Showing posts with label Sintia Astarina 11140110048. Show all posts
Showing posts with label Sintia Astarina 11140110048. Show all posts

Wednesday, June 19, 2013

Membajak Karya Negeri, Mengikis Hati Nurani

Ratusan, bahkan ribuan buku bajakan ada di Pasar Senen. Kios yang sebelah kiri adalah kios buku milik Jimmy.
Seorang Ibu yang tengah bertransaksi
Di Pasar Senen, ada banyak kios buku yang bisa kita temui. Beragam buku pun dapat kita temukan. Mulai dari buku agama, buku perkuliahan, novel, kamus, dan masih banyak lagi.

“Cari buku apa nih? Sini masuk aja dulu.”
Seorang Ibu berkerudung melihat buku-buku yang terpampang rapi di depan kios.
“Mira W. udah punya, Bu?” tanya lelaki bertubuh gemuk yang sebagian bajunya basah karena keringat.
“Enggak.”
“Marga T.?” Lelaki itu menyodorkan dua buku yang sudah agak usang.
“Ini berapaan?” tanya si Ibu.
“Dua puluh lima ribu aja, Bu.”
Si Ibu menggeleng, tampaknya belum puas dengan harga yang diberikan.
“Baru nih, Bu.”
“Nggak kurang nih?” tawarnya lagi.
“Kalau boleh 2530 juga nggak apa-apa.”
“Nih dua, 15 ya?”
“Nggak dapat, Bu Haji. Dua puluhan aja, Bu Haji.”
Si Ibu masih belum puas. Dia menggeleng lemah.
“Lima belasan mau nggak, Bu Haji? Lima belasan, satu? Sepuluh ribuan mau nggak, Bu Haji? Dibolehin nih 10 ribu aja, lelaki itu mulai membanting harga.
“Mau?” si Ibu mencoba memastikan. Dia membolak-balikan kedua buku yang ada di tangannya, sembari mengecek kondisinya.
“Iya, 10-an aja nih, Bu.” Lelaki itu mondar-mandir, pasrah.
Si Ibu pun mengambil satu buku yang ditawarkan.
“Dua-duanya aja ambil, Bu. Barangnya cuma dua soalnya, tawarnya lagi.
Awalnya enggan, tetapi akhirnya Ibu itu pun membeli dua buku tersebut.

***

Waktu menunjukan pukul 11. Hari semakin siang. Di dalam gedung tua itu, para penjual buku tak lelah menjajakan barang dagangan mereka. Setiap calon pembeli yang melintasi kios mereka, ditawarinya ini-itu. Buku agama, komik, novel remaja, novel roman, kamus, buku kuliah, buku TTS, juga majalah. Kata orang banyak, di sini banyak buku-buku murah. Di Pasar Senen ini, buku-bukunya lumayan komplit.
Pasar Senen yang terletak di Jakarta ini adalah pasar tertua yang dibangun pada 30 Agustus 1735. Tuan tanah sekaligus arsitek bernama Yustinus Vinck membangunnya di atas lahan milik anggota Dewan Hindia bernama Cornelis Chastelein.
Dinamai Pasar Senen karena dulu memang hanya buka pada hari Senin saja. Namun, sejak 1766, pasar yang ramai pengunjung ini dibuka selain hari Senin. Begitu banyak cerita yang menyapa wajah Pasar Senen dan sekitarnya. Sebelum Indonesia merdeka, kawasan ini dijadikan tempat berkumpul pada intelektual muda dan pejuang bawah tanah Stovia. Pemimpin besar seperti Soekarno – Hatta pun kerap kali menggelar pertemuan di daerah ini.
Kini, seiring berjalannya waktu, betapa Pasar Senen telah bermetamorfosa. Ketika saya menjejakkan kaki di atas tanahnya, pemandangan gedung kumuh tak terawatlah yang tertangkap kedua mata. Bukan ulasan wajah sebenarnya yang tercatat dalam sejarah. Kios-kios besar pun telah tergantikan oleh para pedagang kaki lima yang menjajakan dagangan seenaknya.
Ketika memasuki pasar, saya membungkukkan badan sedikit sambil memasang mata lekat-lekat. Memasukki area dalam dan memandangi satu per satu kios di dalam Pasar Senen secara sekilas. Sapaan-sapaan yang lebih terdengar seperti godaan terdengar sana-sini.
“Cari apa, Neng? Mampir aja liat-liat dulu.”
“Enggak, Bang.”
“Cari apa, Neng? Cari Abang juga boleh...”
Saya kembali menebarkan pandangan tanpa berusaha menanggapi hirauan-hirauan angin lalu. Di lantai satu pasar tersebut, hanya ada kios-kios penjual buku. Sempat beberapa menit berkeliling sembari melihat-lihat, seorang laki-laki berkepala botak menawarkan buku-buku yang dijualnya. Saya masuk ke dalam kiosnya, mengambil satu buku di sana, dan mulai bertanya-tanya.
Jimmy Ricardo (25), salah satu penjual buku di Pasar Senen sudah mulai berdagang buku sejak kecil. Sebenarnya, keluarganya merupakan orang lama di Pasar Senen. Sejak 1983, ayah Jimmy sudah menjual buku. Kiosnya terletak di belakang, tak jauh dari kios miliknya. Delapan tahun belakangan ini, lelaki yang hobi bermain motor ini pun mulai fokus dalam berjualan buku.
Buku-buku dagangannya bertumpuk rapi di dalam kios, tingginya bisa mencapai 1,5 meter. Sebagian buku dipajang di kios, sebagian lagi dia taruh di gudang. Untuk buku-buku yang sering dicari pembeli, dia pamerkan paling depan. Hal ini dilakukannya agar calon pembeli dapat dengan mudah menemukan buku yang laris di pasaran sehingga mau langsung dibeli.
Jimmy pun mengaku, buku-buku yang dijualnya sebagian original, sebagian lagi tidak. Namun, lebih banyak original, sambungnya.
“Cara ngebedainnya, dari kertasnya aja. Yang nggak ori sebenarnya sama kayak KW satu, KW super, KW biasa. Dari cover nggak ada beda, malah lebih rapi yang KW,” ujarnya ketika ditanya bagaimana cara membedakan buku yang original dan yang tidak.
Ternyata, tidak sedikit orang yang mencari buku-buku murah dengan kualitas bagus. Pelajar, mahasiswa, bahkan seringkali ada dosen yang mencari buku-buku kuliah. Tak peduli apakah buku itu asli atau bajakan, yang penting harga sesuai dengan kantung dan isinya pun sama seperti aslinya.
Siapa sangka, dari bisnis yang dijalaninya ini, Jimmy pun sudah memiliki beberapa pelanggan tetap. Kebanyakan dari mereka adalah para pedagang buku yang menjual kembali buku-buku yang dibelinya via online.
“Yang asli kebanyakan. Sebenarnya Abang bilang, mau yang ori apa yang buku biasa, yang cetak ulang? Kebanyakan orang sih maunya yang murah, ya abang kasih yang cetak ulang. Perbedaannya di mana Bang? Perbedaannya cuma di kertas, tapi dalamnya bisa kebacalah,” tutur anak kedua dari empat bersaudara ini.
Bisnis yang dilakukannya ini membawa keuntungan tersendiri. Dalam sehari, Jimmy bisa mendapatkan Rp3-5 juta. Bahkan, dia pun pernah mendapatkan puluhan juta dalam sehari.
Jimmy biasa membeli buku-buku dagangannya dari orang lain. Buku-buku ini didapatkannya dari kawasan Senen dan Jakarta Selatan.
“Kalo ori, ya ada aja orang yang jual. Kadang obral-obralan. Ya, ada ajalah tangan-tangan jahil. biasanya dari penerbit juga ada. Biasanya ada yang nganter, kadang tiap hari, kadang seminggu sekali. Satu judul bisa 100, 1000, 5000 pernah,” ujarnya sambil menyusun buku-buku dagangannya di tempatnya.
Bukan satu-dua orang saja yang datang ke Pasar Senen untuk memburu buku-buku yang diinginkan, melainkan bisa mencapai ribuan. Terlebih ketika musim ajaran tiba. Dengan kualitas buku yang tidak kalah dengan aslinya, calon pembeli pun bisa mendapatkan harga yang jauh lebih murah.
“Kalau tahun ajaran baru itu, ribuan orang yang datang. Bukan satu sampai dua orang. Ya ampun, udah kayak ngantre daging korban,” ujarnya sambil disambut tawa hangat.
Tak hanya buku-buku terbitan Indonesia, Jimmy pun juga menjual buku-buku impor. Kalau yang baru, biasanya dia membeli bekas tukar tambah di pasar loak. Buku yang paling mahal dijualnya adalah buku-buku kedokteran yang harganya bisa mencapai jutaan. Namun, Jimmy berani menjualnya seharga Rp700.000,00-an.
Siapa sangka, lelaki yang tinggal di Kemayoran ini juga hobi membaca buku, terutama buku sejarah. Yang menjadi bacaan favoritnya adalah buku sejarah berjudul Di Bawah Bendera Revolusi karangan Bung Karno.
Dari ribuan buku yang dijajakannya di kios berukuran 2x2 meter itu, Jimmy melihat referensi buku yang bagus berdasarkan banyaknya peminat yang membeli, serta gaya bahasa yang bagus. Menurutnya, cover bagus jarang menjadi jaminan buku itu laris.

Pro dan Kontra Pembajakan Buku
Salah satu pelanggan Jimmy adalah Desy Hartini. Dia pernah membeli beberapa buku yang dijual lelaki bertubuh gempal itu.
“Gue beli buku-buku itu karena awalnya gue kira itu sama dengan aslinya, terus kan memang sedikit lebih murah. Eh, ternyata memang beda kan tuh. Tergiur juga buat membelinya, tapi akhirnya nyesel!” tukasnya. “Kasihan aja sama penulisnya, sudah capek-capek bikin dan nerbitin buku, tapi gue malah beli yang palsunya, kan kasihan. Terus, lebih enak yang asli jugalah, cover-nya juga lebih bagus. Sampai sekarang aja (bukunya) belum disentuh sama sekali, sampai dipisahin gitu karena palsu,” lanjut mahasiswi Jurnaslitik Universitas Multimedia Nusantara ini panjang lebar.
Ya, siapapun pasti tahu, pembajakan buku tentu sangat merugikan. Setidaknya ada tiga pihak yang dirugikan dalam kasus ini, yakni penulis, penerbit, dan negara. Penulis dirugikan karena sudah pasti royaltinya berkurang, penerbit kehilangan pembeli mereka, dan pendapatan negara atas pajak juga berkurang. Sayangnya, sampai saat ini, pihak-pihak yang harusnya bisa bekerja sama untuk mengurangi masalah ini justru terkesan santai dan menganggap pembajakan sebagai hal yang lumrah.
Menurut Dyan Nuranindya, penulis novel best-seller, sebagian besar taraf hidup masyarakat Indonesia saat ini memang masih rendah. Jadi, wajar kalau pola pikir masyarakat Indonesia cenderung mementingkan kuantitas suatu produk dibandingkan kualitas. Mereka akan memilih produk-produk yang memiliki harga lebih murah asal dapat memenuhi keinginan mereka. Kesadaran akan pentingnya produk asli masih minim.
Perempuan kelahiran Jakarta, 14 Desember 1985 ini pun mengaku pernah melihat novel miliknya dibajak dan dijual orang lain dengan harga yang relatif murah.
“Awalnya sih kaget dan sedih, tapi habis itu saya tertawa sendiri. Itu tandanya novel saya dikenal orang sampai ke kelas ekonomi tertentu karena buktinya ada orang yang rela susah-susah membuat bajakannya. Hehehe...,” ceritanya.
Ya, tidak jauh berbeda dengan Dyan Nuranindya, Donny Dhirgantoro, penulis novel National Best Seller, 5 cm dan 2 ini mengaku bukunya juga banyak dibajak orang tak bertanggung jawab.
“Waktu itu sih pernah minta tolong polisi dari Gramedianya, tapi dia ada lagi, ada lagi,” kenang Donny. Tidak hanya di kawasan Pasar Senen saja, dia juga pernah melihat bukunya dijual di Blok M Square, stasiun kereta, jembatan, dan Kwitang. Dari harga aslinya yang mencapai Rp60.000,00, para pambeli buku bajakan bisa mendapatkannya dengan harga relatif murah, yakni Rp20.000,00. Di Pasar Senen sendiri, buku Donny yang berjudul 2 dijual seharga Rp30.000,00.
Kerugian serupa juga dirasakan oleh penulis novel kontroversial, Membongkar Gurita Cikeas di Balik Kasus Bank Century, George Junus Aditjondro. Dia mendapatkan kerugian sebesar Rp18 miliar akibat pembajakan tersebut. Bahkan, pengarang buku tetralogi Laskar Pelangi, Andrea Hirata, pernah ditawari buku karangannya sendiri yang versi bajakan. Dia pun hanya bisa tersenyum sambil lalu. Kecewa akibat pembajakan yang terjadi di Indonesia ini, Andrea Hirata lebih memilih untuk menerbitkan karyanya di luar negeri.
Lalu, pantaskah kita hanya mengelus dada dan membiarkan buku-buku bajakan ini semakin merajalela? Pembajakan buku di Indonesia ini adalah kasus yang lumayan pelik karena berhubungan dengan banyak pihak. Namun, yang paling terlihat dari kasus ini adalah ketidaktegasan pemerintah dalam menerapkan hukum di Indonesia. Terlalu lama dibiarkan akan membangun sikap kebiasaan yang mengakar.
Pada November 2009 lalu, kios-kios buku di Pasar Senen ini pernah dirazia oleh tim gabungan dari Polsektro Senen dan Ikatan Penerbit Indonesia (IKAPI). Polisi berhasil menyita sekitar 1000 buku bajakan. Sayang, ketika “terapi kejut” bagi para pedagang buku-buku bajakan di Pasar Senen ini berlangsung, sejumlah kios langsung tutup sehingga razia dadakan ini tidak bisa dilakukan menyeluruh. Alhasil, penggrebekan ini pun tak berbuntut pada penggusuran. Tak heran, hal ini tidak menciutkan hati para penjual untuk tetap menjual buku-buku dagangannya di Pasar Senen.
Jimmy sendiri mengaku, Ikatan Penerbit Indonesia (IKAPI) sering datang ke Pasar Senen untuk melakukan razia secara dadakan.
“Ya, pintar-pintarnya kita aja. Buku-buku yang bajakan kita amanin. Yang di-display yang asli,” akunya.
Bahkan, Jimmy sendiri mengaku, banyak polisi yang membeli buku-buku yang dijualnya.
“Sering. Kadang dia beli buku untuk anaknya atau buat keluarganya, kadang buat dia pribadi juga dia beli,” ungkapnya.
Hmm... di balik semua itu, ternyata kasus ini seakan ter-cover oleh pihak keamanan Pasar Senen itu sendiri. Bukan tidak mungkin apabila kasus pembajakan buku ini kian berlarut-larut lamanya tanpa penyelesaian pasti.
Lalu, apakah kejadian serupa akan kembali terjadi?
“Ada rencana digusur sih enggak, tapi adanya pemindahan dari Pasar Senen Jaya ini. Yang paling ditakutin dibakar doang. Takut itu! Ibarat kata kalau dibakar – amit-amit sih jangan ya- dari penggusuran katanya gedung ini nggak layak pakai. Tapi, ada mahasiswa dari mana gitu, katanya gedung ini masih layak dipakai untuk lima tahun ke depan,” cerita Jimmy sambil mengembuskan asap rokok dari dalam mulutnya. Sesekali dia menawarkan dagangannya kepada calon pembeli yang melintasi kiosnya.
Namun, lagi-lagi Undang-undang di Indonesia belumlah tegas. Bisa kita lihat perbandingannya di negara-negara lain, Amerika misalnya. Penulis masih bisa berlindung di balik Undang-undang Hak Cipta.
Tunggu dulu. Siapa bilang Indonesia tidak memiliki Undang Hak Cipta? Punya. Ada UU Republik Indonesia Nomor 19 tahun 2002 tentang Hak Cipta. Hak ini diperuntukkan bagi pencipta atau penerima hak untuk memberi izin dalam penggandaan karya miliknya. Hal ini tidak akan membatasi peraturan yang berlaku sehingga hak cipta ini tentu saja sangat menguntungkan para penulis. Bagi siapapun yang melanggar hak eksklusif ini, akan dikenakan hukuman penjara dan denda milyaran rupiah.
Penulis hanya tinggal mendaftarkan Hak Cipta atas karyanya ke Direktorat Jenderal Hak Kekayaan Intelektual, Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia RI. Meski membutuhkan waktu dan biaya yang tidak sedikit, setidaknya para penulis memiliki hak paten atas karyanya.

E-Book, Solusi Pembajakan Buku?
Melihat makin maraknya kasus pembajakan buku yang ada di Pasar Senen, tentu bukan pihak berwenang saja yang harus memutar otak dan memikirkan solusi terbaik untuk memberantas pembajakan buku ini. Namun, masyarakat Indonesia pun juga harus turut berpartisipasi. Pertanyaan yang selalu berdengung di telinga, apa solusi yang tepat atas pembajakan buku ini?
An Kaliman, pendiri sekaligus pemilik Papataka.com, situs e-book store pertama di Indonesia melihat adanya peluang dari buku elektronik. Papataka.com meggunakan Digital Rights Management dalam setiap e-book yang dijual sehingga hanya pembeli yang telah terkoneksi dan terdaftar dengan ID yang bisa membaca buku. E-book legal seperti ini dianggap dapat mengurangi pembajakan buku di Indonesia.
“Para penerbit sesungguhnya tidak perlu terlalu khawatir pada masalah pembajakan buku karena buku cetak sebenarnya lebih gampang dibajak daripada e-book. Untuk membajak buku cetak kita tinggal fotokopi saja, tapi untuk membajak e-book diperlukan seorang programmer atau hacker,” uangkapnya, seperti yang dikutip dari Majalah Insight, edisi April 2012.
Namun, lagi-lagi sangat disayangkan. Masyarakat seakan menutup mata, telinga, dan hati nurani. Mereka lebih “cerdas” dibanding kelihatannya. E-book ilegal kini sudah bertebaran di mana-mana. Masyarakat dapat mengunduhnya secara gratis di berbagai situs penyedia jasa buku elektronik. Kini, kerugian pun semakin berlipat ganda. Tak terbayang bagaimana pihak-pihak berwenang seharusnya bertindak.
Semacam guilty pleasure. Sudah tahu pembajakan buku itu salah dan merugikan banyak pihak, tetapi masih saja dilakukan. Apakah tidak takut dipenjara? Ya, takut. Semua orang pasti takut. Apa tidak taku merugikan penulis? Entahlah, mereka hanya pedagang yang hanya menjual saja. Bersedia dapat sanksi? Kali ini Jimmy mengelak.
“Ya, sekarang kalau kita nggak jual, orang-orang itu carinya yang murah. Bajakan nggak apa-apa. Semua tergantung pembeli. Kalau pembeli maunya yang ori ya ori kita kasih, tapi kalau harganya masuk ya kita kasih. Kalau harganya nggak masuk? Misal, modal buku mahasiswa 80 ribu, dia nawar 60 ribu. Kita kasih yang KW, tapi KW-nya bagus. Nih... ada KW bagus, KW super, KW satu, ya kita kasih.”
Lucya Andam Dewi, Ketua IKAPI turut menanggapi persoalan ini. Dia mengatakan, perlu adanya support dari masyarakat guna memberantas pembajakan buku ini. Sebab, masyarakat banyak yang tidak menyadari kalau membeli buku-buku bajakan sama saja dengan mengurangi hak penulis dan penerbit.
“Karena buku bajakan, penulis jadi malas mengeluarkan karya-karyanya yang lain karena pendapatan royalti mereka berkurang. Penerbit akan bangkrut secara perlahan-lahan dan akhirnya gulung tikar,” tutur Lucya, seperti yang dilansir dari http://senjadibandara.wordpress.com. Dia pun menambahkan, “Pemerintah harus bisa lebih aktif menggairahkan industri buku dalam upaya menciptakan harga buku murah serta berkualitas. Bagaimana bisa kita menerbitkan buku murah dan berkualitas kalau tidak ada dukungan dari pemerintah untuk segala hal.”
Selama kesadaran masyarakat akan pentingnya membeli barang asli belum juga terlaksana dengan baik, maka kasus pembajakan ini tidak akan pernah selesai. Namun, hal ini pun masih bisa diminimalisasi dengan memberikan edukasi dan sosialisasi tentang keuntungan membeli barang non-bajakan bagi banyak pihak dalam skala luas.
Pertanyaannya, mau sampai kapan pembajakan buku ini terus dibiarkan?
“Oooo... sampai ada pengganti pekerjaan yang lebih baik dan pastinya yang penghasilannya lebih besar. Jujur, Abang sudah jenuh saat ini. Lagian, sekarang ini lagi sepi banget,” kata Jimmy santai.
Jimmy pun kembali duduk di depan kios kecilnya dan menelan beberapa teguk air dari botol air berukuran 1500 ml. Sambil sesekali menyapa kerabatnya yang juga sesama penjual buku bajakan, dia memerhatikan orang-orang yang lalu lalang di depan kiosnya. Tak dipedulikannya suasana panas dan pengap Pasar Senen yang membuat peluh membanjiri tubuhnya, dia tetap menawari buku-buku yang dijualnya kepada para calon pembeli.
“Cari buku apa, Neng? Sini, masuk aja dulu....”




Oleh Sintia Astarina - 11140110048
Tugas Mata Kuliah Penulisan Feature

Selamat Sampai Seberang

Seorang penyebrang jalan yang hampir tertabrak sepeda motor akibat tidak menggunakan Jembatan Penyebrangan Orang yang sudah tersedia di Jalan Raya Gading Serpong.

Salah satu penyebrang jalan yang tidak menggunaan fasilitas jembatan penyebrangan orang dengan baik

38... 37... 36... 35... 34... 23... 22... 21.... Lampu hijau menyala.

Digendongnya tas punggung warna hitam di bagian depan. Seragam karyawan pun masih lekat dikenakannya. Memasang badan di tepi jalan layaknya waktu tengah memburu. Dipasangnya mata tajam-tajam. Memerhatikan setiap laju kendaraan yang hendak melintas.

20... 19... 18... 17... 16... 15... 14.... Lampu hijau masih menyala.

Dengan sigap orang itu berlari tanpa lihat kanan-kiri. Menerobos lalu lintas menuju seberang jalan. Sedikit berlari kecil tanpa hati-hati. Deru mesin motor dan mobil mengirinya menuju seberang jalan.

Tiiiinnnnn!!! Tiiiinnnnn!!!

Ketika sadar laju kendaraan yang kian ramai dan cepat, tanpa sadar orang itu berhenti berlari. Motor hijau berplat nomor B 3980 NFO hampir saja menabraknya!

Tiiiinnnnn!!! Tiiiinnnnn!!!

Orang itu pun kembali berlari, melewati jalanan besar hingga ke seberang. Tak dihiraukannya muka-muka pengemudi yang ingin membunyikan klakson untuknya keras-keras.

***

Di kejauhan, beberapa polisi terlihat sibuk mengatur padatnya lalu lintas. Jalan Raya Serpong yang terkenal dengan kemacetannya pada jam-jam pulang kerja, membuat para polantas harus bekerja dengan ekstra. Tak hanya mengatur kendaraan-kendaraan yang lalu lalang saja. Namun, juga pejalan kaki yang hendak menyebrang.

“Saya tidak suka dengan orang yang menyebrang sembarangan, apalagi sudah ada fasilitas JPO, Jembatan Penyebrangan Orang. Kalau ada fasilitasnya, ya pakai. Makanya, kita himbau masyarakat agar melalui JPO tersebut,” ujar Brigadir Kepala Polisi Rahmatullah dari Polres Tangerang.

Dalam Undang-undang Republik Indonesia Nomor 22 tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan, terdapat dua pasal yang memuat hal dan kewajiban bagi para pejalan kaki.  Pasal 132 ayat 1 menyebutkan, “Pejalan kaki wajib menggunakan bagian jalan yang diperuntukkan bagi pejalan kaki atau jalan yang paling tepi atau menyeberang di tempat yang telah ditentukan”.

Meski ada hukum tertulis, toh masih saja banyak orang yang tak menghiraukannya.

“Kesal sih lihat orang nyebrang sembarangan, apalagi kalau jalannya pelan, bahkan harus rem mendadak. Tapi, kalau ada orang mau nyebrang, tentu aja gue kasih jalan karena gue juga suka nyebrang sembarangan. Hehehe...,” ujar Jordan Vincent, salah satu pengguna kendaraan bermotor.

Ya... gambaran orang yang menyebrang sembarangan tampaknya bukan hal yang biasa lagi. Kini, pemandangan serupa kerap kita temui di mana-mana. Bukankah sudah ada fasilitas jembatan penyebrangan yang siap digunakan? Bukankah juga ada zebra cross yang siap menjadi rambu-rambu? Lantas, mengapa masih banyak orang yang menyebrang sembarangan?"

“Saya lebih suka menyebrang langsung karena lebih cepat. Lagipula, jembatan penyebrangan masih jarang sekarang. Makan waktu kalau harus ke jembatan penyebrangan dulu,” tambahnya.

Sebagai pengguna jalan, tentu keselamatan adalah hal yang harus diprioritaskan. Pemerintah Kota Tangerang telah membuat sebuah fasilitas umum untuk masyarakat pakai, yakni jembatan penyebrangan itu sendiri. Bukan semata-mata hanya untuk melengkapi fasilitas saja, tetapi jembatan ini tentu memiliki banyak manfaat.

“Yang pertama safety. Lebih aman karena kita sudah berada di jalur yang tepat. Kalau misalnya kita tidak bisa menyeberang, gimana kita bisa memberi contoh ke orang lain untuk menyebrang di sana? Selama ini kita mengeluh, duhh... kenapa macetlah... segala macamlah... itu salah satu sebabnya orang yang menyeberang tidak pada tempatnya,” tutur David Mario Hutabarat, salah satu pejalan kaki.

Baginya, masyarakat belum punya cukup pengetahuan mengenai peraturan yang berlaku. Karena selama ini, mereka hanya mengetahui, tetapi tidak menerapkannya dalam kehidupan  nyata. Sebagai pengguna jalan yang bijak, haruslah saling mengerti kalau kita wajib menyeberang di tempat yang sudah disediakan.


Selain alasan keamanan, jembatan penyeberangan orang ini juga berfungsi untuk mengurangi kemacetan lalu lintas sehingga arusnya pun tidak terlalu terhambat. Di sisi lain, jembatan ini berfungsi untuk mengurangi kecelakaan lalu lintas. Namun sayangnya, kini fasilitas penyebrangan banyak dialihfungsikan menjadi lahan mata pencaharian.

Di sudut tangga, seorang wanita tua berkerdung cokelat tengah duduk manis. Menanti para pejalan kaki yang lewat, sambil sesekali memerhatikan angka-angka penunjuk waktu pada lampu lalu lintas. Menanti wadah uang receh di hadapannya untuk diisi penuh noleh pejalan kaki yang lalu lalang. Di sisi lain, seorang pria tua berkeriput menyodorkan gelas kecil miliknya ke depan. Berharap ada pejalan kaki yang lewat dan memberikan seperak dua perak untuknya.

Beruntung, fasilitas jembatan penyebrangan ini memang seadanya. Tidak seperti di kota Jakarta yang cenderung lebih panjang dan lebar. Bahkan, bukan hanya pengemis dan gelandangan saja yang dapat kita lihat. Di atas jembatan, bisa kita temui penjual masker, screen guard... casing handphone... power bank... stiker... aksesoris... buku... komik... novel... sandal crocs....

“Sebenarnya itu mengganggu pejalan kaki, karena space untuk berjalan semakin sempit. Cuma, hal itu membawa keuntungan. Pemda perlu mengkaji ulang mengenai solusinya. Pelebaran jalankah? Atau bikin underground seperti Singapur,” kata David lagi.

Minimnya jumlah dan fasilitas yang memadai terkait jembatan penyebrangan di Tangerang ini menjadi salah satu titik yang harus dibenahi oleh Pemda. Bukan dari sekadar fungsi, melainkan struktur, fondasi jembatan, serta kenyamanan dan keamanan dalam menyeberang.

Jumlah JPO di Tangerang memang sangat kurang. Perlu dibangun banyak jembatan di tempat-tempat umum, seperti mall, tempat perbelanjaan, sekolah, dan rumah sakit. Apabila membutuhkan waktu yang tidak sedikit, setidaknya ada zebra cross.

Kendati demikian, jumlah jembatan penyebrangan yang sedikit ataupun banyak berlum tentu dapat digunakan maksimal. Mengapa? Memang, para pejalan kaki harus diprioritaskan. Akan tetapi, apabila masyarakat sendiri belum paham akan keselamatan dirinya, bagaimana mereka memiliki mindset untuk menjaga kelancaran dan keselamatan lalu lintas bersama? Tampaknya, sosialisasi untuk menyebrang di JPO haruslah masuk daftar tugas tambahan. Hukum yang berlaku tentang pengguna jalan harus lebih diperketat.


“Saya sering negur orang secara langsung. Intinya demi keselamatan penyebrang itu. Makanya, kita tidak pernah bosan-bosannya untuk menghimbau agar masyarakat sesuai dengan aturan yang ada,” tukas Brigadir Kepala Polisi Rahmatullah yang sudah bekerja sebagai polantas selama 14 tahun. “Demi keselamatan ibu, bapak, adik-adik, ini sudah ada JPO, sudah ada fasilitasnya.”

Mengapa harus rela melihat ke kiri dan kanan, merasa was-was dan melangkahkan kaki terburu-buru, sembari memberi tangan untuk memberhentikan mobil?

Tiiiinnnnn!!! Tiiiinnnnn!!!

Bukankah lebih aman menaiki beberapa anak tangga, berjalan lurus tanpa memerhatikan laju kendaraan untuk diterobos, lalu menuruni beberapa anak tangga lagi?

Hhhhh... Hhhhh.... Hhhhh....

Meski lelah, kenapa tidak... asalkan selamat sampai seberang?




Oleh Sintia Astarina - 11140110048

Tugas Mata Kuliah Penulisan Feature

Berdoa, Berwisata, dan Berbuat Baik di Boen San Bio







Arahang sammâ Sambuddho Bhagavâ. Imehi sakkarehi tang Bhagavantang abhipujayama.
Svâkhâto Bhagavatâ Dhamma. Imehi sakkarehi tang Dhammang abhipujâyama.
Supatipanno Bhagavato sâvâakâ sangho. Imehi sakkarehi tang Sanghang abhipujâyama.


Pemimpin kebaktian memulai ibadat di Ruang Dhammasala, Vihara Boen San Bio. Sembari mengucapkan serentetan doa, merek meletakkan tangan di dahi, lalu diturunkan sedada. Mereka pun ber-namaskara (duduk bersila) sambil mengikuti pemimpin kebaktian.

Setiap minggunya, umat datang rutin untuk mengikuti kebaktian yang diadakan seksi kerohanian. Sebelum memasuki Ruang Dhammasala, patung Dewi Kwan Im Pouw Sat setinggi tiga meter menyambut. Saat memasuki ruang kebaktian, terpampang patung Buddha di altar depan dengan tinggi yang sama. Mereka yang menganut ajaran Theravada ini pun membaca buku Parita Suci sambil memanjatkan doa kembali.

Namo tassa bhagavato arahato samma sambuddhassa. Pujilah Sang Bhagava, Sang Buddha yang telah mencapai penerangan dan Kebijaksanaan Sempurna. Namo sabbe Bodhisattaya – Mahasattya. Pujilah para Bodhisatva – Mahasatva, mahkluk-mahkluk suci nan luhur budinya.

Dapat kita hirup bau hio yang menusuk hidung. Mata pun ikut terasa pedih karena aspanya. Suasana yang khusyuk saat membacakan doa-doa membuat seluruh umat yang hadir lebih berkonsentrasi.

“Kalau kebaktian, biasanya membaca Parita, mendengarkan dhama (khotbah), dan ber-dharma gita,” ujar Albert, staff tata usaha yang sehari-harinya mengurusi operasional vihara.

Selain ruang kebaktian, kita bisa melihat berbagai keunikan dan ciri khas lain di tempat ibadah ini. Salah satunya, pada bagian atap bangunan utama tampak sepasang burung fenghuang (burung phoenix) dengan sebutir mutiara di tengah-tengahnya. Lalu, ketika memasuki vihara yang dibangun oleh Lim Tau Koen pada 1689 ini, ratusan lampion merah tergantung rapi di atap-atap. Di bawahnya, terdapat sebuah nama pada masing-masing lampion. Hal ini menandakan suatu perwujudan doa manusia agar doanya dapat dikabulkan oleh Sang Buddha.

Di halaman depan, terdapat thian sin lo terbesar di Indonesia. Dengan berat 4.888 kg, tinggi 120 cm, dan diameter 150 cm, tempat menaruh hio atau dupa ini mendapatkan rekor dari Museum Rekor Indonesia (MURI). Thian sin lo ini terbuat dari batu onix, sejenis marmer yang berasal dari Poso, Sulawesi. Tak hanya tempat hio ini saja yang terbuat dari batu onix, tetapi juga seluruh patung yang terdapat di Vihara Boen San Bio ini. Hal ini supaya patung-patung tersebut terlihat lebih megah dan apabila terjadi kebakaran, tidak akan hancur.

Boen San Bio yang didominasi warna merah, kuning, dan biru ini memiliki arti kebajikan setinggi gunung. Hal ini tercermin dari bangunan yang menjulang tinggi dengan pagoda-pagoda di atasnya. Bahkan, terdapat beberapa candi menghiasi atap Ruang Dhammasala. Nuansa rohani memang begitu lekat pada vihara yang terletak di Pasar Baru, Tangerang ini.

Selain menyembah Sang Buddha, umat juga menyembah Dewa Bumi, Kong Co. Ia adalah seorang yang tua, berambut dan berjenggot putih panjang, wajah tersenyum ramah. Dewa yang juga disebut sebagai Dewa Hok Tek Tjeng Sin ini terletak di altar utama karena merupakan dewa tertua yang sangat dipercayai masyarakat China. Total, ada 16 altar di mana umat Buddha bersembahyang. Setiap altar diberi nomor urut agar umat tidak bingung ketika membawa hio mereka dari altar satu ke altar lain, berdoa kepada dewa-dewa di sana. Sam Kai Kong, Bie Lek Hud, Jie Lay Hud, Kwan Im Hud Cow, Co Shu Kong, Pek How Pek Coa, Kwee Sheng Ong, Kwen Tek Kum, dan Pat Sien Kwe Hay.

Vihara yang buka pada pukul 7 pagi hingga 12 malam ini nyatanya juga terkenal akan keindahannya sebagai tempat wisata.

“Banyak yang berkunjung kalau ada perayaan. Se-Jabodetabek. Ada juga yang dari luar negeri, datang untuk foto-foto,” tukas Albert yang sudah bekerja selama 15 tahun di vihara ini.

Taman yang terdapat di tengah vihara biasa digunakan umat untuk bersantai atau mengobrol. Bahkan, tak jarang calon pengantin yang memanfaatkan keindahannya guna melakukan sesi foto untuk pre-wedding.  Tak disangka, taman ini menyatukan unsur air, api, tanah, dan udara menjadi satu.

Ketika berkeliling vihara, pada bagian belakang dapat kita temukan Sumur Sumber Rezeki. Sumur ini dikelilingi oleh 8 pancuran air yang mengelilingi sumber air. Dulu, sumur ini dimanfaatkan warga sekitar untuk minum dan keperluan lainnya. Meski musim kemarau tiba, airnya tidak pernah berhenti mengalir. Uniknya, banyak umat yang percaya kalau sumur ini dapat memberikan keberuntungan bagi siapa saja yang meminumnya. Saya ingin sekali mencobanya, sayang saya tidak mengerti bagaimana tata cara sembahyang umat Buddha.

Keajaiban lain yang pernah terjadi di Vihara Boen San Bio adalah adanya bola api yang melayang-layang sekitar 1995-an. Dulu, Ruang Dhammasala merupakan sebuah gudang. Tak disangka, beberapa orang pernah melihat penampakan seekor ular besar berwarna putih. Sebelum gudang itu hendak direnovasi, para pengurus vihara mengadakan upacara sembahyang untuk mengusir si “penunggu”. Cuaca hari itu cerah. Namun, tiba-tiba terdengar suara petir menggelegar.... DHUUUARRR!!!

Mistisnya, seketika petir itu berubah menjadi bola api yang terbang ke sana kemari, memasukki ruang-ruang suci vihara, lalu keluar lagi. Bahkan, bola api itu membelah sebuah pohon menjadi dua. Singkat cerita, petir itu dipercaya merupakan kiriman dari Kong Co untuk mengusir si ular putih agar tak mengganggu lagi.

Di sudut lain, ada makam Mbah Raden Surja Kentjana di dalam vihara ini. Dulunya, ia adalah bangsawan dari Kerajaan Banten. Makamnya yang semula berada di dekat Sungai Cisadane, kini dipindahkan ke Vihara Boen San Bio guna dirawat. Tak heran, banyak umat –terutama umat Muslim- yang datang untuk berziarah. Itulah mengapa tempat suci ini sering disebut klenteng kepercayaan.

Tak hanya sekadar untuk bersembahyang atau berwisata, lebih dari itu, kita bisa mengetahui bagaimana ajaran-ajaran baik Sang Buddha. Ajaran-Nya dipercaya dapat menjadi arahan bagi manusia menuju perdamaian dunia dengan semboyan suci, yakni cinta kasih dan kasih sayang. Ajaran yang universal ini juga mengenalkan kita pada hukum karma.

“Sesuai dengan benih yang ditanam, itulah buah yang akan Anda peroleh. Perilaku kebaikan akan menuai kebaikan. Pelaku keburukan, memperoleh keburukan. Jika Anda menanamkan benih yang baik, maka Anda akan menikmati buah yang baik pula.”

– Samyutta Nikaya Vol. I, P.227.



Sabda sang Buddha senantiasa mengingatkan kita agar dapat melakukan perbuatan mulia, contohnya dengan memberikan sumbangan dalam rangka aksi sosial. Vihara Boen San Bio sendiri pun pernah melakukan bakti sosial dengan membagikan beras dan sembako untuk warga sekitar yang membutuhkan.

Tidak ada salahnya bukan kalau kita berkunjung ke Vihara Boen San Bio sambil berdoa, berwisata, dan berbuat baik?

Sabbe Satta Bhavantu Sukhitatta.
Sadhu! Sadhu! Sadhu!




Oleh Sintia Astarina - 11140110048
Tugas Mata Kuliah Penulisan Feature
www.sintia-astarina.blogspot.com

Siti Asiah: Mengurus Jenazah adalah Kewajiban


Siti Asiah, pemandi dan perias jenazah


Nawatul ghusla lihaadzal mayyit fardhal kifaayati lilahita'ala
(Sengaja aku memandikan mayat ini, fardhu kifayah karena Allah Ta'ala)

Mulutnya telah ditutupi masker. Sarung-sarung itu juga sudah melekat di kedua tangannya. Dia mengucap serentetan doa untuk tubuh tanpa nyawa di hadapannya. Berharap supaya dosa-dosa orang itu diampuni. Dia mulai berdzikir. Lailahaillaallah... Lailahaillaallah.... Terselip doa-doa untuk diberikan kemudahan dan kelancaran. Pesannya, jangan sampai apa yang kita lihat saat memandikan jenazah itu kita omongkan. Sebab, sudah niat untuk ibadah.

Alat mandi, kapas, kapur barus, kain kafan, minyak wangi, alat bersih-bersih, make up, semua didapatkannya dari Majelis Ta’lim. Setiap Jumat malam ada dana sosial untuk mereka yang sakit atau meninggal. Secara sukarela dia mengurusi hidup orang lain. Sudah lebih dari lima tahun dia bergelut dalam dunia “kematian” ini. Entah berapa banyak jenazah yang sudah dimandikan dan dirias olehnya.

Lalu, dia pun menyirami tubuh di hadapannya itu dengan air timun untuk menghilangkan bau busuk. Dia membilasnya dengan air biasa, menggosok giginya, membersihkan kemaluannya, dipijatnya agar segala kotoran dapat keluar, dan kembali membersihkannya dengan air. Setelah bersih dan kering, dia bersama para pemandi jenazah lainnya menggotong tubuh itu untuk dikafani dan dirias.

Perlengkapan pun seadanya. Bedak... lipstik... bahkan keduanya pun hampir tidak pernah dipakai. Tergantung permintaan keluarga si jenazah.

Ya... tidak pernah terlintas dalam benak Siti Asiah untuk melihat jenazah, apalagi memandikannya. Melihat orang meninggal saja sudah takut luar biasa.

“Boro-boro megang, Ibu mah takut,” ujarnya wanita bertubuh agak gempal ini. wajahnya terlihat polos tanpa olesan bedak. Maklum, masih pagi.

Berkat membaca buku-buku hidayah, Ibu empat anak ini merasa tergerak hatinya. Dia tersentuh. Sebagai Muslim, dia merasa berkewajiban untuk bisa mengurus jenazah. Rasa takut dilunturkannya. Rasa jijik dilawannya. Rasa mual ditahannya. Bau busuk yang menyergap hidung tak lagi dihiraukannya.

Berawal dari sekadar ikut-ikutan, hati istri Bambang Suseno ini mulai mantap. Baginya, sudah tugas para Muslim untuk memandikan, mengkafankan, mensalatkan, dan menguburkan. Ketika di lingkungan ada orang yang meninggal, tetapi tidak ada orang yang mau memandikan jenazah, Siti Asiah tidak tinggal diam. Tangan-tangan luar biasanya tak pernah takut berbuat baik. Iman pun selalu kokoh mendampinginya.

Dalam satu jam saja, dia sudah selesai memandikan sekaligus merias jenazah. Pernah dia mengurusi mayat hingga berjam-jam lamanya.

“Sudah dibersihkan, keluar kotoran lagi. Sudah dibersihkan, keluar kotoran lagi. Sudah disumpel lubangnya, pas mau diletakkan, keluar kotoran lagi,” kenangnya kembali.

Meskipun begitu, dia mengaku bangga bisa melakukan hal yang menurutnya belum tentu bisa dikerjakan orang lain itu. Meski agak kerepotan dan tidak memiliki ilmu, Siti mengaku senang bisa membantu orang lain. Sehabis memandikan jenazah, rasanya nikmat. Allah memberikan ilmu dan mengirimkan dirinya untuk memandikan jenazah tersebut.

Siti yang pendidikan terakhirnya Sekolah Dasar ini mengajak saya untuk berefleksi. “Sekarang kita yang memandikan dia (jenazah), kita nggak tahu kalau lima menit lagi kita yang dimandikan.” Maka dari itu, kita harus ingat pada diri sendiri.


Pernah suatu kali Siti Asiah hendak memandikan jenazah. Di dalam ruangan itu, ada tiga orang yang bertugas. Satu di kaki, satu di perut, kebetulan Siti dapat di bagian kepala. Saat kepala dimiringkan, jenazah itu ngorok! Seperti orang tidur! Saat ditengok, orang-orang sudah pada nggak ada. Pemandi jenazah lainnya sudah kabur. Ketakutan. Tinggalah ia sendirian di dalam ruangan itu.

“Bu Bambang!” Begitu dia akrab disapa. “Sini-sini!” panggil dua Ibu lainnya yang turut memandikan jenazah. Mereka lari menjauh karena mendengar suara seperti mayat hidup!

“Kenapa?”

“Ada yang aneh, Ibu dengar nggak?”

“Dengar... memang kenapa?”

“Keluar! Keluar! Itu kan ngorok tadi!”

“Itu bukan ngorok!” bantahya mantap.

Siti Asiah memang mendengar bunyi mayat ngorok tadi, tetapi ia sama sekali tidak takut. Entah keberanian apa yang membuatnya tetap bertahan di samping jenazah itu. “Itu mayat kan sudah dari semalam. Kalau sudah mati, lubang-lubang pada bolong semua. Mungkin karena (terkena) angin terus ditekan-tekan, jadinya bunyi khoooqqq... khoooqqq...,” ujarnya sambil menirukan bagaimana bunyi mayat ngorok.



Pukul satu malam, ketika orang-orang telah terlelap, Siti terbangun dari tidur karena sebuah telepon membangunkannya. Dia ditelepon oleh seseorang dari daerah Lippo. Ada yang minta mandiin jenazah, katanya. Menganggu memang, tetapi Ibu berjilbab ini merasa enjoy dengan apa yang dikerjakannya.

Ketika sampai di rumah sakit, Siti melihat jenazah itu tergeletak begitu saja. Siapa sangka, jenazah itu adalah pemilik pom bensin se-Tangerang. Hatinya langsung mencelos. Ya ampun... kalau sudah meninggal kayak nggak ada harganya sama sekali. Semua manusia pada dasarnya sama. Ketika hidup, ada perbedaan antara yang kaya dan yang miskin. Namun, kalau sudah jadi jenazah, hanya kain kafan saja yang dibawa... dan ada amal ibadah yang membela.

Menjadi seorang pemandi dan perias jenazah tidaklah semudah yang dibayangkan Siti Asiah. Penghasilan yang tidak menentu hanya menuntut sebuah keikhlasan.

“Kadang-kadang dapat penghasilan, kadang-kadang enggak. Kalau ada sedekah, ya kita terima. Penghasilan nggak cukup untuk sehari-hari,” kata wanita kelahiran Pondok Pinang, 12 Oktober 1965 ini, sambil malu-malu.

Bambang Suseno, suaminya yang membuka usaha rumah makan Mie Tendean yang kini mencukupi kebutuhan sehari-hari mereka. Selain itu, Siti juga menjadi guru mengaji. Pendapatannya memang tak seberapa, tapi cukup untuk tambah-tambah.

Saya pun bertanya, sampai kapan Siti Asiah mau menjadi pemandi dan perias jenazah?
“Selama Ibu masih bisa, selama orang masih membutuhkan, Ibu akan selalu siap. Selama Ibu sehat dan diberikan berkah panjang umur, insyaallah itu yang Ibu tekuni. Ibu cuma cari ridho Allah.”




Oleh Sintia Astarina - 11140110048
Tugas Mata Kuliah Penulisan Feature
www.sintia-astarina.blogspot.com

Melanggar Peraturan, Mengatur Pelanggaran

Peraturan untuk tamu yang datang ke Desa Kanekes (Baduy)
MASYARAKAT Baduy Dalam tidak mengenal listrik dan teknologi. Mereka tidak diperbolehkan menggunakan alat-alat seperti handphone, TV, dan kamera. Sama halnya juga dengan menaiki kendaraan. Melakukan hal-hal tersebut sama saja dengan melanggar adat istiadat. Pu’un atau kepala adat tidak akan segan-segan mengeluarkan masyarakat Baduy Dalam yang terbukti melanggar. Berbagai aturan adat istiadat seakan mengikat mereka lekat. Kalau tak berpegangan erat, mereka bisa melanggar dan menerima konsekuensi terberat sekalipun. Entah pelanggaran itu disengaja atau tidak disengaja. Akan tetapi, benarkah peraturan itu dibuat untuk dilanggar? Mungkin, sebagian orang sering mendengar pernyataan yang satu ini. 

Ya, tak dapat dimungkiri apabila kita tengah dikelilingi oleh sekelumit aturan. Harus mengerjakan tugas, memakai baju sopan ke kampus, dilarang parkir di depan rumah warga, dilarang buang sampah kalau tidak mau dibilang monyet, sampai dilarang kencing sembarangan! Entah aturan itu dibuat mengikat atau sekadar sambil lalu. Entah aturan itu mudah atau rumit dijalankan. Entah hanya dibuat-buat atau memang benar punya tujuan mulia. Siang itu, saya menyusuri berpuluh-puluh kilometer jauhnya menuju desa Ciboleger. Perlahan, saya membaca kembali sebuah pesan singkat yang masuk ke handphone. Pesan itu datangnya dari salah satu masyarakat Baduy. Membaca kata per kata dengan hati-hati, sembari mencerna maksud dari pesan itu. 

Sarwadi
Received 13/12/2012 @09:31
Hlow dari sarwadi baduy teman ibu anreas jadi ga besok ke baduy aku tugu di terminal ci bolegr tolg esms bals

Itu adalah SMS dari Kang Sarwadi, masyarakat Kanekes yang mendampingi saya untuk mengeksplorasi suku Baduy di Kabupaten Lebak, Banten, di kaki pegunungan Kendeng desa Kanekes. Saya melihat Kang Sarwadi beserta adiknya, Kang Sarmidi yang tengah menunggu di depan Alfamart. Keren juga, di Baduy ada Alfamart, ujar saya dalam hati. Saya mendekat, bertemu sapa, dan memulai obrolan kecil.

Tak sadar, saya mulai memerhatikan mereka lekat-lekat dari ujung kepala hingga ujung kaki. Ikat kepala putih yang menempel di kepala, baju tenun putih yang agak usang, tas kain nan lusuh, gelang-gelang di tangan, dan kaki-kaki kuat tanpa alas. Awalnya, sempat terpikir bahwa mereka berasal dari Baduy Luar. Nyatanya tidak, setelah saya mendengar pernyataan bahwa mereka berasal dari Baduy Dalam.

Teringat kembali akan SMS yang pernah dikirimkan Kang Sarwadi beberapa waktu sebelumnya. Apa benar Kang Sarwadi dan Kang Sarmidi mengirimkan SMS itu kepada saya? Kalau iya, terbukti mereka kedapatan mengunakan handphone untuk berkomunikasi. SMS itu jelas menjadi bukti pelanggaran. Jika demikian, bukankah Pu’un bisa mengeluarkan mereka dari Baduy Dalam?

“Itu punya teman. Kalau dipakai di Baduy Luar nggak apa-apa. Nggak ngelanggar adat,” jawab Kang Sarwadi santai. Saya pun bertanya lagi, apa konsekuensi bila ada masyarakat yang melanggar aturan? Lelaki berumur 28 tahun ini pun menjawab, kalau ketahuan melanggar aturan adat, akan dikeluarkan dari Baduy Dalam, naik kendaraan misalnya. Ya, bicara soal aturan, apakah wajar bila seseorang melanggar adat yang berlaku? Terlebih ketika aturan itu sudah diwariskan secara turun temurun... seperti masyarakat Baduy tersebut.

“Setiap manusia diatur oleh norma, aturan, budaya, adat, dan agama. Kalau kita lihat, siapapun mempunyai potensi untuk melanggar aturan karena seringkali orang bilang kalau peraturan itu dibuat untuk dilanggar. Jadi, wajar saja kalau mereka melanggar adat istiadat,” tutur Inco Harry Perdana, Dosen Komunikasi Antar Budaya Universitas Multimedia Nusantara. Hukum boleh-tidaknya, benar-salahnya, yang menentukan adalah seseorang yang dipercayai kelompoknya.

Dalam masyarakat Baduy, ada Pu’un yang berhak mengambil keputusan. Sebab, hubungan horizontal itu sulit. Misalnya, mahasiswa tidak bisa menghukum sesama mahasiswa. Mahasiswa bisa dihukum oleh dosen. Dosen dihukum rektor. Dalam budaya atau masyarakat, harus ada hubungan vertikal. Itulah yang bisa memutuskan salah atau tidaknya.

Berbeda dengan Desy Hartini, mahasiswi Jurnalistik 2011, Universitas Multimedia Nusantara yang pernah berkunjung ke Baduy ini. “Nggak wajarlah. Itu kan adat mereka, turun temurun pula. Nah, seharusnya sebagai penduduk di sana harus mematuhi peraturan-peraturan yang sudah disepakati.” Pada kenyataannya, adat istiadat bukanlah sesuatu yang tidak bisa berubah. Sifatnya yang dinamis lambat laun akan menyesuaikan.

Yang perlu diingat, budaya yang menyesuaikan dengan masyarakatnya. Seperti statement berikut ini: “Bukan kaki manusia yang dipotong seukuran panjang celana, tetapi celana yang dipotong seukuran kaki manusia. Karena budaya untuk manusia, bukan manusia untuk budaya.”

Jadi, semua bisa disesuaikan. Kalau begitu, apakah setiap pelanggaran akan dibenarkan? Tentu tidak...

Saya kembali bertanya lagi apakah Kang Sarwadi pernah naik kendaraan di luar atau tidak. “Belum, belum pernah. Ke mana-mana... ke Jakarta, jalan kaki.” jawab Kang Sarwadi sambil tersenyum kecil. Saya menimpali, meyakinkan bahwa bukankah naik mobil di luar Baduy Dalam sama-sama tidak melanggar adat? Sama halnya dengan menggunakan handphone di Baduy Luar.

Lelaki di hadapan saya ini hanya tersipu malu dan mengangguk kecil. Bingung mau menjawab apa. Seperti kancil yang tertangkap basah sedang mencuri mentimun. Seakan-akan baru saja ketahuan pelanggaran apa yang telah diperbuatnya.

Saya pun kembali menikmati perjalanan di Baduy. Memandangi pohon-pohon di kanan-kiri dan menyeberangi jembatan dari desa satu ke desa lain. Memaksa kaki-kaki saya yang mulai tak kuat mendaki bukit, menginjak bebatuan terjal nan licin, sembari menikmati setiap tetes peluh yang mengalir tiada henti di wajah. Mari menyusuri Baduy dengan menaati peraturan, tanpa memusingkan pelanggaran....



Oleh Sintia Astarina - 11140110048
Tugas Mata Kuliah Penulisan Feature