Showing posts with label Zephaniah Joshua Gunadhi 11140110222. Show all posts
Showing posts with label Zephaniah Joshua Gunadhi 11140110222. Show all posts

Wednesday, June 19, 2013

Cerita Dibalik Teriakan Reformasi

Oleh : Joshua Gunadhi

Will they open their eyes
And realize we are one
On and on we stand alone
Until our day has come

-          Open Your Eyes by Alter Bridge

Diatas adalah penggalan lirik lagu dari Band asal Amerika, Alter Bridge yang setiap kali saya mendengarkan lagi itu mengingatkan saya kepada peristiwa masa kecil yang saya alami, meski bukan dalam bentuk secara politik atau aktifis tapi peristiwa yang mengancam keamanan dan dampaknya sangat saya rasakan sampai saat ini.

Teriakan Reformasi ! Reformasi ! tidak lagi terdengar di televisi atau di jalanan seperti 15 tahun lalu. 15 tahun adalah waktu yang cukup lama, cukup lama sehingga bisa membuat orang seakan mudah berkata ‘ah, itu peristiwa dulu, yaudah lupain ajah’. Namun bagi sebagian orang 15 tahun lalu adalah waktu dimana mata kecil seorang anak menatap dan merasakan yang dinamakan rasa tidak tentram dan ketakutan. Dan masa itu akan selalu diingatnya sampai sekarang. Detik ini. Saat ini. Mungkin puluhan ribu anak - anak yang sekarang ada di bangku Universitas merasakan apa yang saya rasakan.

15 Tahun lalu banyak orang hanya mendengar cerita soal apa yang terjadi. Banyak cerita soal pembunuhan Mahasiswa yang sampai sekarang belum ada kejelasan. Banyak cerita soal orang orang yang menjadi biang keladi di belakang kejadian itu yang sekarang mencalonkan diri menjadi pemimpin negara ini. Namun tidak ada yang lebih mudah diingat dan dikenang daripada cerita anak berumur 20 sampai 22 tahun bercerita soal apa yang mereka rasakan saat itu.

Mei 98 itu saya tidak mengerti apa yang terjadi yang saya tau hanya banyak hal seru dan aneh terjadi. Semua orang saling membantu satu sama lain, dalam hal positif ataupun negatif. Sebenarnya peristiwa ini terjadi dikarenakan Asia mengalami krisis finansial dan dipicu oleh tragedi Trisakti di mana empat orang mahasiswa Universitas Trisakti ditembak dan terbunuh dalam demonstrasi 12 Mei 1998 yang dilakukan oknum kepolisian yang ngaku-nya melakukan penembakan peringatan dengan peluru karet, namun di hasil dokumentasi ialah peluru asli dan ditembakan searah horizontal.

Saat itu semua orang sibuk memandangi layar kaca televisi untuk mengikuti perkembangan berita. Jujur saat itu saya belum cukup dewasa untuk mengerti apa yang sedang terjadi, namun ayah saya tetap tidak beranjak dr kursi setiap pulang kantor saat sore hari. Berita setiap hari hampir memutarkan hal - hal yang sama namun tidak menghilangkan niat ayah saya untuk beranjak dr bangku kerajaannya sambil membuka sepatu kerjanya.

Beberapa hari kedepan adalah hari dimana detik detik terakhir saya di jengang kelompok bermain, atau bisa dibilang saya hampir atau sebentar lagi naik ke sekolah dasar di salah satu sekolah di daerah Mangga Besar. Maka rutinitas seperti biasa, seakan lupa dengan kejadian akhir - akhir itu kami sekeluarga siap - siap untuk kesekolah dan bekerja, karena ayah saya memang sangat komitmen dengan pekerjaannya. Ada apapun kalau bisa masuk, dan saya juga mau tidak mau harus rajin ke sekolah dalam keadaan apapun terkecuali sakit.

Seperti biasa, mobil Jeep Feroza Biru dipanasakan, pukul 6.15 kami sudah siap berangkat karena saya masuk pukul 7. Tidak seperti biasanya jalanan terlihat sepi dari PRJ ( Kemayoran , Benyamin Sueb ) sampai Gunung Sahari. Hari itu semakin aneh saat setelah rel kereta di industri itu sangat sepi sampai sampai seingatan saya jalanan kosong melompong, padahal itu biasanya jam jam macet.

Berbelok ke arah Gunung Sahari Raya didepan Hotel Sheraton Media saat itu, jalanan terlihat sangat sepi namun diujung jalan terlihat asap dan kumpulan pelajar berpakaian SMA dan beberapa mahasiswa beralmamater terlihat berombongan.  Ayah tetap tidak berfikir negatif namun sampainya dekat lampu merah menuju Kartini, mobil kami kena jatuhan batu yang berasal dari depan mobil kami, dan ternyata itu berasal dr sekelompok anak muda tadi, dan ayah spontan berteriak dan sampai sekarang saya masih ingat ‘wah gawat ! KERUSUHAN ini’.

Ayah dengan sepat membanting stir mobil dan memacu dengan kecepatan kencang menghindari kerusuhan untuk cepat cepat menuju rumah kami, dr bangku belakang mobil saya bisa lihat bagaimana para anak muda itu membakar beberapa tempat dah menjarahnya, dan sampai sekarang masih ada bekas gedung yang dijarah dan dibakar yang selalu menjadi pemacu ingatan saya soal peristiwa kala itu.

Sepanjang jalan ibu saya tidak berhenti memenjatkan doa. Saya yang saat itu masih mengenakan pakaian Kelompok Bermain hanya bisa diam melihat kepanikan kedua orang tua saya yang memang saat itu ‘Bantai Cina’ menjadi salah satu kata yang sangat mematikan bagi kami yang keturunan Cina atau kita disebut keturunan Tionghoa.

Sesampainya dirumah, tidak lupa kami langsung menyetel televisi untuk memantau perkembangan berita yang saat itu hanya kami bisa dengar dari radio. Ayah dan beberapa tetangga lainnya langsung berjaga - jaga di depan komplek, maklum kami tinggal dikawasan yang mayoritas berpenduduk keturunan Tionghoa. Meskipun memilliki mayoritas penduduk berketurunan Tionghoa ,tidak ada pergesekan antara kaum Tionghoa dan penduduk lokal, justru kami saling membantu satu sama lain untuk melindungi komplek perumahan kami ini.

Betolak jauh dari Jakarta Utara. Kita menuju ke Tangerang.

Temui, Faisal. Anak muda yang saat ini berumur 21 juga mengalami kejadian yang belum dia mengerti saat peristiwa mei 1998 terjadi.

Reformasi Besar besaran adalah kata kata yang muncul dari televisi maupun radio.
'saat itu saya di sekolah, ibu saya menelpon sekolah untuk segera memulangkan saya, jadinya saya pulang dengan becak serta guru saya yang mengantarkan saya, karena memang saat itu kelompok etnis Cina atau keturunan Tinghoa yang menjadi sasaran kekerasan, dan wajah saya memang masih oriental meski saya muslim' ujar Faisal, salah satu mahasiswa yang masa kecilnya diwarnai oleh peristiwa bersejarah itu.

'dirumah saya hanya mendengar soal Reformasi dan kerusuhan yang terjadi di TV dan radio, bahkan kalau diingat bapak bapak kepala keluarga sudah berjaga jaga di depan komplek dengan senjata masing masing untuk menjaga keamanan komplek' lanjut Faisal.

'banyak teriakan soal bantai Cina, bunuh Cina, atau hal hal yang memprovokasi untuk menyingkirkan etnis Cina namun nyatanya hal tersebut tdk terjadi di daerah sekitar saya, malah kami saling menjaga satu sama lain.' kenang Faisal.

Tidak hanya di Jakarta, Kerusuhan juga terjadi di Medan dan Surakarta.

Jujur saat itu saya melihat kepanikan dan rasa ketidaknyaman-an kita sebagai warga negara karena memang ini telah diluar ambang imajinasi saya mengenai kerusuhan karena pertempuran biasanya saya hanya lihat lewat film Power Rangers, dan saya masih saja mengharapkan adanya Pahlawan Kebenaran disaat seperti itu, namun nyatanya orang yang kita anggap sebagai pelindung ternyata biang keladi dari peristiwa ini.

Sepanjang hari kita mendengar sumpah serapah ke 2 Jendral yaitu Wiranto dan Prabowo serta tidak ketinggalan sumpah serapah kepada Soeharto. Reformasi saat itu menyatukan semua lapisan masyarakat untuk satu tujuan namun sayangnya melupakan satu hal yaitu merusak kesatuan bangsa dengan menyerang kaum keturunan Tionghoa.

Apakah Kami Takut ? Pasti.

Saya merupakan keturunan Tionghoa, banyak dari keluarga kami berfikir untuk pergi ke luar negeri, bahkan ada saudara bercerita kalau dia sudah sampai di Bandara namun terpaksa pulang karena Bandara sudah sangat amat penuh dengan manusia yang buru buru ingin meninggalkan Jakarta ke luar negeri. Harga tiket mahal bukan menjadi masalah, mereka rela menukar apapun yang mereka punya untuk bisa keluar dari kehancuran pada masa itu.

Ditelevisi saya bisa melihat banyak toko dan perusahaan dihancurkan oleh massa—terutama milik warga Indonesia keturunan Tionghoa. Kelakuan biadab massa terhadap ratusan wanita keturunan Tionghoa yang diperkosa dan mengalami pelecehan seksual-pun masih membekas diingatan saya karena saya melihat dari tangisan ibu saya setiap melihat berita. Sebagian bahkan diperkosa beramai-ramai secara sadis, kemudian dibunuh. Dampaknya mungkin masih bisa kita rasakan sampai sekarang. Massa membuat para pemilik toko ketakutan dengan menulisi muka toko mereka dengan tulisan "Milik pribumi" atau "Pro-reformasi".

Tanyakan kepada wanita tionghoa setiap kali mereka berjalan di jalanan, pasti ada rasa tidak aman atau bahkan kita keturunan Tiongha pernah mendengar ‘kita tuh Cina, ngak mungkin bisa bersamaan dengan orang non Cina. Dari jaman Soekarno juga udah tau’. Bahkan hal tersebut diperparah dengan tindakan rasis yang beberapa lama lalu dilakukan oleh seorang publik figur yang melakukan rasis di sosial media yang ditunjukan ke wakil gubernur DKI Jakarta. Bahkan saat pemilihan Gubernur dan Wakil Gubernur kita juga bisa merasakan bagaimana sang calon wakil di tekan dr berbagai pihak dengan mengatas namakan etnis dan budaya.

Ketakutan saya saat itu tidak sampai ke masalah perselisihan antar etnis tapi saya hanya takut sesuatu terjadi kepada kedua orang tua saya. Saat itu ayah saya tiba tiba pergi keluar rumah untuk menjemput saudara kami yang tinggal di daerah Pademangan untuk mengamankan mereka. Ayah hanya bisa pulang bercerita betapa ngeri-nya pemandangan yang dia lihat saat menjemput saudara saya.

Toko dijarah, orang dipukuli, teriakan ‘Reformasi’ dimana mana, orang berbuat sesuatu diluar akal sehat. Mereka membakar, memukul dan melakukan kekerasan seakan kehilangan akal sehat. Apalagi di daerah Pademangan yang notaben penduduknya mayoritas keturunan Tionghoa, maka itu menjadi penyebab ketakutan kami. Karena letak Pademangan dengan Sunter hanya memakan waktu 10 menit.

Faisal kembali bercerita soal apa yang dia alami di Tangerang.

Hal serupa dialami saya di Sunter.

'Ibu saya menelfon keluarga kami untuk memastikan keamanan mereka, ada yang kuliah di bandung, di Trisakti dan keluar entah kemana. Kakak saya yang di Trisakti paling di kuatirkan keadaannya karena meski berjilbab wajahnya masih oriental sehingga orang tua sangat kuatir dengan keamanannya. Namun selagi saya nonton TV, ibu berkata kalau salah satu pacar kakaknya muncul di televisi sebagai salah satu aktifis saat itu' kenang Faisal sambil tersenyum.

'Menurut pengakuan kakak saya dibandung juga ada gerakan, anak muda diajak untuk menduduki gedung sate untuk mendukung gerakan Reformasi seperti di Jakarta.’

‘Saya keluar rumah banyak orang terlihat menjarah, namun lucunya ada orang yang saya kenal tidak lain tidak bukan adalah kakak pertama saya yang ikutan menjarah. Dia membawa sekardus isi pilox.' cerita Faisal sambil tertawa.

Pengalaman masa kecil yang tidak bisa dilupakan.

Saya juga masih ingat pengalamaan masa kacil saya yang tidak bisa saya lupakan saat Peristiwa Mei 1998.
Ayah saya menjadi oknum yang merasakan keuntungan penjarahan itu, secara dia berkerja di salah satu perusahaan asuransi.

Waktu itu sebelum terjadi kerusuhan, Rumah kami disantroni maling dan mengambil 2 buah VCD Player dan 1 Televisi. Sontak kami kelimpungan dengan kejadian itu padahal ibu saya sudah ada firasat, namun kami terlambat sepersekian detik karena saat ibu saya sampai dirumah, sang perampok sudah masuk kemobil dan memacu mobilnya kencang dari rumah kami.

Alhasil, kami dipinjami televisi oleh kakak perempuan ibu saya. Kami butuh sekali dengan televisi, karena memang televisi menjadi hiburan pokok saat itu setelah radio, belum ada internet dan lainnya. Kami menerima TV kecil untuk menjadi pelipur lara kami.

Sesaat setelah peristiwa reformasi, ayah saya bertolak ke kantor kemudian dia pulang kerumah dan membawa sebuah televisi 21 inch dengan keadaan kardur rusak dan ada bagian pecah di sepaker TV.
Ibu berkata ‘pap, itu dari mana’.

Dengan enteng ayah saya menjawab.

‘ini dari kantor, biasa orang kaya mengklaim kerusakan kecil, yaudah dilelang sama kantor, lumayan buat gantiin TV hilang.

Ternyata ada keuntungan untuk beberapa pihak dan saya mengalami, bahkan televisi itu masih ada sampai sekarang.

Saat itu, sepanjang hari kita mendengar sumpah serapah yang di teriakan masyarakat ke 2 Jendral yaitu Wiranto dan Prabowo serta tidak ketinggalan sumpah serapah kepada Soeharto. Reformasi saat itu menyatukan semua lapisan masyarakat untuk satu tujuan.

Saat itu kami kaum keturunan juga melakukan hal sama seperti kaum pribumi lakukan yaitu menuntut reformasi,namun bukan reformasi seperti sekarang. Satu tujuan yang menuju ke arah lebih baik, bukan dari paksaan atau dari keadaan tertekan karena tekanan dari atas bawah kiri kanan. Tapi karena kesadaran memang ingin membuat segala sesuatu menjadi lebih baik.

Hikmah, Indonesia butuh satu moment dimana menyeragamkan satu tujuan. Itu menjadi tolak ukur kekuatan sebuah bangsa. Disini harusnya tujuannya pancasila, namun Pancasila semakin bias, dan Indonesia itu seperti tanpa tujuan. Namun saya dan kita yakin akan ada satu moment dimana Indonesia akan memiliki satu tujuan yang lebih besar dan baik dari Reformasi.

Sayangnya moment Reformasi waktu itu meningalkan bekas yang kurang layak dikenang sampai sekarang, apalagi oleh kaum keturunan.























Joshua Gunadhi
11140110222
Take Home Test UAS Penulisan Feature

Dosen : Bpk Samiaji Bintang.

Nekad dengan Perhitungan

Feature Sosok/Tokoh

Nekad itu terjadi pada saat kita tau kemampuan kita dan tau kalau ada beberapa hal yang tidak bisa kita lakukan namun masih kita lakukan, namun kalau ‘punya nyai’ itu adalah kita tau kapasitas kita dan kita tau kalau kita bisa berhasil di satu hal dan kita punya keberanian untuk itu, nah itu baru disebut ‘’punya nyali’. ‘punya nyali’ disini diartikan kita masih ragu akan kemampuan kita yang membuat kita akhirnya tidak maju atau staknan pada suatu hal

Mengapa ada hal tersebut ? karena memang disini saya membahas tentang seseorang yang notabennya Nekad untuk melakukan sesuatu, namun akhirnya toh diujungnya atau sekarangnya dia berhasil dalam artian bukan sekedar sukses tapi apa yang dihasilkan benar benar menyebar ke segala penjuru dan hasil dari pekerjaannya telah membuat mimpi beberapa orang itu terwujud.

Perkenalkan, Bapak ini adalah David Karto

Bukan David Katro, seperti guyonan Tukul Arwana terhadap orang desa yang belum melek teknologi.

David Karto adalah seorang pengusaha di bidang Musik. Dia adalah orang Jakarta yang katanya tumbuh besar di daerah Mangga Besar dan tergabung dalam Geng yang disegani disana yaitu Pacinko. Saya tau soal Geng itu yang mempunyai ciri khas menggunakan Motor RX King dan membawa Samurai. Pengalaman dia adalah dari umur 17 dia menjadi DJ dengan pemikiran ingin memberikan hal baru kepada para pendengan sesuatu yang mungkin mereka belum pernah dengar.

Setelah 10 Tahun, akhirnya David berhenti menjadi pemutar piringan hitam dengan mesin elektronik, dia akhirnya membuat sebuah Toko yang menjual Vinyl atau dikenal dengan Piringan Hitam yang dimainkan dengan alat yang menggunakan Jarum, dan itu didirikannya di Gandaria yang menjadi awal sebuah Label Rekaman Independen nomor 1 di Indonesia, Demajors.

Awalnya Demajors adalah took yang menjual Vinyl, namun siapa yang sangka kalau akhirnya Demajors menjadi salah satu Perusahaan Rekaman yang paling digemari para musisi. 2001 awal didirikannya sebuah took yang menjual Vinyl dan kemudian mendirikan Demajors bersama dua rekannya, Adhi Djimar, dan Sandy Maheswara pada 30 Maret 2001.

2004. Demajors akhirnya bisa masuk ke ranah music Indonesia melalui jalur distribusi terlebih dahulu. DeMajors yang saat ini mengumpulkan lebih dari 100 artis lokal dengan beragam gaya musik. Artis seperti Rieka Roeslan,(Alm) Bubi Chen, Pure Saturday, Endah n Rhesa, Anda Perdana, Efek Rumah Kaca, tumbuh bersama DIMI (Demajors Independent Music Industries) dalam menegakkan iklim musik non-mainstream di Indonesia. Dan lebih dari 10 Artis non Indonesia juga berkerjasama dengan Demajors.

Demajors juga bertujuan untuk membina hubungan antara musik non-mainstream Indonesia dengan saingan internasionalnya. Rilisan DIMI saat ini dapat ditemui di took  musik ternama (Musik Plus, Disc Tarra, Duta Suara) maupun concept store (Goods Dept, Omuniuum, Unkl) yang tersebar di beberapa kota besar di Indonesia.

Kerja keras Demajors selama 10 tahun terhadap musik ditandai dengan dianugrahi oleh Rolling Stone Magazine Indonesia’s editor’s choice award untuk The New Alternative di tahun 2009. Di bawah nama merek Demajors, DIMI membuat De Majors Butik yang menjual CD, merchandise band yang tidak ada di toko-toko lain dengan harga yang sama, studio recording, terdapat pula hall yang tidak terlalu besar untuk coaching dan gelaran media meet & greet di Gandaria.

Pertemuan saya dengan David Karto sebenarnya bukan hal yang disengaja. Saya dipanggil ke Kantor Demajors perihal pengiriman CV saya yang diperuntukan untuk tim Demajors. Tidak disangka CV saya dibaca dan saya langsung diemail oleh David Karto soal pertemuan kami. Sebagai penggemar musik hasil Demajors maka menjadi ‘dag dig dug’ bukan hal aneh.

Di pikran saya adalah ‘Gila, gue mao ketemu David Karto’. Disamping segala kekaguman saya terhadap dia, David yang semula dipiran saya adalah orang yang Sombong dan perokok keras ternayat itu semua diputarbalikan dengan berbeda. David sangat ramah, dia menghampiri saya di halaman belakang Demajors dengan menggunakan Celana Pendek dan Kaos bertuliskan ‘Del Piero’ di pungggung.

Salaman atau berjabat tangan ? David sepertinya kurang menyukai, dia lebih menykai Tos Tinju yang selalu dilakukannya ke rekan kerjanya, karena saya mengalami penolakan salaman sebanyak 4 kali, maklum saya kebiasaan bersalaman. Saya pikir hanya saya yang tidak bisa bersalaman dengan mas David. Ternyata, semua rekannya pun diperlakukan hal yang sama, mulai dr OB, Bagian Jurnalistik, Orang Radio dampai Jimmy ‘Morfem’ dan Jamie Aditya saat mereka berkunjung ke kantor Demajors di Fatmawati.

Kesulitan awal Demajors jelas adalah Dominannya pasar music Mainstream, dan ketakutan tidak berhasilnya jika Demajors terus bergerak di aliran anti-mainstream, namun hal tersebut dipatahkan dengan kesuksesan Demajor mengorbitkan banyak Artis non mainstream namun yang berkulaitas jauh diatas musik musik kacangan di Indonesia. Bukti penjulan melebihi 300.00 keping CD dalam 4 Tahun bukanlah prestasi sembarangan.

‘itu kepingan yang dihitung, kita tidak tau untuk kepingan CD yang tidak dihitung, Hasil Pembajakan di Internet,dan segala rilisan via Online yang diunduh oleh para pengemar, kalau diingat ingat yah ini merupakan kesuksesan kita sebagai tim untuk tidak mengecewakan para Artis dan Bakat mereka’, kata David Karto.

 Tantangan Demajors sendiri adalah menurunkan tingkat pembajakan dengan cara kreatif. Karena pembajakan adalah salah satu kejahatan yang mematikan segala kreatifitas sang artis bahkan sebelum sang artis melakukan usaha untuk mengembangkan bakat mereka. Maka dari itu Demajors menjual setiap hasil rekaman mereka dengan package yang unik dan harga terjangkau sehingga meminimalisir segala bentuk pembajakan. Karena dengan ‘membeli’ kita menghargai hasil karya sang artis.

Banyak hal yang dilakukan untuk sukses di industri musik, mulai dari merilis CD, membuat acara, mengelola bakat artis, lisensi dan mendapatkan penghasilan tambahan agar para seniman merasa dihargai karya karya mereka. Untungnya, Demajors telah memiliki sendiri basis penggemar lokal yang akan dengan senang hati membeli cepat-cepat rilisan asli dari pada bajakan.

‘Mas David menyesal tidak menunggalkan dunia DJ dan segala music  Elektronik ketika Mas David melihat saat ini justru music sepertiitu sangat laku dipasaran ?’

David menjawab

‘wah, kalau mao nyesel mah, gue nyesel segala sesuatu, Josh. Mulai dr A –B C- D. Kalo gue pikirin bisa mati lama lama, kalau untuk nyesel si pasti ada cuma yah Life must go on, tapi ini yang gue senang lakukan, 12 Tahun bukan waktu yang pendek untuk Demajors. Kalau untuk DJ hanya musiman, ini ? gue mao bkin Everlasting !’

 tutup David Karto

‘Prinsip gue 1, kalau lu mao sukses yah jangan liat kebelakang, mereka ngak ada urusan sama hal didepan, kalau mau kita jalan bersama, ngak ada sukses ninggalin tim dibelakang, karena itu Demajors dibentuk sedikit orang dan yang bekerja hanya sedikit, biar kita semakin dekat dan berasa kekeluargaan, itu udah kesuksesan nomor 1 yang musti gue ciptakan’







 Joshua Gunadhi (11140110222)
Penulisan Feature
Bpk Samiaji Bintang



                                                       Joshuagunadhi.wordpress.com

Tembok Basah dan Berdarah

Feature Peristiwa

Ini bisa dibilang sebuah peristiwa yang sangat mengemparkan di daerah Jakarta Utara. Bisa jadi anda sudah pernah mengetahuinya dengan mambaca surat kabar yang menyajikan berita Kriminal sebagai unggulannya, bisa jadi dari mulut ke mulut atau berita televisi, namun jika anda ingin tau lebih dekat maka saya merupakan orang bisa dibilang cukup tepat untuk menceritakan hal ini, karena tempat tinggal saya hanya selemparan batu dengan tempat kejadian yang sempat menguncang itu, bukan hanya menguncang decak kagum karena seperti di film film luar negeri namun menguncang harga real estate di daerah Jakarta Utara.

Sekitar 14 tahun lalu…..

Lebih tepatnya tanggal berapa saya tidak tau persis karena saya masih berumur 6 tahun dan baru akan memasuki usia sekolah dasar.

Kami sekeliling mendapatkan kabar tidak mengenakan terjadi di perumahan kami yang dikenal damai dan tidak ada keributan, namun seketika itu juga mobil polisi datang, mengecek rumah kami satu persatu macam film NCIS atau CSI yang biasa kita tonton di televisi berlanganan.

Pintu diketok satu persatu apakah ada yang mengenal seorang bapak yang kita sebut saja Anton, karena memang ketika saya tanyakan ke narasumber soal kejadian itu yang tidak lain tidak bukan yang adalah ayah saya, ayah menolak untuk memberitahukan nama orang yang menjadi pokok kejadian masalah itu. Karena ini adalah salah satu kejadian paling menegangkan yang pernah terjadi di Sunter, Jakarta Utara

*********

Posisi tempat yang menjadi pokok permasalahan hari itu sekitar 14 tahun lalu tidak asing bagi saya, bahkan saya masih ingat suasana tempat tersebut karena memang hamper bersebrangan dengan teman kecil saya yang tinggal disana.

Suara pukulan batu, dan suara mesin pengaduk semen menjadi soundtrack disana.
Teriakan mandor menghiasi setiap harinya, dimana dipekerjakan 6 orang pembuat bangunan atau nama sederhana-nya adalah Kuli. Saat itu kira kira saya masih TK dan belum begitu mengerti sedang membuat apa, intinya saya hanya bermain dan lalu lalang disana hampir setiap hari.

Anton, seorang pria muda yang terkenal di komplek perumahan kita itu adalah seorang pengusaha dan mempunyai toko di daerah Glodok dan Asemka. Dia terkenal dengan kesibukannya berjualan karena memang dia mempunyai toko yang sangat laku, setiap hari dia selalu melakukan aktivitasnya, pergi pagi pulang malam, kebetulan dia adalah salah satu tetangga yang paling sulit ditemui sehingga memicu banyak gossip negatif yang tersemat pada dirinya.

Anton memiliki seorang anak dan istri, mereka juga kurang begitu bersosialisasi kepada tetangga sekitar.
Suatu saat, Anton memutuskan untuk memperbaharui rumah yang mereka tinggali, maka disewanya seorang mandor dan 6 orang kuli. Mereka telah menyusun segala keperluan. Istri dan akanya segera dicarikan rumah kost agar pembangunan bisa berjalan dengan baik. Namun, ada hal aneh yang benar benar membuat kami para tetangga heran.

Anton memindahkan 80persen barang barangnya ke rumah kost yang telah ia sewa tidak jauh dari rumah, namun 20persen sisanya Anton tetap meletakannya didalam rumah dan mengumpulkannya dalam 1 ruangan, yaitu kamar depan yang biasa dia tiduri. Dan lebih unik-nya Anton tidak tinggal bersama anak istrinya di Kost-an yang sudah dia sewa melainkan tetap tidur di kamar depan dan sesekali menjenguk keadaan anak istrinya.

Hal tersebut membuat kami tetangga merasa aneh, dimana seluruh bagian rumahnya sudah dalam tahap renovasi namun kenapa kamar depan-nya tidak kunjung dibenahi. Terlihat Anton seperti melindungi sesuatu atau merehasiakan sesuatu.

3bulan pekerjaan rumah itu berlangsung dan estimasi selesai adalah 7 bulan. Namun saat bulan ke3 itu bertepatan dengan bulan Ramadhan, maka para kuli berhak mendapat upah tambahan atau THR yang dia janjikan, namun Ramadhan itu akan berlangsung hari senin, dan hari ini masih hari Jumat. Kebetulan, Mandor sedang tidak ada ditempat karena berhalangan hadir dikarenakan istri sang mandor sakit.

4 pekerja bangunan itu mengetuk pintu kamar Anton, meminta THR yang harusnya diterima hari senin. Anton menolak memberikan karena sesuai perjanjian segala macam pemberian uang harus melalui Mandor, namun tidak hanya menolak, Anton sedikit menambahkan bumbu pedas kepada para pekerja dengan sedikit banyak melampiaskan kemarahan dalam bentuk caci maki.

‘Apa apaan minta THR ? Kerja belum benar mau THR ! pikir pake otak, kalau kerja sudah benar tidak usah minta pasti saya kasih’ kira kira itu kata kata pedas dan makian yang Anton ucapkan kepada para pekerja.

Suasana hari itu terik panas dan dalam keadaan puasa, maka tanpa berfikir dan pertimbangan matang, seorang pekerja melepaskan pukulan mentah ke wajah Anton dan pukulan ke belakang kepala Anton dengan balok yang digengamnya.
Anton pingsan seketika dengan darah bercucuran di lantai yang belum berkeramik.

*********

3 hari tidak ada kabar dari Anton. Keluarga ikutan cemas sehingga menelpon pihak berwajib, hal yang sama dirasakan sang mandor yang binggung kenapa para pekerja tidak meminta THR dan soal keberadaan Anton.
Maka datanglah pihak berwajib sekaligus membawa anjing pelacak untuk melacak keberadaan mereka yang dicari itu. Anjing dilepas di daerah komplek perumahan, namun seekor anjing terus mengendus ke bagian tembok tangga, terus mengendus sehingga menarik perhatian pihak berwajib yang mulai mempertanyakan perilaku tersebut, karena biasanya hal tersebut terjadi ketika anjing itu telah mendapatkan buruan yang dicari atau telah dekat dengan objek yang dicari.

Maka dengan sigap polisi mengambil palu dan memecahkan tembok tersebut, karena kebetulan tembok itu masih dingin yang berarti adalah hasil cor-an baru baru ini. Dikerahkan 3 aparat untuk membongkar tembok itu. Maka tanpa diduga, polisi menemukan Anton seperti patung dan tidak bernyawa serta mengeras akibat cor-an dan luka dikepalanya. Anton ditemukan tewas tidak bernyawa.
4 hari kemudia polisi berhasi menangkap 4 pekerja yang menjadi pelaku pembunuhan sadis Anton di kampung masing masing.

‘Awalnya, Anton belum tewas masih pingsan namun karena kami takut dia sadar dan melaporkan kami ke polisi maka kami langsung menyeret dia ke bawah tangga, dan mengecor-nya hari itu juga’ kata salah satu pelaku ketika diminta keterangan Polisi.

Ketika polisi melakukan pengecekan TKP maka ditemukan balok berdarah, dan ternyata Kamar yang tidak kunjung direnovasi memiliki berangkas sebensar TV 21 inch yang ditanam di bawah meja kerja Anton, ketika ditanya pihak keluarga, ternyata memang dibawah sana dikumpulkannya hasil keuntungan toko yang dia kelola.

Dan menurut bagian forensik, Anton tidak tewas 3 hari lalu namun 2 hari lalu yang berindikasi Anton sempat sadar selama 1 hari didalam tembok yang menunggu waktu untuk mengeras.



Joshua Gunadhi
 (11140110222)
Penulisan Feature
 (Kelas C1)
Bpk. Samiaji Bintang
*joshuagunadhi.wordpress.com*