumlah jembatan penyebrangan yang sedikit ataupun banyak berlum tentu dapat digunakan maksimal. Mengapa? Memang, para pejalan kaki harus diprioritaskan. Akan tetapi, apabila masyarakat sendiri belum paham akan keselamatan dirinya, bagaimana mereka memiliki mindset untuk menjaga kelancaran dan keselamatan lalu lintas bersama? Tampaknya, sosialisasi untuk menyebrang di JPO haruslah masuk daftar tugas tambahan. Hukum yang berlaku tentang pengguna jalan harus lebih diperketat.


“Saya sering negur orang secara langsung. Intinya demi keselamatan penyebrang itu. Makanya, kita tidak pernah bosan-bosannya untuk menghimbau agar masyarakat sesuai dengan aturan yang ada,” tukas Brigadir Kepala Polisi Rahmatullah yang sudah bekerja sebagai polantas selama 14 tahun. “Demi keselamatan ibu, bapak, adik-adik, ini sudah ada JPO, sudah ada fasilitasnya.”

Mengapa harus rela melihat ke kiri dan kanan, merasa was-was dan melangkahkan kaki terburu-buru, sembari memberi tangan untuk memberhentikan mobil?

Tiiiinnnnn!!! Tiiiinnnnn!!!

Bukankah lebih aman menaiki beberapa anak tangga, berjalan lurus tanpa memerhatikan laju kendaraan untuk diterobos, lalu menuruni beberapa anak tangga lagi?

Hhhhh... Hhhhh.... Hhhhh....

Meski lelah, kenapa tidak... asalkan selamat sampai seberang?




Oleh Sintia Astarina - 11140110048

Tugas Mata Kuliah Penulisan Feature

Berdoa, Berwisata, dan Berbuat Baik di Boen San Bio







Arahang sammâ Sambuddho Bhagavâ. Imehi sakkarehi tang Bhagavantang abhipujayama.
Svâkhâto Bhagavatâ Dhamma. Imehi sakkarehi tang Dhammang abhipujâyama.
Supatipanno Bhagavato sâvâakâ sangho. Imehi sakkarehi tang Sanghang abhipujâyama.


Pemimpin kebaktian memulai ibadat di Ruang Dhammasala, Vihara Boen San Bio. Sembari mengucapkan serentetan doa, merek meletakkan tangan di dahi, lalu diturunkan sedada. Mereka pun ber-namaskara (duduk bersila) sambil mengikuti pemimpin kebaktian.

Setiap minggunya, umat datang rutin untuk mengikuti kebaktian yang diadakan seksi kerohanian. Sebelum memasuki Ruang Dhammasala, patung Dewi Kwan Im Pouw Sat setinggi tiga meter menyambut. Saat memasuki ruang kebaktian, terpampang patung Buddha di altar depan dengan tinggi yang sama. Mereka yang menganut ajaran Theravada ini pun membaca buku Parita Suci sambil memanjatkan doa kembali.

Namo tassa bhagavato arahato samma sambuddhassa. Pujilah Sang Bhagava, Sang Buddha yang telah mencapai penerangan dan Kebijaksanaan Sempurna. Namo sabbe Bodhisattaya – Mahasattya. Pujilah para Bodhisatva – Mahasatva, mahkluk-mahkluk suci nan luhur budinya.

Dapat kita hirup bau hio yang menusuk hidung. Mata pun ikut terasa pedih karena aspanya. Suasana yang khusyuk saat membacakan doa-doa membuat seluruh umat yang hadir lebih berkonsentrasi.

“Kalau kebaktian, biasanya membaca Parita, mendengarkan dhama (khotbah), dan ber-dharma gita,” ujar Albert, staff tata usaha yang sehari-harinya mengurusi operasional vihara.

Selain ruang kebaktian, kita bisa melihat berbagai keunikan dan ciri khas lain di tempat ibadah ini. Salah satunya, pada bagian atap bangunan utama tampak sepasang burung fenghuang (burung phoenix) dengan sebutir mutiara di tengah-tengahnya. Lalu, ketika memasuki vihara yang dibangun oleh Lim Tau Koen pada 1689 ini, ratusan lampion merah tergantung rapi di atap-atap. Di bawahnya, terdapat sebuah nama pada masing-masing lampion. Hal ini menandakan suatu perwujudan doa manusia agar doanya dapat dikabulkan oleh Sang Buddha.

Di halaman depan, terdapat thian sin lo terbesar di Indonesia. Dengan berat 4.888 kg, tinggi 120 cm, dan diameter 150 cm, tempat menaruh hio atau dupa ini mendapatkan rekor dari Museum Rekor Indonesia (MURI). Thian sin lo ini terbuat dari batu onix, sejenis marmer yang berasal dari Poso, Sulawesi. Tak hanya tempat hio ini saja yang terbuat dari batu onix, tetapi juga seluruh patung yang terdapat di Vihara Boen San Bio ini. Hal ini supaya patung-patung tersebut terlihat lebih megah dan apabila terjadi kebakaran, tidak akan hancur.

Boen San Bio yang didominasi warna merah, kuning, dan biru ini memiliki arti kebajikan setinggi gunung. Hal ini tercermin dari bangunan yang menjulang tinggi dengan pagoda-pagoda di atasnya. Bahkan, terdapat beberapa candi menghiasi atap Ruang Dhammasala. Nuansa rohani memang begitu lekat pada vihara yang terletak di Pasar Baru, Tangerang ini.

Selain menyembah Sang Buddha, umat juga menyembah Dewa Bumi, Kong Co. Ia adalah seorang yang tua, berambut dan berjenggot putih panjang, wajah tersenyum ramah. Dewa yang juga disebut sebagai Dewa Hok Tek Tjeng Sin ini terletak di altar utama karena merupakan dewa tertua yang sangat dipercayai masyarakat China. Total, ada 16 altar di mana umat Buddha bersembahyang. Setiap altar diberi nomor urut agar umat tidak bingung ketika membawa hio mereka dari altar satu ke altar lain, berdoa kepada dewa-dewa di sana. Sam Kai Kong, Bie Lek Hud, Jie Lay Hud, Kwan Im Hud Cow, Co Shu Kong, Pek How Pek Coa, Kwee Sheng Ong, Kwen Tek Kum, dan Pat Sien Kwe Hay.

Vihara yang buka pada pukul 7 pagi hingga 12 malam ini nyatanya juga terkenal akan keindahannya sebagai tempat wisata.

“Banyak yang berkunjung kalau ada perayaan. Se-Jabodetabek. Ada juga yang dari luar negeri, datang untuk foto-foto,” tukas Albert yang sudah bekerja selama 15 tahun di vihara ini.

Taman yang terdapat di tengah vihara biasa digunakan umat untuk bersantai atau mengobrol. Bahkan, tak jarang calon pengantin yang memanfaatkan keindahannya guna melakukan sesi foto untuk pre-wedding.  Tak disangka, taman ini menyatukan unsur air, api, tanah, dan udara menjadi satu.

Ketika berkeliling vihara, pada bagian belakang dapat kita temukan Sumur Sumber Rezeki. Sumur ini dikelilingi oleh 8 pancuran air yang mengelilingi sumber air. Dulu, sumur ini dimanfaatkan warga sekitar untuk minum dan keperluan lainnya. Meski musim kemarau tiba, airnya tidak pernah berhenti mengalir. Uniknya, banyak umat yang percaya kalau sumur ini dapat memberikan keberuntungan bagi siapa saja yang meminumnya. Saya ingin sekali mencobanya, sayang saya tidak mengerti bagaimana tata cara sembahyang umat Buddha.

Keajaiban lain yang pernah terjadi di Vihara Boen San Bio adalah adanya bola api yang melayang-layang sekitar 1995-an. Dulu, Ruang Dhammasala merupakan sebuah gudang. Tak disangka, beberapa orang pernah melihat penampakan seekor ular besar berwarna putih. Sebelum gudang itu hendak direnovasi, para pengurus vihara mengadakan upacara sembahyang untuk mengusir si “penunggu”. Cuaca hari itu cerah. Namun, tiba-tiba terdengar suara petir menggelegar.... DHUUUARRR!!!

Mistisnya, seketika petir itu berubah menjadi bola api yang terbang ke sana kemari, memasukki ruang-ruang suci vihara, lalu keluar lagi. Bahkan, bola api itu membelah sebuah pohon menjadi dua. Singkat cerita, petir itu dipercaya merupakan kiriman dari Kong Co untuk mengusir si ular putih agar tak mengganggu lagi.

Di sudut lain, ada makam Mbah Raden Surja Kentjana di dalam vihara ini. Dulunya, ia adalah bangsawan dari Kerajaan Banten. Makamnya yang semula berada di dekat Sungai Cisadane, kini dipindahkan ke Vihara Boen San Bio guna dirawat. Tak heran, banyak umat –terutama umat Muslim- yang datang untuk berziarah. Itulah mengapa tempat suci ini sering disebut klenteng kepercayaan.

Tak hanya sekadar untuk bersembahyang atau berwisata, lebih dari itu, kita bisa mengetahui bagaimana ajaran-ajaran baik Sang Buddha. Ajaran-Nya dipercaya dapat menjadi arahan bagi manusia menuju perdamaian dunia dengan semboyan suci, yakni cinta kasih dan kasih sayang. Ajaran yang universal ini juga mengenalkan kita pada hukum karma.

“Sesuai dengan benih yang ditanam, itulah buah yang akan Anda peroleh. Perilaku kebaikan akan menuai kebaikan. Pelaku keburukan, memperoleh keburukan. Jika Anda menanamkan benih yang baik, maka Anda akan menikmati buah yang baik pula.”

– Samyutta Nikaya Vol. I, P.227.



Sabda sang Buddha senantiasa mengingatkan kita agar dapat melakukan perbuatan mulia, contohnya dengan memberikan sumbangan dalam rangka aksi sosial. Vihara Boen San Bio sendiri pun pernah melakukan bakti sosial dengan membagikan beras dan sembako untuk warga sekitar yang membutuhkan.

Tidak ada salahnya bukan kalau kita berkunjung ke Vihara Boen San Bio sambil berdoa, berwisata, dan berbuat baik?

Sabbe Satta Bhavantu Sukhitatta.
Sadhu! Sadhu! Sadhu!




Oleh Sintia Astarina - 11140110048
Tugas Mata Kuliah Penulisan Feature
www.sintia-astarina.blogspot.com

Siti Asiah: Mengurus Jenazah adalah Kewajiban


Siti Asiah, pemandi dan perias jenazah


Nawatul ghusla lihaadzal mayyit fardhal kifaayati lilahita'ala
(Sengaja aku memandikan mayat ini, fardhu kifayah karena Allah Ta'ala)

Mulutnya telah ditutupi masker. Sarung-sarung itu juga sudah melekat di kedua tangannya. Dia mengucap serentetan doa untuk tubuh tanpa nyawa di hadapannya. Berharap supaya dosa-dosa orang itu diampuni. Dia mulai berdzikir. Lailahaillaallah... Lailahaillaallah.... Terselip doa-doa untuk diberikan kemudahan dan kelancaran. Pesannya, jangan sampai apa yang kita lihat saat memandikan jenazah itu kita omongkan. Sebab, sudah niat untuk ibadah.

Alat mandi, kapas, kapur barus, kain kafan, minyak wangi, alat bersih-bersih, make up, semua didapatkannya dari Majelis Ta’lim. Setiap Jumat malam ada dana sosial untuk mereka yang sakit atau meninggal. Secara sukarela dia mengurusi hidup orang lain. Sudah lebih dari lima tahun dia bergelut dalam dunia “kematian” ini. Entah berapa banyak jenazah yang sudah dimandikan dan dirias olehnya.

Lalu, dia pun menyirami tubuh di hadapannya itu dengan air timun untuk menghilangkan bau busuk. Dia membilasnya dengan air biasa, menggosok giginya, membersihkan kemaluannya, dipijatnya agar segala kotoran dapat keluar, dan kembali membersihkannya dengan air. Setelah bersih dan kering, dia bersama para pemandi jenazah lainnya menggotong tubuh itu untuk dikafani dan dirias.

Perlengkapan pun seadanya. Bedak... lipstik... bahkan keduanya pun hampir tidak pernah dipakai. Tergantung permintaan keluarga si jenazah.

Ya... tidak pernah terlintas dalam benak Siti Asiah untuk melihat jenazah, apalagi memandikannya. Melihat orang meninggal saja sudah takut luar biasa.

“Boro-boro megang, Ibu mah takut,” ujarnya wanita bertubuh agak gempal ini. wajahnya terlihat polos tanpa olesan bedak. Maklum, masih pagi.

Berkat membaca buku-buku hidayah, Ibu empat anak ini merasa tergerak hatinya. Dia tersentuh. Sebagai Muslim, dia merasa berkewajiban untuk bisa mengurus jenazah. Rasa takut dilunturkannya. Rasa jijik dilawannya. Rasa mual ditahannya. Bau busuk yang menyergap hidung tak lagi dihiraukannya.

Berawal dari sekadar ikut-ikutan, hati istri Bambang Suseno ini mulai mantap. Baginya, sudah tugas para Muslim untuk memandikan, mengkafankan, mensalatkan, dan menguburkan. Ketika di lingkungan ada orang yang meninggal, tetapi tidak ada orang yang mau memandikan jenazah, Siti Asiah tidak tinggal diam. Tangan-tangan luar biasanya tak pernah takut berbuat baik. Iman pun selalu kokoh mendampinginya.

Dalam satu jam saja, dia sudah selesai memandikan sekaligus merias jenazah. Pernah dia mengurusi mayat hingga berjam-jam lamanya.

“Sudah dibersihkan, keluar kotoran lagi. Sudah dibersihkan, keluar kotoran lagi. Sudah disumpel lubangnya, pas mau diletakkan, keluar kotoran lagi,” kenangnya kembali.

Meskipun begitu, dia mengaku bangga bisa melakukan hal yang menurutnya belum tentu bisa dikerjakan orang lain itu. Meski agak kerepotan dan tidak memiliki ilmu, Siti mengaku senang bisa membantu orang lain. Sehabis memandikan jenazah, rasanya nikmat. Allah memberikan ilmu dan mengirimkan dirinya untuk memandikan jenazah tersebut.

Siti yang pendidikan terakhirnya Sekolah Dasar ini mengajak saya untuk berefleksi. “Sekarang kita yang memandikan dia (jenazah), kita nggak tahu kalau lima menit lagi kita yang dimandikan.” Maka dari itu, kita harus ingat pada diri sendiri.


Pernah suatu kali Siti Asiah hendak memandikan jenazah. Di dalam ruangan itu, ada tiga orang yang bertugas. Satu di kaki, satu di perut, kebetulan Siti dapat di bagian kepala. Saat kepala dimiringkan, jenazah itu ngorok! Seperti orang tidur! Saat ditengok, orang-orang sudah pada nggak ada. Pemandi jenazah lainnya sudah kabur. Ketakutan. Tinggalah ia sendirian di dalam ruangan itu.

“Bu Bambang!” Begitu dia akrab disapa. “Sini-sini!” panggil dua Ibu lainnya yang turut memandikan jenazah. Mereka lari menjauh karena mendengar suara seperti mayat hidup!

“Kenapa?”

“Ada yang aneh, Ibu dengar nggak?”

“Dengar... memang kenapa?”

“Keluar! Keluar! Itu kan ngorok tadi!”

“Itu bukan ngorok!” bantahya mantap.

Siti Asiah memang mendengar bunyi mayat ngorok tadi, tetapi ia sama sekali tidak takut. Entah keberanian apa yang membuatnya tetap bertahan di samping jenazah itu. “Itu mayat kan sudah dari semalam. Kalau sudah mati, lubang-lubang pada bolong semua. Mungkin karena (terkena) angin terus ditekan-tekan, jadinya bunyi khoooqqq... khoooqqq...,” ujarnya sambil menirukan bagaimana bunyi mayat ngorok.



Pukul satu malam, ketika orang-orang telah terlelap, Siti terbangun dari tidur karena sebuah telepon membangunkannya. Dia ditelepon oleh seseorang dari daerah Lippo. Ada yang minta mandiin jenazah, katanya. Menganggu memang, tetapi Ibu berjilbab ini merasa enjoy dengan apa yang dikerjakannya.

Ketika sampai di rumah sakit, Siti melihat jenazah itu tergeletak begitu saja. Siapa sangka, jenazah itu adalah pemilik pom bensin se-Tangerang. Hatinya langsung mencelos. Ya ampun... kalau sudah meninggal kayak nggak ada harganya sama sekali. Semua manusia pada dasarnya sama. Ketika hidup, ada perbedaan antara yang kaya dan yang miskin. Namun, kalau sudah jadi jenazah, hanya kain kafan saja yang dibawa... dan ada amal ibadah yang membela.

Menjadi seorang pemandi dan perias jenazah tidaklah semudah yang dibayangkan Siti Asiah. Penghasilan yang tidak menentu hanya menuntut sebuah keikhlasan.

“Kadang-kadang dapat penghasilan, kadang-kadang enggak. Kalau ada sedekah, ya kita terima. Penghasilan nggak cukup untuk sehari-hari,” kata wanita kelahiran Pondok Pinang, 12 Oktober 1965 ini, sambil malu-malu.

Bambang Suseno, suaminya yang membuka usaha rumah makan Mie Tendean yang kini mencukupi kebutuhan sehari-hari mereka. Selain itu, Siti juga menjadi guru mengaji. Pendapatannya memang tak seberapa, tapi cukup untuk tambah-tambah.

Saya pun bertanya, sampai kapan Siti Asiah mau menjadi pemandi dan perias jenazah?
“Selama Ibu masih bisa, selama orang masih membutuhkan, Ibu akan selalu siap. Selama Ibu sehat dan diberikan berkah panjang umur, insyaallah itu yang Ibu tekuni. Ibu cuma cari ridho Allah.”




Oleh Sintia Astarina - 11140110048
Tugas Mata Kuliah Penulisan Feature
www.sintia-astarina.blogspot.com

Melanggar Peraturan, Mengatur Pelanggaran

Peraturan untuk tamu yang datang ke Desa Kanekes (Baduy)
MASYARAKAT Baduy Dalam tidak mengenal listrik dan teknologi. Mereka tidak diperbolehkan menggunakan alat-alat seperti handphone, TV, dan kamera. Sama halnya juga dengan menaiki kendaraan. Melakukan hal-hal tersebut sama saja dengan melanggar adat istiadat. Pu’un atau kepala adat tidak akan segan-segan mengeluarkan masyarakat Baduy Dalam yang terbukti melanggar. Berbagai aturan adat istiadat seakan mengikat mereka lekat. Kalau tak berpegangan erat, mereka bisa melanggar dan menerima konsekuensi terberat sekalipun. Entah pelanggaran itu disengaja atau tidak disengaja. Akan tetapi, benarkah peraturan itu dibuat untuk dilanggar? Mungkin, sebagian orang sering mendengar pernyataan yang satu ini. 

Ya, tak dapat dimungkiri apabila kita tengah dikelilingi oleh sekelumit aturan. Harus mengerjakan tugas, memakai baju sopan ke kampus, dilarang parkir di depan rumah warga, dilarang buang sampah kalau tidak mau dibilang monyet, sampai dilarang kencing sembarangan! Entah aturan itu dibuat mengikat atau sekadar sambil lalu. Entah aturan itu mudah atau rumit dijalankan. Entah hanya dibuat-buat atau memang benar punya tujuan mulia. Siang itu, saya menyusuri berpuluh-puluh kilometer jauhnya menuju desa Ciboleger. Perlahan, saya membaca kembali sebuah pesan singkat yang masuk ke handphone. Pesan itu datangnya dari salah satu masyarakat Baduy. Membaca kata per kata dengan hati-hati, sembari mencerna maksud dari pesan itu. 

Sarwadi
Received 13/12/2012 @09:31
Hlow dari sarwadi baduy teman ibu anreas jadi ga besok ke baduy aku tugu di terminal ci bolegr tolg esms bals

Itu adalah SMS dari Kang Sarwadi, masyarakat Kanekes yang mendampingi saya untuk mengeksplorasi suku Baduy di Kabupaten Lebak, Banten, di kaki pegunungan Kendeng desa Kanekes. Saya melihat Kang Sarwadi beserta adiknya, Kang Sarmidi yang tengah menunggu di depan Alfamart. Keren juga, di Baduy ada Alfamart, ujar saya dalam hati. Saya mendekat, bertemu sapa, dan memulai obrolan kecil.

Tak sadar, saya mulai memerhatikan mereka lekat-lekat dari ujung kepala hingga ujung kaki. Ikat kepala putih yang menempel di kepala, baju tenun putih yang agak usang, tas kain nan lusuh, gelang-gelang di tangan, dan kaki-kaki kuat tanpa alas. Awalnya, sempat terpikir bahwa mereka berasal dari Baduy Luar. Nyatanya tidak, setelah saya mendengar pernyataan bahwa mereka berasal dari Baduy Dalam.

Teringat kembali akan SMS yang pernah dikirimkan Kang Sarwadi beberapa waktu sebelumnya. Apa benar Kang Sarwadi dan Kang Sarmidi mengirimkan SMS itu kepada saya? Kalau iya, terbukti mereka kedapatan mengunakan handphone untuk berkomunikasi. SMS itu jelas menjadi bukti pelanggaran. Jika demikian, bukankah Pu’un bisa mengeluarkan mereka dari Baduy Dalam?

“Itu punya teman. Kalau dipakai di Baduy Luar nggak apa-apa. Nggak ngelanggar adat,” jawab Kang Sarwadi santai. Saya pun bertanya lagi, apa konsekuensi bila ada masyarakat yang melanggar aturan? Lelaki berumur 28 tahun ini pun menjawab, kalau ketahuan melanggar aturan adat, akan dikeluarkan dari Baduy Dalam, naik kendaraan misalnya. Ya, bicara soal aturan, apakah wajar bila seseorang melanggar adat yang berlaku? Terlebih ketika aturan itu sudah diwariskan secara turun temurun... seperti masyarakat Baduy tersebut.

“Setiap manusia diatur oleh norma, aturan, budaya, adat, dan agama. Kalau kita lihat, siapapun mempunyai potensi untuk melanggar aturan karena seringkali orang bilang kalau peraturan itu dibuat untuk dilanggar. Jadi, wajar saja kalau mereka melanggar adat istiadat,” tutur Inco Harry Perdana, Dosen Komunikasi Antar Budaya Universitas Multimedia Nusantara. Hukum boleh-tidaknya, benar-salahnya, yang menentukan adalah seseorang yang dipercayai kelompoknya.

Dalam masyarakat Baduy, ada Pu’un yang berhak mengambil keputusan. Sebab, hubungan horizontal itu sulit. Misalnya, mahasiswa tidak bisa menghukum sesama mahasiswa. Mahasiswa bisa dihukum oleh dosen. Dosen dihukum rektor. Dalam budaya atau masyarakat, harus ada hubungan vertikal. Itulah yang bisa memutuskan salah atau tidaknya.

Berbeda dengan Desy Hartini, mahasiswi Jurnalistik 2011, Universitas Multimedia Nusantara yang pernah berkunjung ke Baduy ini. “Nggak wajarlah. Itu kan adat mereka, turun temurun pula. Nah, seharusnya sebagai penduduk di sana harus mematuhi peraturan-peraturan yang sudah disepakati.” Pada kenyataannya, adat istiadat bukanlah sesuatu yang tidak bisa berubah. Sifatnya yang dinamis lambat laun akan menyesuaikan.

Yang perlu diingat, budaya yang menyesuaikan dengan masyarakatnya. Seperti statement berikut ini: “Bukan kaki manusia yang dipotong seukuran panjang celana, tetapi celana yang dipotong seukuran kaki manusia. Karena budaya untuk manusia, bukan manusia untuk budaya.”

Jadi, semua bisa disesuaikan. Kalau begitu, apakah setiap pelanggaran akan dibenarkan? Tentu tidak...

Saya kembali bertanya lagi apakah Kang Sarwadi pernah naik kendaraan di luar atau tidak. “Belum, belum pernah. Ke mana-mana... ke Jakarta, jalan kaki.” jawab Kang Sarwadi sambil tersenyum kecil. Saya menimpali, meyakinkan bahwa bukankah naik mobil di luar Baduy Dalam sama-sama tidak melanggar adat? Sama halnya dengan menggunakan handphone di Baduy Luar.

Lelaki di hadapan saya ini hanya tersipu malu dan mengangguk kecil. Bingung mau menjawab apa. Seperti kancil yang tertangkap basah sedang mencuri mentimun. Seakan-akan baru saja ketahuan pelanggaran apa yang telah diperbuatnya.

Saya pun kembali menikmati perjalanan di Baduy. Memandangi pohon-pohon di kanan-kiri dan menyeberangi jembatan dari desa satu ke desa lain. Memaksa kaki-kaki saya yang mulai tak kuat mendaki bukit, menginjak bebatuan terjal nan licin, sembari menikmati setiap tetes peluh yang mengalir tiada henti di wajah. Mari menyusuri Baduy dengan menaati peraturan, tanpa memusingkan pelanggaran....



Oleh Sintia Astarina - 11140110048
Tugas Mata Kuliah Penulisan Feature

Monday, June 17, 2013

Kebanggaan Dalam Sebuah Baret



Pandu Djarwanto sekali-kali menatap pabrik baret dua tingkat yang ia miliki di hadapannya sambil merokok. Tumpukan baret hijau yang ada di meja, mesin-mesin pembuat topi khusus untuk para tentara yang diimpor langsung dari Jepang, tabung-tabung erlenmeyer berisikan warna-warna sintesis yang samar-samar terlihat, karena pencahayaan yang kurang di malam hari itu, menghiasi halaman belakangnya. Asap rokok yang ia keluarkan dari mulutnya seakan-akan menjadi pengantarnya mengenang kembali perjalanannya menjadi seorang pengusaha baret tentara.
Laki-laki yang berasal dari Solo ini pergi ke Jakarta pada tahun 1966 untuk membantu pamannya yang adalah seorang pedagang tekstil. Ia pun berhenti kuliah pada tahun ketiganya di Trisakti karena kesibukan membantu pamannya ini. Tahun 1990, ia sempat menjadi supplier baret dan sepatu untuk TNI (Tentara Nasional Indonesia) dan POLRI (Polisi Republik Indonesia). Tujuh belas tahun kemudian, dengan bekal dan pengalamannya, laki-laki yang menggunakan baret hitam bertuliskan “Old Navy” pada saat diwawancara ini, memutuskan untuk membangun pabriknya sendiri yang sekarang terletak di rumahnya di Bintaro.
“Tahun 2008 jadi tahun perdana baret saya,”ujarnya. Acara ulang tahun angkatan darat atau Hari Juang Kartika yang diselenggarakan pada 15 Desember di Pacitan itu menjadi momen penting baginya. Ia masih ingat betul dua hari sebelumnya, di hari Sabtu, ia mendapat telepon dari Yayan, salah seorang tentara yang menjadi “jembatan” agar baret dari PT Bhakti Prakasa, nama pabrik miliknya, bisa dipakai seluruh angkatan darat termasuk yang hadir salah satunya adalah Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.
“Dia (Yayan) sempat tidak percaya dengan saya karena masih baru,” katanya. Yayan bahkan berpendapat untuk tetap membayar baret dari pabrik laki-laki yang memiliki kulit sawo matang ini, namun tidak menggunakan baret miliknya melainkan yang sudah ada di gudang angkatan darat.“Tidak apa, Pak. Tetap, pakai baret saya saja, Saya jamin. Bapak tidak usah khawatir” tuturnya, kembali mengilustrasikan pernyataannya kepada Yayan lima tahun yang lalu.
Bagi seorang anggota TNI, baret mewakili kebanggaan dari setiap cabang dan tidak semua cabang memiliki baret. Warna hijau mewakili KOSTRAD (Komando Strategi dan Cadangan Angkatan Darat), merah mewakili KOPASSUS (Komando Pasukan Khusus), hitam mewakili KAVALERI, ungu mewakili angkatan laut, jingga mewakili PASKHAS AU (Pasukan Khas Angkatan Udara) dan biru mewakili Polisi Militer, yang biasa dilengkapi dengan emblem dari masing-masing cabang. Selain itu, arah pemakaian baret juga mempunyai arti tersendiri. Baret yang biasa dipakai miring memiliki dua arti. Miring ke kiri menandakan anggota tersebut adalah anggota keamanan masyarakat, seperti POLRI. Miring ke kanan menandakan anggota tersebut adalah anggota siap tempur, seperti TNI. Tidak semua anggota dengan mudah bisa memiliki baret yang mewakili identitasnya. Inilah yang membuat baret menjadi kebanggaan lainnya.
Rasa bangga karena sebuah baret juga terjadi pada Pandu. Pukul tiga sore hari itu, saat Pandu sedang berada di Tanjung Priok, Yayan menelponnya dan mengucapkan terima kasih karena baret yang dikenakan oleh para angkatan darat, mendapatkan pujian dari para pemimpin besar TNI. “Saya benar-benar bangga luar biasa. Uangnya tidak banyak, 300 juta, namun rasa bangga melebihi tiga miliar,” katanya sambil tertawa.
Namun bukan berarti tidak ada duka dalam usahanya ini. Bekerja dengan anggota-anggota TNI dinilai tidak mudah oleh laki-laki yang lahir pada tanggal 2 Oktober 1948 ini. “Banyak hal yang tidak pernah kita ketahui,” katanya. Persaingan menjadi salah satu alasannya. Sudah beberapa kali hal ini terjadi dalam usahanya. “Yang paling terakhir  bahkan rugi banyak. Yah begitu saja tiba-tiba dibatalkan,” ujar laki-laki yang berusia 67 tahun ini. Ia berjuang untuk mendapatkan apa yang menjadi haknya, namun ia tetap babak belur karena stok baret yang sudah ada karena uangnya tidak kembali seluruhnya. “Bisa saja saya lawan lebih jauh, tapi saya tahu efeknya tidak akan bagus,” lanjutnya lagi.
Hal yang juga menjadi kendala lain adalah para tenaga kerja. “Mencari tenaga kerja yang khusus di bidang tertetu sangat sulit.” Para tenaga kerja rata-rata masih muda dan berasal dari kalangan tidak mampu. Ada yang putus sekolah dan ada juga yang anak tukang becak. Biasanya mereka membawa teman-teman mereka untuk bekerja. Yang penting menurut laki-laki yang memiliki seorang cucu perempuan ini, anak-anak tersebut mau diajak bekerja dan mau belajar. Tidak peduli apapun latar belakang pendidikannya.
Dalam sehari, baret yang dihasilkan PT Bhakti Prakasa bisa mencapai 500 buah. Mesin-mesin yang dipakai masih impor karena masih jarang ditemukan di Indonesia. Terkadang untuk produksi baret pun dibagi dua dengan pabrik lain karena alasan kebutuhan stok yang banyak. Proses pemesanan pun dilakukan dengan sistem tender. “Biasanya pemilik pabrik diundang jika akan melakukan tender,” tuturnya.
Menurutnya untuk membuat pabrik baret dari awal akan sulit. Selain tenaga kerja yang sulit dicari, bahan-bahan pembuat baret, seperti benang wol masih harus impor dan hubungan dengan para anggota militer juga menjadi kunci. “Tapi terkadang, pabrik baret itu nasibnya tidak menentu walaupun sudah ada hubungan sekalipun,” ujarnya. Ada beberapa pabrik baret di Indonesia seperti salah satunya, CV. Rajawali 9 Garment. Walaupun saingannya tidak begitu banyak, namun prinsip yang dipegang oleh laki-laki yang menikahi Yetty Surya, anak perempuan dari pasangan Surya Bhakti dan Isabela Sriliani ini hanya satu dalam persaingan bisnis baret ini.
“Selama barang kita bagus, orang pasti akan datang. Maka dari itu, saya punya komitmen untuk memberikan yang terbaik.” Ia berani mengganti baret yang cacat jika ada yang warna yang kurang solid. Ia mengakui harga yang ditawarkan memang lebih mahal dibandingkan pabrik yang lain, namun ia percaya dengan baret yang ia hasilkan bukan baret sembarangan. “Kalau ada yang cacat satu, saya ganti dengan dua baret,” katanya. Maka dari itu, keuletan dan keberanian adalah faktor penting yang harus dimiliki dalam bisnis ini menurutnya.
“Pribadi saya sendiri yang menjadi motivasi. Keluarga saya tidak begitu menyukai usaha ini sebenarnya karena banyak faktor. Namun, saya tahu bahwa usaha ini sudah menjadi jalan saya,” kata laki-laki yang memiliki dua orang anak ini. “Dan bagi saya baret adalah kebanggaan saya,” tambahnya lagi. Melihat baret yang dihasilkan dari hasil usahanya sendiri dan dipakai oleh hampir seluruh angkatan darat di Indonesia khususnya KOPASSUS, belum lagi ditambah baret tersebut dipakai oleh anggota-anggota TNI ternama, seperti Jenderal Hartono,  Jenderal Sjafrie Sjamsoeddin, Kepala Staf Angkatan Darat, Jenderal Pramono Edhie Wibowo, Prabowo Subianto bahkan Susilo Bambang Yudhoyono.



Anne Clarissa, anak perempuannya ini juga menyatakan hal yang sama. “Baret itu kebanggaan Papa,” katanya. Di matanya, sosok ayahnya adalah pribadi yang ambisius, realistis dan bermental baja.“ Sadar atau tidak sadar, Papa selalu pakai baret kemana pun dia pergi,” ujar perempuan yang juga mempromosikan baret kepada temannya sebagai salah satu bentuk atribut fashion. “Jadinya, kalau lihat Papa, nggak pakai baret, rasanya ada yang kurang aja,” tambahnya lagi.
“Saya tidak bisa membuat seperti yang lain, tapi saya bisa membuat yang lebih baik,” ujar laki-laki yang mempunyai keinginan membuat pabrik emblem tentara ini. “Saya percaya dengan baret saya,” tambahnya lagi. Baret menjadi sebuah rasa kepercayaan diri serta kebanggaan, dan itulah makna baret bagi Pandu Djarwanto.

Zerica Estefania Surya/ 11140110026/ C