Showing posts with label Feature Peristiwa. Show all posts
Showing posts with label Feature Peristiwa. Show all posts

Wednesday, June 19, 2013

Cerita Dibalik Teriakan Reformasi

Oleh : Joshua Gunadhi

Will they open their eyes
And realize we are one
On and on we stand alone
Until our day has come

-          Open Your Eyes by Alter Bridge

Diatas adalah penggalan lirik lagu dari Band asal Amerika, Alter Bridge yang setiap kali saya mendengarkan lagi itu mengingatkan saya kepada peristiwa masa kecil yang saya alami, meski bukan dalam bentuk secara politik atau aktifis tapi peristiwa yang mengancam keamanan dan dampaknya sangat saya rasakan sampai saat ini.

Teriakan Reformasi ! Reformasi ! tidak lagi terdengar di televisi atau di jalanan seperti 15 tahun lalu. 15 tahun adalah waktu yang cukup lama, cukup lama sehingga bisa membuat orang seakan mudah berkata ‘ah, itu peristiwa dulu, yaudah lupain ajah’. Namun bagi sebagian orang 15 tahun lalu adalah waktu dimana mata kecil seorang anak menatap dan merasakan yang dinamakan rasa tidak tentram dan ketakutan. Dan masa itu akan selalu diingatnya sampai sekarang. Detik ini. Saat ini. Mungkin puluhan ribu anak - anak yang sekarang ada di bangku Universitas merasakan apa yang saya rasakan.

15 Tahun lalu banyak orang hanya mendengar cerita soal apa yang terjadi. Banyak cerita soal pembunuhan Mahasiswa yang sampai sekarang belum ada kejelasan. Banyak cerita soal orang orang yang menjadi biang keladi di belakang kejadian itu yang sekarang mencalonkan diri menjadi pemimpin negara ini. Namun tidak ada yang lebih mudah diingat dan dikenang daripada cerita anak berumur 20 sampai 22 tahun bercerita soal apa yang mereka rasakan saat itu.

Mei 98 itu saya tidak mengerti apa yang terjadi yang saya tau hanya banyak hal seru dan aneh terjadi. Semua orang saling membantu satu sama lain, dalam hal positif ataupun negatif. Sebenarnya peristiwa ini terjadi dikarenakan Asia mengalami krisis finansial dan dipicu oleh tragedi Trisakti di mana empat orang mahasiswa Universitas Trisakti ditembak dan terbunuh dalam demonstrasi 12 Mei 1998 yang dilakukan oknum kepolisian yang ngaku-nya melakukan penembakan peringatan dengan peluru karet, namun di hasil dokumentasi ialah peluru asli dan ditembakan searah horizontal.

Saat itu semua orang sibuk memandangi layar kaca televisi untuk mengikuti perkembangan berita. Jujur saat itu saya belum cukup dewasa untuk mengerti apa yang sedang terjadi, namun ayah saya tetap tidak beranjak dr kursi setiap pulang kantor saat sore hari. Berita setiap hari hampir memutarkan hal - hal yang sama namun tidak menghilangkan niat ayah saya untuk beranjak dr bangku kerajaannya sambil membuka sepatu kerjanya.

Beberapa hari kedepan adalah hari dimana detik detik terakhir saya di jengang kelompok bermain, atau bisa dibilang saya hampir atau sebentar lagi naik ke sekolah dasar di salah satu sekolah di daerah Mangga Besar. Maka rutinitas seperti biasa, seakan lupa dengan kejadian akhir - akhir itu kami sekeluarga siap - siap untuk kesekolah dan bekerja, karena ayah saya memang sangat komitmen dengan pekerjaannya. Ada apapun kalau bisa masuk, dan saya juga mau tidak mau harus rajin ke sekolah dalam keadaan apapun terkecuali sakit.

Seperti biasa, mobil Jeep Feroza Biru dipanasakan, pukul 6.15 kami sudah siap berangkat karena saya masuk pukul 7. Tidak seperti biasanya jalanan terlihat sepi dari PRJ ( Kemayoran , Benyamin Sueb ) sampai Gunung Sahari. Hari itu semakin aneh saat setelah rel kereta di industri itu sangat sepi sampai sampai seingatan saya jalanan kosong melompong, padahal itu biasanya jam jam macet.

Berbelok ke arah Gunung Sahari Raya didepan Hotel Sheraton Media saat itu, jalanan terlihat sangat sepi namun diujung jalan terlihat asap dan kumpulan pelajar berpakaian SMA dan beberapa mahasiswa beralmamater terlihat berombongan.  Ayah tetap tidak berfikir negatif namun sampainya dekat lampu merah menuju Kartini, mobil kami kena jatuhan batu yang berasal dari depan mobil kami, dan ternyata itu berasal dr sekelompok anak muda tadi, dan ayah spontan berteriak dan sampai sekarang saya masih ingat ‘wah gawat ! KERUSUHAN ini’.

Ayah dengan sepat membanting stir mobil dan memacu dengan kecepatan kencang menghindari kerusuhan untuk cepat cepat menuju rumah kami, dr bangku belakang mobil saya bisa lihat bagaimana para anak muda itu membakar beberapa tempat dah menjarahnya, dan sampai sekarang masih ada bekas gedung yang dijarah dan dibakar yang selalu menjadi pemacu ingatan saya soal peristiwa kala itu.

Sepanjang jalan ibu saya tidak berhenti memenjatkan doa. Saya yang saat itu masih mengenakan pakaian Kelompok Bermain hanya bisa diam melihat kepanikan kedua orang tua saya yang memang saat itu ‘Bantai Cina’ menjadi salah satu kata yang sangat mematikan bagi kami yang keturunan Cina atau kita disebut keturunan Tionghoa.

Sesampainya dirumah, tidak lupa kami langsung menyetel televisi untuk memantau perkembangan berita yang saat itu hanya kami bisa dengar dari radio. Ayah dan beberapa tetangga lainnya langsung berjaga - jaga di depan komplek, maklum kami tinggal dikawasan yang mayoritas berpenduduk keturunan Tionghoa. Meskipun memilliki mayoritas penduduk berketurunan Tionghoa ,tidak ada pergesekan antara kaum Tionghoa dan penduduk lokal, justru kami saling membantu satu sama lain untuk melindungi komplek perumahan kami ini.

Betolak jauh dari Jakarta Utara. Kita menuju ke Tangerang.

Temui, Faisal. Anak muda yang saat ini berumur 21 juga mengalami kejadian yang belum dia mengerti saat peristiwa mei 1998 terjadi.

Reformasi Besar besaran adalah kata kata yang muncul dari televisi maupun radio.
'saat itu saya di sekolah, ibu saya menelpon sekolah untuk segera memulangkan saya, jadinya saya pulang dengan becak serta guru saya yang mengantarkan saya, karena memang saat itu kelompok etnis Cina atau keturunan Tinghoa yang menjadi sasaran kekerasan, dan wajah saya memang masih oriental meski saya muslim' ujar Faisal, salah satu mahasiswa yang masa kecilnya diwarnai oleh peristiwa bersejarah itu.

'dirumah saya hanya mendengar soal Reformasi dan kerusuhan yang terjadi di TV dan radio, bahkan kalau diingat bapak bapak kepala keluarga sudah berjaga jaga di depan komplek dengan senjata masing masing untuk menjaga keamanan komplek' lanjut Faisal.

'banyak teriakan soal bantai Cina, bunuh Cina, atau hal hal yang memprovokasi untuk menyingkirkan etnis Cina namun nyatanya hal tersebut tdk terjadi di daerah sekitar saya, malah kami saling menjaga satu sama lain.' kenang Faisal.

Tidak hanya di Jakarta, Kerusuhan juga terjadi di Medan dan Surakarta.

Jujur saat itu saya melihat kepanikan dan rasa ketidaknyaman-an kita sebagai warga negara karena memang ini telah diluar ambang imajinasi saya mengenai kerusuhan karena pertempuran biasanya saya hanya lihat lewat film Power Rangers, dan saya masih saja mengharapkan adanya Pahlawan Kebenaran disaat seperti itu, namun nyatanya orang yang kita anggap sebagai pelindung ternyata biang keladi dari peristiwa ini.

Sepanjang hari kita mendengar sumpah serapah ke 2 Jendral yaitu Wiranto dan Prabowo serta tidak ketinggalan sumpah serapah kepada Soeharto. Reformasi saat itu menyatukan semua lapisan masyarakat untuk satu tujuan namun sayangnya melupakan satu hal yaitu merusak kesatuan bangsa dengan menyerang kaum keturunan Tionghoa.

Apakah Kami Takut ? Pasti.

Saya merupakan keturunan Tionghoa, banyak dari keluarga kami berfikir untuk pergi ke luar negeri, bahkan ada saudara bercerita kalau dia sudah sampai di Bandara namun terpaksa pulang karena Bandara sudah sangat amat penuh dengan manusia yang buru buru ingin meninggalkan Jakarta ke luar negeri. Harga tiket mahal bukan menjadi masalah, mereka rela menukar apapun yang mereka punya untuk bisa keluar dari kehancuran pada masa itu.

Ditelevisi saya bisa melihat banyak toko dan perusahaan dihancurkan oleh massa—terutama milik warga Indonesia keturunan Tionghoa. Kelakuan biadab massa terhadap ratusan wanita keturunan Tionghoa yang diperkosa dan mengalami pelecehan seksual-pun masih membekas diingatan saya karena saya melihat dari tangisan ibu saya setiap melihat berita. Sebagian bahkan diperkosa beramai-ramai secara sadis, kemudian dibunuh. Dampaknya mungkin masih bisa kita rasakan sampai sekarang. Massa membuat para pemilik toko ketakutan dengan menulisi muka toko mereka dengan tulisan "Milik pribumi" atau "Pro-reformasi".

Tanyakan kepada wanita tionghoa setiap kali mereka berjalan di jalanan, pasti ada rasa tidak aman atau bahkan kita keturunan Tiongha pernah mendengar ‘kita tuh Cina, ngak mungkin bisa bersamaan dengan orang non Cina. Dari jaman Soekarno juga udah tau’. Bahkan hal tersebut diperparah dengan tindakan rasis yang beberapa lama lalu dilakukan oleh seorang publik figur yang melakukan rasis di sosial media yang ditunjukan ke wakil gubernur DKI Jakarta. Bahkan saat pemilihan Gubernur dan Wakil Gubernur kita juga bisa merasakan bagaimana sang calon wakil di tekan dr berbagai pihak dengan mengatas namakan etnis dan budaya.

Ketakutan saya saat itu tidak sampai ke masalah perselisihan antar etnis tapi saya hanya takut sesuatu terjadi kepada kedua orang tua saya. Saat itu ayah saya tiba tiba pergi keluar rumah untuk menjemput saudara kami yang tinggal di daerah Pademangan untuk mengamankan mereka. Ayah hanya bisa pulang bercerita betapa ngeri-nya pemandangan yang dia lihat saat menjemput saudara saya.

Toko dijarah, orang dipukuli, teriakan ‘Reformasi’ dimana mana, orang berbuat sesuatu diluar akal sehat. Mereka membakar, memukul dan melakukan kekerasan seakan kehilangan akal sehat. Apalagi di daerah Pademangan yang notaben penduduknya mayoritas keturunan Tionghoa, maka itu menjadi penyebab ketakutan kami. Karena letak Pademangan dengan Sunter hanya memakan waktu 10 menit.

Faisal kembali bercerita soal apa yang dia alami di Tangerang.

Hal serupa dialami saya di Sunter.

'Ibu saya menelfon keluarga kami untuk memastikan keamanan mereka, ada yang kuliah di bandung, di Trisakti dan keluar entah kemana. Kakak saya yang di Trisakti paling di kuatirkan keadaannya karena meski berjilbab wajahnya masih oriental sehingga orang tua sangat kuatir dengan keamanannya. Namun selagi saya nonton TV, ibu berkata kalau salah satu pacar kakaknya muncul di televisi sebagai salah satu aktifis saat itu' kenang Faisal sambil tersenyum.

'Menurut pengakuan kakak saya dibandung juga ada gerakan, anak muda diajak untuk menduduki gedung sate untuk mendukung gerakan Reformasi seperti di Jakarta.’

‘Saya keluar rumah banyak orang terlihat menjarah, namun lucunya ada orang yang saya kenal tidak lain tidak bukan adalah kakak pertama saya yang ikutan menjarah. Dia membawa sekardus isi pilox.' cerita Faisal sambil tertawa.

Pengalaman masa kecil yang tidak bisa dilupakan.

Saya juga masih ingat pengalamaan masa kacil saya yang tidak bisa saya lupakan saat Peristiwa Mei 1998.
Ayah saya menjadi oknum yang merasakan keuntungan penjarahan itu, secara dia berkerja di salah satu perusahaan asuransi.

Waktu itu sebelum terjadi kerusuhan, Rumah kami disantroni maling dan mengambil 2 buah VCD Player dan 1 Televisi. Sontak kami kelimpungan dengan kejadian itu padahal ibu saya sudah ada firasat, namun kami terlambat sepersekian detik karena saat ibu saya sampai dirumah, sang perampok sudah masuk kemobil dan memacu mobilnya kencang dari rumah kami.

Alhasil, kami dipinjami televisi oleh kakak perempuan ibu saya. Kami butuh sekali dengan televisi, karena memang televisi menjadi hiburan pokok saat itu setelah radio, belum ada internet dan lainnya. Kami menerima TV kecil untuk menjadi pelipur lara kami.

Sesaat setelah peristiwa reformasi, ayah saya bertolak ke kantor kemudian dia pulang kerumah dan membawa sebuah televisi 21 inch dengan keadaan kardur rusak dan ada bagian pecah di sepaker TV.
Ibu berkata ‘pap, itu dari mana’.

Dengan enteng ayah saya menjawab.

‘ini dari kantor, biasa orang kaya mengklaim kerusakan kecil, yaudah dilelang sama kantor, lumayan buat gantiin TV hilang.’

Ternyata ada keuntungan untuk beberapa pihak dan saya mengalami, bahkan televisi itu masih ada sampai sekarang.

Saat itu, sepanjang hari kita mendengar sumpah serapah yang di teriakan masyarakat ke 2 Jendral yaitu Wiranto dan Prabowo serta tidak ketinggalan sumpah serapah kepada Soeharto. Reformasi saat itu menyatukan semua lapisan masyarakat untuk satu tujuan.

Saat itu kami kaum keturunan juga melakukan hal sama seperti kaum pribumi lakukan yaitu menuntut reformasi,namun bukan reformasi seperti sekarang. Satu tujuan yang menuju ke arah lebih baik, bukan dari paksaan atau dari keadaan tertekan karena tekanan dari atas bawah kiri kanan. Tapi karena kesadaran memang ingin membuat segala sesuatu menjadi lebih baik.

Hikmah, Indonesia butuh satu moment dimana menyeragamkan satu tujuan. Itu menjadi tolak ukur kekuatan sebuah bangsa. Disini harusnya tujuannya pancasila, namun Pancasila semakin bias, dan Indonesia itu seperti tanpa tujuan. Namun saya dan kita yakin akan ada satu moment dimana Indonesia akan memiliki satu tujuan yang lebih besar dan baik dari Reformasi.

Sayangnya moment Reformasi waktu itu meningalkan bekas yang kurang layak dikenang sampai sekarang, apalagi oleh kaum keturunan.























Joshua Gunadhi
11140110222
Take Home Test UAS Penulisan Feature

Dosen : Bpk Samiaji Bintang.

Tembok Basah dan Berdarah

Feature Peristiwa

Ini bisa dibilang sebuah peristiwa yang sangat mengemparkan di daerah Jakarta Utara. Bisa jadi anda sudah pernah mengetahuinya dengan mambaca surat kabar yang menyajikan berita Kriminal sebagai unggulannya, bisa jadi dari mulut ke mulut atau berita televisi, namun jika anda ingin tau lebih dekat maka saya merupakan orang bisa dibilang cukup tepat untuk menceritakan hal ini, karena tempat tinggal saya hanya selemparan batu dengan tempat kejadian yang sempat menguncang itu, bukan hanya menguncang decak kagum karena seperti di film film luar negeri namun menguncang harga real estate di daerah Jakarta Utara.

Sekitar 14 tahun lalu…..

Lebih tepatnya tanggal berapa saya tidak tau persis karena saya masih berumur 6 tahun dan baru akan memasuki usia sekolah dasar.

Kami sekeliling mendapatkan kabar tidak mengenakan terjadi di perumahan kami yang dikenal damai dan tidak ada keributan, namun seketika itu juga mobil polisi datang, mengecek rumah kami satu persatu macam film NCIS atau CSI yang biasa kita tonton di televisi berlanganan.

Pintu diketok satu persatu apakah ada yang mengenal seorang bapak yang kita sebut saja Anton, karena memang ketika saya tanyakan ke narasumber soal kejadian itu yang tidak lain tidak bukan yang adalah ayah saya, ayah menolak untuk memberitahukan nama orang yang menjadi pokok kejadian masalah itu. Karena ini adalah salah satu kejadian paling menegangkan yang pernah terjadi di Sunter, Jakarta Utara

*********

Posisi tempat yang menjadi pokok permasalahan hari itu sekitar 14 tahun lalu tidak asing bagi saya, bahkan saya masih ingat suasana tempat tersebut karena memang hamper bersebrangan dengan teman kecil saya yang tinggal disana.

Suara pukulan batu, dan suara mesin pengaduk semen menjadi soundtrack disana.
Teriakan mandor menghiasi setiap harinya, dimana dipekerjakan 6 orang pembuat bangunan atau nama sederhana-nya adalah Kuli. Saat itu kira kira saya masih TK dan belum begitu mengerti sedang membuat apa, intinya saya hanya bermain dan lalu lalang disana hampir setiap hari.

Anton, seorang pria muda yang terkenal di komplek perumahan kita itu adalah seorang pengusaha dan mempunyai toko di daerah Glodok dan Asemka. Dia terkenal dengan kesibukannya berjualan karena memang dia mempunyai toko yang sangat laku, setiap hari dia selalu melakukan aktivitasnya, pergi pagi pulang malam, kebetulan dia adalah salah satu tetangga yang paling sulit ditemui sehingga memicu banyak gossip negatif yang tersemat pada dirinya.

Anton memiliki seorang anak dan istri, mereka juga kurang begitu bersosialisasi kepada tetangga sekitar.
Suatu saat, Anton memutuskan untuk memperbaharui rumah yang mereka tinggali, maka disewanya seorang mandor dan 6 orang kuli. Mereka telah menyusun segala keperluan. Istri dan akanya segera dicarikan rumah kost agar pembangunan bisa berjalan dengan baik. Namun, ada hal aneh yang benar benar membuat kami para tetangga heran.

Anton memindahkan 80persen barang barangnya ke rumah kost yang telah ia sewa tidak jauh dari rumah, namun 20persen sisanya Anton tetap meletakannya didalam rumah dan mengumpulkannya dalam 1 ruangan, yaitu kamar depan yang biasa dia tiduri. Dan lebih unik-nya Anton tidak tinggal bersama anak istrinya di Kost-an yang sudah dia sewa melainkan tetap tidur di kamar depan dan sesekali menjenguk keadaan anak istrinya.

Hal tersebut membuat kami tetangga merasa aneh, dimana seluruh bagian rumahnya sudah dalam tahap renovasi namun kenapa kamar depan-nya tidak kunjung dibenahi. Terlihat Anton seperti melindungi sesuatu atau merehasiakan sesuatu.

3bulan pekerjaan rumah itu berlangsung dan estimasi selesai adalah 7 bulan. Namun saat bulan ke3 itu bertepatan dengan bulan Ramadhan, maka para kuli berhak mendapat upah tambahan atau THR yang dia janjikan, namun Ramadhan itu akan berlangsung hari senin, dan hari ini masih hari Jumat. Kebetulan, Mandor sedang tidak ada ditempat karena berhalangan hadir dikarenakan istri sang mandor sakit.

4 pekerja bangunan itu mengetuk pintu kamar Anton, meminta THR yang harusnya diterima hari senin. Anton menolak memberikan karena sesuai perjanjian segala macam pemberian uang harus melalui Mandor, namun tidak hanya menolak, Anton sedikit menambahkan bumbu pedas kepada para pekerja dengan sedikit banyak melampiaskan kemarahan dalam bentuk caci maki.

‘Apa apaan minta THR ? Kerja belum benar mau THR ! pikir pake otak, kalau kerja sudah benar tidak usah minta pasti saya kasih’ kira kira itu kata kata pedas dan makian yang Anton ucapkan kepada para pekerja.

Suasana hari itu terik panas dan dalam keadaan puasa, maka tanpa berfikir dan pertimbangan matang, seorang pekerja melepaskan pukulan mentah ke wajah Anton dan pukulan ke belakang kepala Anton dengan balok yang digengamnya.
Anton pingsan seketika dengan darah bercucuran di lantai yang belum berkeramik.

*********

3 hari tidak ada kabar dari Anton. Keluarga ikutan cemas sehingga menelpon pihak berwajib, hal yang sama dirasakan sang mandor yang binggung kenapa para pekerja tidak meminta THR dan soal keberadaan Anton.
Maka datanglah pihak berwajib sekaligus membawa anjing pelacak untuk melacak keberadaan mereka yang dicari itu. Anjing dilepas di daerah komplek perumahan, namun seekor anjing terus mengendus ke bagian tembok tangga, terus mengendus sehingga menarik perhatian pihak berwajib yang mulai mempertanyakan perilaku tersebut, karena biasanya hal tersebut terjadi ketika anjing itu telah mendapatkan buruan yang dicari atau telah dekat dengan objek yang dicari.

Maka dengan sigap polisi mengambil palu dan memecahkan tembok tersebut, karena kebetulan tembok itu masih dingin yang berarti adalah hasil cor-an baru baru ini. Dikerahkan 3 aparat untuk membongkar tembok itu. Maka tanpa diduga, polisi menemukan Anton seperti patung dan tidak bernyawa serta mengeras akibat cor-an dan luka dikepalanya. Anton ditemukan tewas tidak bernyawa.
4 hari kemudia polisi berhasi menangkap 4 pekerja yang menjadi pelaku pembunuhan sadis Anton di kampung masing masing.

‘Awalnya, Anton belum tewas masih pingsan namun karena kami takut dia sadar dan melaporkan kami ke polisi maka kami langsung menyeret dia ke bawah tangga, dan mengecor-nya hari itu juga’ kata salah satu pelaku ketika diminta keterangan Polisi.

Ketika polisi melakukan pengecekan TKP maka ditemukan balok berdarah, dan ternyata Kamar yang tidak kunjung direnovasi memiliki berangkas sebensar TV 21 inch yang ditanam di bawah meja kerja Anton, ketika ditanya pihak keluarga, ternyata memang dibawah sana dikumpulkannya hasil keuntungan toko yang dia kelola.

Dan menurut bagian forensik, Anton tidak tewas 3 hari lalu namun 2 hari lalu yang berindikasi Anton sempat sadar selama 1 hari didalam tembok yang menunggu waktu untuk mengeras.



Joshua Gunadhi
 (11140110222)
Penulisan Feature
 (Kelas C1)
Bpk. Samiaji Bintang
*joshuagunadhi.wordpress.com*

Membajak Karya Negeri, Mengikis Hati Nurani

Ratusan, bahkan ribuan buku bajakan ada di Pasar Senen. Kios yang sebelah kiri adalah kios buku milik Jimmy.
Seorang Ibu yang tengah bertransaksi
Di Pasar Senen, ada banyak kios buku yang bisa kita temui. Beragam buku pun dapat kita temukan. Mulai dari buku agama, buku perkuliahan, novel, kamus, dan masih banyak lagi.

“Cari buku apa nih? Sini masuk aja dulu.”
Seorang Ibu berkerudung melihat buku-buku yang terpampang rapi di depan kios.
“Mira W. udah punya, Bu?” tanya lelaki bertubuh gemuk yang sebagian bajunya basah karena keringat.
“Enggak.”
“Marga T.?” Lelaki itu menyodorkan dua buku yang sudah agak usang.
“Ini berapaan?” tanya si Ibu.
“Dua puluh lima ribu aja, Bu.”
Si Ibu menggeleng, tampaknya belum puas dengan harga yang diberikan.
“Baru nih, Bu.”
“Nggak kurang nih?” tawarnya lagi.
“Kalau boleh 25, 30 juga nggak apa-apa.”
“Nih dua, 15 ya?”
“Nggak dapat, Bu Haji. Dua puluhan aja, Bu Haji.”
Si Ibu masih belum puas. Dia menggeleng lemah.
“Lima belasan mau nggak, Bu Haji? Lima belasan, satu? Sepuluh ribuan mau nggak, Bu Haji? Dibolehin nih 10 ribu aja,” lelaki itu mulai membanting harga.
“Mau?” si Ibu mencoba memastikan. Dia membolak-balikan kedua buku yang ada di tangannya, sembari mengecek kondisinya.
“Iya, 10-an aja nih, Bu.” Lelaki itu mondar-mandir, pasrah.
Si Ibu pun mengambil satu buku yang ditawarkan.
“Dua-duanya aja ambil, Bu. Barangnya cuma dua soalnya,” tawarnya lagi.
Awalnya enggan, tetapi akhirnya Ibu itu pun membeli dua buku tersebut.

***

Waktu menunjukan pukul 11. Hari semakin siang. Di dalam gedung tua itu, para penjual buku tak lelah menjajakan barang dagangan mereka. Setiap calon pembeli yang melintasi kios mereka, ditawarinya ini-itu. Buku agama, komik, novel remaja, novel roman, kamus, buku kuliah, buku TTS, juga majalah. Kata orang banyak, di sini banyak buku-buku murah. Di Pasar Senen ini, buku-bukunya lumayan komplit.
Pasar Senen yang terletak di Jakarta ini adalah pasar tertua yang dibangun pada 30 Agustus 1735. Tuan tanah sekaligus arsitek bernama Yustinus Vinck membangunnya di atas lahan milik anggota Dewan Hindia bernama Cornelis Chastelein.
Dinamai Pasar Senen karena dulu memang hanya buka pada hari Senin saja. Namun, sejak 1766, pasar yang ramai pengunjung ini dibuka selain hari Senin. Begitu banyak cerita yang menyapa wajah Pasar Senen dan sekitarnya. Sebelum Indonesia merdeka, kawasan ini dijadikan tempat berkumpul pada intelektual muda dan pejuang bawah tanah Stovia. Pemimpin besar seperti Soekarno – Hatta pun kerap kali menggelar pertemuan di daerah ini.
Kini, seiring berjalannya waktu, betapa Pasar Senen telah bermetamorfosa. Ketika saya menjejakkan kaki di atas tanahnya, pemandangan gedung kumuh tak terawatlah yang tertangkap kedua mata. Bukan ulasan wajah sebenarnya yang tercatat dalam sejarah. Kios-kios besar pun telah tergantikan oleh para pedagang kaki lima yang menjajakan dagangan seenaknya.
Ketika memasuki pasar, saya membungkukkan badan sedikit sambil memasang mata lekat-lekat. Memasukki area dalam dan memandangi satu per satu kios di dalam Pasar Senen secara sekilas. Sapaan-sapaan yang lebih terdengar seperti godaan terdengar sana-sini.
“Cari apa, Neng? Mampir aja liat-liat dulu.”
“Enggak, Bang.”
“Cari apa, Neng? Cari Abang juga boleh...”
Saya kembali menebarkan pandangan tanpa berusaha menanggapi hirauan-hirauan angin lalu. Di lantai satu pasar tersebut, hanya ada kios-kios penjual buku. Sempat beberapa menit berkeliling sembari melihat-lihat, seorang laki-laki berkepala botak menawarkan buku-buku yang dijualnya. Saya masuk ke dalam kiosnya, mengambil satu buku di sana, dan mulai bertanya-tanya.
Jimmy Ricardo (25), salah satu penjual buku di Pasar Senen sudah mulai berdagang buku sejak kecil. Sebenarnya, keluarganya merupakan orang lama di Pasar Senen. Sejak 1983, ayah Jimmy sudah menjual buku. Kiosnya terletak di belakang, tak jauh dari kios miliknya. Delapan tahun belakangan ini, lelaki yang hobi bermain motor ini pun mulai fokus dalam berjualan buku.
Buku-buku dagangannya bertumpuk rapi di dalam kios, tingginya bisa mencapai 1,5 meter. Sebagian buku dipajang di kios, sebagian lagi dia taruh di gudang. Untuk buku-buku yang sering dicari pembeli, dia pamerkan paling depan. Hal ini dilakukannya agar calon pembeli dapat dengan mudah menemukan buku yang laris di pasaran sehingga mau langsung dibeli.
Jimmy pun mengaku, buku-buku yang dijualnya sebagian original, sebagian lagi tidak. Namun, lebih banyak original, sambungnya.
“Cara ngebedainnya, dari kertasnya aja. Yang nggak ori sebenarnya sama kayak KW satu, KW super, KW biasa. Dari cover nggak ada beda, malah lebih rapi yang KW,” ujarnya ketika ditanya bagaimana cara membedakan buku yang original dan yang tidak.
Ternyata, tidak sedikit orang yang mencari buku-buku murah dengan kualitas bagus. Pelajar, mahasiswa, bahkan seringkali ada dosen yang mencari buku-buku kuliah. Tak peduli apakah buku itu asli atau bajakan, yang penting harga sesuai dengan kantung dan isinya pun sama seperti aslinya.
Siapa sangka, dari bisnis yang dijalaninya ini, Jimmy pun sudah memiliki beberapa pelanggan tetap. Kebanyakan dari mereka adalah para pedagang buku yang menjual kembali buku-buku yang dibelinya via online.
“Yang asli kebanyakan. Sebenarnya Abang bilang, mau yang ori apa yang buku biasa, yang cetak ulang? Kebanyakan orang sih maunya yang murah, ya abang kasih yang cetak ulang. Perbedaannya di mana Bang? Perbedaannya cuma di kertas, tapi dalamnya bisa kebacalah,” tutur anak kedua dari empat bersaudara ini.
Bisnis yang dilakukannya ini membawa keuntungan tersendiri. Dalam sehari, Jimmy bisa mendapatkan Rp3-5 juta. Bahkan, dia pun pernah mendapatkan puluhan juta dalam sehari.
Jimmy biasa membeli buku-buku dagangannya dari orang lain. Buku-buku ini didapatkannya dari kawasan Senen dan Jakarta Selatan.
“Kalo ori, ya ada aja orang yang jual. Kadang obral-obralan. Ya, ada ajalah tangan-tangan jahil. biasanya dari penerbit juga ada. Biasanya ada yang nganter, kadang tiap hari, kadang seminggu sekali. Satu judul bisa 100, 1000, 5000 pernah,” ujarnya sambil menyusun buku-buku dagangannya di tempatnya.
Bukan satu-dua orang saja yang datang ke Pasar Senen untuk memburu buku-buku yang diinginkan, melainkan bisa mencapai ribuan. Terlebih ketika musim ajaran tiba. Dengan kualitas buku yang tidak kalah dengan aslinya, calon pembeli pun bisa mendapatkan harga yang jauh lebih murah.
“Kalau tahun ajaran baru itu, ribuan orang yang datang. Bukan satu sampai dua orang. Ya ampun, udah kayak ngantre daging korban,” ujarnya sambil disambut tawa hangat.
Tak hanya buku-buku terbitan Indonesia, Jimmy pun juga menjual buku-buku impor. Kalau yang baru, biasanya dia membeli bekas tukar tambah di pasar loak. Buku yang paling mahal dijualnya adalah buku-buku kedokteran yang harganya bisa mencapai jutaan. Namun, Jimmy berani menjualnya seharga Rp700.000,00-an.
Siapa sangka, lelaki yang tinggal di Kemayoran ini juga hobi membaca buku, terutama buku sejarah. Yang menjadi bacaan favoritnya adalah buku sejarah berjudul Di Bawah Bendera Revolusi karangan Bung Karno.
Dari ribuan buku yang dijajakannya di kios berukuran 2x2 meter itu, Jimmy melihat referensi buku yang bagus berdasarkan banyaknya peminat yang membeli, serta gaya bahasa yang bagus. Menurutnya, cover bagus jarang menjadi jaminan buku itu laris.

Pro dan Kontra Pembajakan Buku
Salah satu pelanggan Jimmy adalah Desy Hartini. Dia pernah membeli beberapa buku yang dijual lelaki bertubuh gempal itu.
“Gue beli buku-buku itu karena awalnya gue kira itu sama dengan aslinya, terus kan memang sedikit lebih murah. Eh, ternyata memang beda kan tuh. Tergiur juga buat membelinya, tapi akhirnya nyesel!” tukasnya. “Kasihan aja sama penulisnya, sudah capek-capek bikin dan nerbitin buku, tapi gue malah beli yang palsunya, kan kasihan. Terus, lebih enak yang asli jugalah, cover-nya juga lebih bagus. Sampai sekarang aja (bukunya) belum disentuh sama sekali, sampai dipisahin gitu karena palsu,” lanjut mahasiswi Jurnaslitik Universitas Multimedia Nusantara ini panjang lebar.
Ya, siapapun pasti tahu, pembajakan buku tentu sangat merugikan. Setidaknya ada tiga pihak yang dirugikan dalam kasus ini, yakni penulis, penerbit, dan negara. Penulis dirugikan karena sudah pasti royaltinya berkurang, penerbit kehilangan pembeli mereka, dan pendapatan negara atas pajak juga berkurang. Sayangnya, sampai saat ini, pihak-pihak yang harusnya bisa bekerja sama untuk mengurangi masalah ini justru terkesan santai dan menganggap pembajakan sebagai hal yang lumrah.
Menurut Dyan Nuranindya, penulis novel best-seller, sebagian besar taraf hidup masyarakat Indonesia saat ini memang masih rendah. Jadi, wajar kalau pola pikir masyarakat Indonesia cenderung mementingkan kuantitas suatu produk dibandingkan kualitas. Mereka akan memilih produk-produk yang memiliki harga lebih murah asal dapat memenuhi keinginan mereka. Kesadaran akan pentingnya produk asli masih minim.
Perempuan kelahiran Jakarta, 14 Desember 1985 ini pun mengaku pernah melihat novel miliknya dibajak dan dijual orang lain dengan harga yang relatif murah.
“Awalnya sih kaget dan sedih, tapi habis itu saya tertawa sendiri. Itu tandanya novel saya dikenal orang sampai ke kelas ekonomi tertentu karena buktinya ada orang yang rela susah-susah membuat bajakannya. Hehehe...,” ceritanya.
Ya, tidak jauh berbeda dengan Dyan Nuranindya, Donny Dhirgantoro, penulis novel National Best Seller, 5 cm dan 2 ini mengaku bukunya juga banyak dibajak orang tak bertanggung jawab.
“Waktu itu sih pernah minta tolong polisi dari Gramedianya, tapi dia ada lagi, ada lagi,” kenang Donny. Tidak hanya di kawasan Pasar Senen saja, dia juga pernah melihat bukunya dijual di Blok M Square, stasiun kereta, jembatan, dan Kwitang. Dari harga aslinya yang mencapai Rp60.000,00, para pambeli buku bajakan bisa mendapatkannya dengan harga relatif murah, yakni Rp20.000,00. Di Pasar Senen sendiri, buku Donny yang berjudul 2 dijual seharga Rp30.000,00.
Kerugian serupa juga dirasakan oleh penulis novel kontroversial, Membongkar Gurita Cikeas di Balik Kasus Bank Century, George Junus Aditjondro. Dia mendapatkan kerugian sebesar Rp18 miliar akibat pembajakan tersebut. Bahkan, pengarang buku tetralogi Laskar Pelangi, Andrea Hirata, pernah ditawari buku karangannya sendiri yang versi bajakan. Dia pun hanya bisa tersenyum sambil lalu. Kecewa akibat pembajakan yang terjadi di Indonesia ini, Andrea Hirata lebih memilih untuk menerbitkan karyanya di luar negeri.
Lalu, pantaskah kita hanya mengelus dada dan membiarkan buku-buku bajakan ini semakin merajalela? Pembajakan buku di Indonesia ini adalah kasus yang lumayan pelik karena berhubungan dengan banyak pihak. Namun, yang paling terlihat dari kasus ini adalah ketidaktegasan pemerintah dalam menerapkan hukum di Indonesia. Terlalu lama dibiarkan akan membangun sikap kebiasaan yang mengakar.
Pada November 2009 lalu, kios-kios buku di Pasar Senen ini pernah dirazia oleh tim gabungan dari Polsektro Senen dan Ikatan Penerbit Indonesia (IKAPI). Polisi berhasil menyita sekitar 1000 buku bajakan. Sayang, ketika “terapi kejut” bagi para pedagang buku-buku bajakan di Pasar Senen ini berlangsung, sejumlah kios langsung tutup sehingga razia dadakan ini tidak bisa dilakukan menyeluruh. Alhasil, penggrebekan ini pun tak berbuntut pada penggusuran. Tak heran, hal ini tidak menciutkan hati para penjual untuk tetap menjual buku-buku dagangannya di Pasar Senen.
Jimmy sendiri mengaku, Ikatan Penerbit Indonesia (IKAPI) sering datang ke Pasar Senen untuk melakukan razia secara dadakan.
“Ya, pintar-pintarnya kita aja. Buku-buku yang bajakan kita amanin. Yang di-display yang asli,” akunya.
Bahkan, Jimmy sendiri mengaku, banyak polisi yang membeli buku-buku yang dijualnya.
“Sering. Kadang dia beli buku untuk anaknya atau buat keluarganya, kadang buat dia pribadi juga dia beli,” ungkapnya.
Hmm... di balik semua itu, ternyata kasus ini seakan ter-cover oleh pihak keamanan Pasar Senen itu sendiri. Bukan tidak mungkin apabila kasus pembajakan buku ini kian berlarut-larut lamanya tanpa penyelesaian pasti.
Lalu, apakah kejadian serupa akan kembali terjadi?
“Ada rencana digusur sih enggak, tapi adanya pemindahan dari Pasar Senen Jaya ini. Yang paling ditakutin dibakar doang. Takut itu! Ibarat kata kalau dibakar – amit-amit sih jangan ya- dari penggusuran katanya gedung ini nggak layak pakai. Tapi, ada mahasiswa dari mana gitu, katanya gedung ini masih layak dipakai untuk lima tahun ke depan,” cerita Jimmy sambil mengembuskan asap rokok dari dalam mulutnya. Sesekali dia menawarkan dagangannya kepada calon pembeli yang melintasi kiosnya.
Namun, lagi-lagi Undang-undang di Indonesia belumlah tegas. Bisa kita lihat perbandingannya di negara-negara lain, Amerika misalnya. Penulis masih bisa berlindung di balik Undang-undang Hak Cipta.
Tunggu dulu. Siapa bilang Indonesia tidak memiliki Undang Hak Cipta? Punya. Ada UU Republik Indonesia Nomor 19 tahun 2002 tentang Hak Cipta. Hak ini diperuntukkan bagi pencipta atau penerima hak untuk memberi izin dalam penggandaan karya miliknya. Hal ini tidak akan membatasi peraturan yang berlaku sehingga hak cipta ini tentu saja sangat menguntungkan para penulis. Bagi siapapun yang melanggar hak eksklusif ini, akan dikenakan hukuman penjara dan denda milyaran rupiah.
Penulis hanya tinggal mendaftarkan Hak Cipta atas karyanya ke Direktorat Jenderal Hak Kekayaan Intelektual, Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia RI. Meski membutuhkan waktu dan biaya yang tidak sedikit, setidaknya para penulis memiliki hak paten atas karyanya.

E-Book, Solusi Pembajakan Buku?
Melihat makin maraknya kasus pembajakan buku yang ada di Pasar Senen, tentu bukan pihak berwenang saja yang harus memutar otak dan memikirkan solusi terbaik untuk memberantas pembajakan buku ini. Namun, masyarakat Indonesia pun juga harus turut berpartisipasi. Pertanyaan yang selalu berdengung di telinga, apa solusi yang tepat atas pembajakan buku ini?
An Kaliman, pendiri sekaligus pemilik Papataka.com, situs e-book store pertama di Indonesia melihat adanya peluang dari buku elektronik. Papataka.com meggunakan Digital Rights Management dalam setiap e-book yang dijual sehingga hanya pembeli yang telah terkoneksi dan terdaftar dengan ID yang bisa membaca buku. E-book legal seperti ini dianggap dapat mengurangi pembajakan buku di Indonesia.
“Para penerbit sesungguhnya tidak perlu terlalu khawatir pada masalah pembajakan buku karena buku cetak sebenarnya lebih gampang dibajak daripada e-book. Untuk membajak buku cetak kita tinggal fotokopi saja, tapi untuk membajak e-book diperlukan seorang programmer atau hacker,” uangkapnya, seperti yang dikutip dari Majalah Insight, edisi April 2012.
Namun, lagi-lagi sangat disayangkan. Masyarakat seakan menutup mata, telinga, dan hati nurani. Mereka lebih “cerdas” dibanding kelihatannya. E-book ilegal kini sudah bertebaran di mana-mana. Masyarakat dapat mengunduhnya secara gratis di berbagai situs penyedia jasa buku elektronik. Kini, kerugian pun semakin berlipat ganda. Tak terbayang bagaimana pihak-pihak berwenang seharusnya bertindak.
Semacam guilty pleasure. Sudah tahu pembajakan buku itu salah dan merugikan banyak pihak, tetapi masih saja dilakukan. Apakah tidak takut dipenjara? Ya, takut. Semua orang pasti takut. Apa tidak taku merugikan penulis? Entahlah, mereka hanya pedagang yang hanya menjual saja. Bersedia dapat sanksi? Kali ini Jimmy mengelak.
“Ya, sekarang kalau kita nggak jual, orang-orang itu carinya yang murah. Bajakan nggak apa-apa. Semua tergantung pembeli. Kalau pembeli maunya yang ori ya ori kita kasih, tapi kalau harganya masuk ya kita kasih. Kalau harganya nggak masuk? Misal, modal buku mahasiswa 80 ribu, dia nawar 60 ribu. Kita kasih yang KW, tapi KW-nya bagus. Nih... ada KW bagus, KW super, KW satu, ya kita kasih.”
Lucya Andam Dewi, Ketua IKAPI turut menanggapi persoalan ini. Dia mengatakan, perlu adanya support dari masyarakat guna memberantas pembajakan buku ini. Sebab, masyarakat banyak yang tidak menyadari kalau membeli buku-buku bajakan sama saja dengan mengurangi hak penulis dan penerbit.
“Karena buku bajakan, penulis jadi malas mengeluarkan karya-karyanya yang lain karena pendapatan royalti mereka berkurang. Penerbit akan bangkrut secara perlahan-lahan dan akhirnya gulung tikar,” tutur Lucya, seperti yang dilansir dari http://senjadibandara.wordpress.com. Dia pun menambahkan, “Pemerintah harus bisa lebih aktif menggairahkan industri buku dalam upaya menciptakan harga buku murah serta berkualitas. Bagaimana bisa kita menerbitkan buku murah dan berkualitas kalau tidak ada dukungan dari pemerintah untuk segala hal.”
Selama kesadaran masyarakat akan pentingnya membeli barang asli belum juga terlaksana dengan baik, maka kasus pembajakan ini tidak akan pernah selesai. Namun, hal ini pun masih bisa diminimalisasi dengan memberikan edukasi dan sosialisasi tentang keuntungan membeli barang non-bajakan bagi banyak pihak dalam skala luas.
Pertanyaannya, mau sampai kapan pembajakan buku ini terus dibiarkan?
“Oooo... sampai ada pengganti pekerjaan yang lebih baik dan pastinya yang penghasilannya lebih besar. Jujur, Abang sudah jenuh saat ini. Lagian, sekarang ini lagi sepi banget,” kata Jimmy santai.
Jimmy pun kembali duduk di depan kios kecilnya dan menelan beberapa teguk air dari botol air berukuran 1500 ml. Sambil sesekali menyapa kerabatnya yang juga sesama penjual buku bajakan, dia memerhatikan orang-orang yang lalu lalang di depan kiosnya. Tak dipedulikannya suasana panas dan pengap Pasar Senen yang membuat peluh membanjiri tubuhnya, dia tetap menawari buku-buku yang dijualnya kepada para calon pembeli.
“Cari buku apa, Neng? Sini, masuk aja dulu....”




Oleh Sintia Astarina - 11140110048
Tugas Mata Kuliah Penulisan Feature

Selamat Sampai Seberang

Seorang penyebrang jalan yang hampir tertabrak sepeda motor akibat tidak menggunakan Jembatan Penyebrangan Orang yang sudah tersedia di Jalan Raya Gading Serpong.

Salah satu penyebrang jalan yang tidak menggunaan fasilitas jembatan penyebrangan orang dengan baik

38... 37... 36... 35... 34... 23... 22... 21.... Lampu hijau menyala.

Digendongnya tas punggung warna hitam di bagian depan. Seragam karyawan pun masih lekat dikenakannya. Memasang badan di tepi jalan layaknya waktu tengah memburu. Dipasangnya mata tajam-tajam. Memerhatikan setiap laju kendaraan yang hendak melintas.

20... 19... 18... 17... 16... 15... 14.... Lampu hijau masih menyala.

Dengan sigap orang itu berlari tanpa lihat kanan-kiri. Menerobos lalu lintas menuju seberang jalan. Sedikit berlari kecil tanpa hati-hati. Deru mesin motor dan mobil mengirinya menuju seberang jalan.

Tiiiinnnnn!!! Tiiiinnnnn!!!

Ketika sadar laju kendaraan yang kian ramai dan cepat, tanpa sadar orang itu berhenti berlari. Motor hijau berplat nomor B 3980 NFO hampir saja menabraknya!

Tiiiinnnnn!!! Tiiiinnnnn!!!

Orang itu pun kembali berlari, melewati jalanan besar hingga ke seberang. Tak dihiraukannya muka-muka pengemudi yang ingin membunyikan klakson untuknya keras-keras.

***

Di kejauhan, beberapa polisi terlihat sibuk mengatur padatnya lalu lintas. Jalan Raya Serpong yang terkenal dengan kemacetannya pada jam-jam pulang kerja, membuat para polantas harus bekerja dengan ekstra. Tak hanya mengatur kendaraan-kendaraan yang lalu lalang saja. Namun, juga pejalan kaki yang hendak menyebrang.

“Saya tidak suka dengan orang yang menyebrang sembarangan, apalagi sudah ada fasilitas JPO, Jembatan Penyebrangan Orang. Kalau ada fasilitasnya, ya pakai. Makanya, kita himbau masyarakat agar melalui JPO tersebut,” ujar Brigadir Kepala Polisi Rahmatullah dari Polres Tangerang.

Dalam Undang-undang Republik Indonesia Nomor 22 tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan, terdapat dua pasal yang memuat hal dan kewajiban bagi para pejalan kaki.  Pasal 132 ayat 1 menyebutkan, “Pejalan kaki wajib menggunakan bagian jalan yang diperuntukkan bagi pejalan kaki atau jalan yang paling tepi atau menyeberang di tempat yang telah ditentukan”.

Meski ada hukum tertulis, toh masih saja banyak orang yang tak menghiraukannya.

“Kesal sih lihat orang nyebrang sembarangan, apalagi kalau jalannya pelan, bahkan harus rem mendadak. Tapi, kalau ada orang mau nyebrang, tentu aja gue kasih jalan karena gue juga suka nyebrang sembarangan. Hehehe...,” ujar Jordan Vincent, salah satu pengguna kendaraan bermotor.

Ya... gambaran orang yang menyebrang sembarangan tampaknya bukan hal yang biasa lagi. Kini, pemandangan serupa kerap kita temui di mana-mana. Bukankah sudah ada fasilitas jembatan penyebrangan yang siap digunakan? Bukankah juga ada zebra cross yang siap menjadi rambu-rambu? Lantas, mengapa masih banyak orang yang menyebrang sembarangan?"

“Saya lebih suka menyebrang langsung karena lebih cepat. Lagipula, jembatan penyebrangan masih jarang sekarang. Makan waktu kalau harus ke jembatan penyebrangan dulu,” tambahnya.

Sebagai pengguna jalan, tentu keselamatan adalah hal yang harus diprioritaskan. Pemerintah Kota Tangerang telah membuat sebuah fasilitas umum untuk masyarakat pakai, yakni jembatan penyebrangan itu sendiri. Bukan semata-mata hanya untuk melengkapi fasilitas saja, tetapi jembatan ini tentu memiliki banyak manfaat.

“Yang pertama safety. Lebih aman karena kita sudah berada di jalur yang tepat. Kalau misalnya kita tidak bisa menyeberang, gimana kita bisa memberi contoh ke orang lain untuk menyebrang di sana? Selama ini kita mengeluh, duhh... kenapa macetlah... segala macamlah... itu salah satu sebabnya orang yang menyeberang tidak pada tempatnya,” tutur David Mario Hutabarat, salah satu pejalan kaki.

Baginya, masyarakat belum punya cukup pengetahuan mengenai peraturan yang berlaku. Karena selama ini, mereka hanya mengetahui, tetapi tidak menerapkannya dalam kehidupan  nyata. Sebagai pengguna jalan yang bijak, haruslah saling mengerti kalau kita wajib menyeberang di tempat yang sudah disediakan.


Selain alasan keamanan, jembatan penyeberangan orang ini juga berfungsi untuk mengurangi kemacetan lalu lintas sehingga arusnya pun tidak terlalu terhambat. Di sisi lain, jembatan ini berfungsi untuk mengurangi kecelakaan lalu lintas. Namun sayangnya, kini fasilitas penyebrangan banyak dialihfungsikan menjadi lahan mata pencaharian.

Di sudut tangga, seorang wanita tua berkerdung cokelat tengah duduk manis. Menanti para pejalan kaki yang lewat, sambil sesekali memerhatikan angka-angka penunjuk waktu pada lampu lalu lintas. Menanti wadah uang receh di hadapannya untuk diisi penuh noleh pejalan kaki yang lalu lalang. Di sisi lain, seorang pria tua berkeriput menyodorkan gelas kecil miliknya ke depan. Berharap ada pejalan kaki yang lewat dan memberikan seperak dua perak untuknya.

Beruntung, fasilitas jembatan penyebrangan ini memang seadanya. Tidak seperti di kota Jakarta yang cenderung lebih panjang dan lebar. Bahkan, bukan hanya pengemis dan gelandangan saja yang dapat kita lihat. Di atas jembatan, bisa kita temui penjual masker, screen guard... casing handphone... power bank... stiker... aksesoris... buku... komik... novel... sandal crocs....

“Sebenarnya itu mengganggu pejalan kaki, karena space untuk berjalan semakin sempit. Cuma, hal itu membawa keuntungan. Pemda perlu mengkaji ulang mengenai solusinya. Pelebaran jalankah? Atau bikin underground seperti Singapur,” kata David lagi.

Minimnya jumlah dan fasilitas yang memadai terkait jembatan penyebrangan di Tangerang ini menjadi salah satu titik yang harus dibenahi oleh Pemda. Bukan dari sekadar fungsi, melainkan struktur, fondasi jembatan, serta kenyamanan dan keamanan dalam menyeberang.

Jumlah JPO di Tangerang memang sangat kurang. Perlu dibangun banyak jembatan di tempat-tempat umum, seperti mall, tempat perbelanjaan, sekolah, dan rumah sakit. Apabila membutuhkan waktu yang tidak sedikit, setidaknya ada zebra cross.

Kendati demikian, jumlah jembatan penyebrangan yang sedikit ataupun banyak berlum tentu dapat digunakan maksimal. Mengapa? Memang, para pejalan kaki harus diprioritaskan. Akan tetapi, apabila masyarakat sendiri belum paham akan keselamatan dirinya, bagaimana mereka memiliki mindset untuk menjaga kelancaran dan keselamatan lalu lintas bersama? Tampaknya, sosialisasi untuk menyebrang di JPO haruslah masuk daftar tugas tambahan. Hukum yang berlaku tentang pengguna jalan harus lebih diperketat.


“Saya sering negur orang secara langsung. Intinya demi keselamatan penyebrang itu. Makanya, kita tidak pernah bosan-bosannya untuk menghimbau agar masyarakat sesuai dengan aturan yang ada,” tukas Brigadir Kepala Polisi Rahmatullah yang sudah bekerja sebagai polantas selama 14 tahun. “Demi keselamatan ibu, bapak, adik-adik, ini sudah ada JPO, sudah ada fasilitasnya.”

Mengapa harus rela melihat ke kiri dan kanan, merasa was-was dan melangkahkan kaki terburu-buru, sembari memberi tangan untuk memberhentikan mobil?

Tiiiinnnnn!!! Tiiiinnnnn!!!

Bukankah lebih aman menaiki beberapa anak tangga, berjalan lurus tanpa memerhatikan laju kendaraan untuk diterobos, lalu menuruni beberapa anak tangga lagi?

Hhhhh... Hhhhh.... Hhhhh....

Meski lelah, kenapa tidak... asalkan selamat sampai seberang?




Oleh Sintia Astarina - 11140110048

Tugas Mata Kuliah Penulisan Feature