Sunday, June 16, 2013

Asal Mula berdirinya Vihara Jetavana

Asal Mula berdirinya Vihara Jetavana

Vihara Jetavana merupakan sebuah tempat ibadah umat Budha yang berada di Jalan Iman Bonjol, gang vihara 1 Karawaci. Saat ini, vihara Jetavana telah memiliki kurang lebih sebanyak 600 umat, dari 600 umat itu dikategorikan berdasarkan umurnya yang terdiri dari 120 umat lansi (lanjut usia), 125 umat muda mudi, 120 umat sekolah minggu, dan sisanya adalah umat umum. Saat ini vihara Jetavana diketuai oleh romo Jura wangulimala.
            Asal mula berdirinya vihara Jetavana ini berawal dari seorang ibu yang bernama Maya Wangulimala yang memiliki keyakinan kepada Budha Dharma. Dari situlah ibu yang memiliki enam orang anak ini mulai mengajak suami dan anak-anaknya untuk berdoa setiap malam kepada Sang Budha Dharma. Hingga pada suatu malam ketika ibu Maya beserta suami dan anak-anaknya sedang berdoa, mereka didatangi oleh warga sekitar yang merupakan teman-teman dari keluarga ibu Maya itu. kemudian teman-teman ibu Maya itu mulai mengikuti acara berdoa yang dilakukan setiap hari oleh keluarga ibu Maya. Dari situ lah ibu yang memiliki keyakinan pada Budha Dharma ini mengajak keluarga serta teman-temannya untuk melakukan puja bhakti atau berdoa setiap hari dirumahnya. Ternyata semakin lama semakin banyak umat yang datang untuk puja bhakti bersama dirumah ibu Maya ini, kemudian suami dari ibu Maya yang bernama O’wangulimala memutuskan untuk mendirikan sebuah Cetya (vihara kecil).
            Akhirnya pada 10 November 1975 dibuatlah sebuah Cetya di rumah romo O’wangulimala yang cetya tersebut diberi nama Jetavana Rama. Cetya itu berhasil cepat dibuat berkat bantuan dan dukungan dari para rohaniwan agama Budha, yang salah satu dari mereka adalah Biksu Vijananda dan biksu Gemiyo. Setelah enam tahun melakukan kebaktian dirumah ibu maya dan romo O’wang, mereka memutuskan untuk membeli sebidang tanah di Jalan Iman Bonjol, gang vihara 1 dengan tanah seluas 100 meter persegi. Kemudian tanah itu dibangunlah sebuah bangun berbentuk Cetya. Ternyata sejak adanya bangunan Cetya di gang vihara 1 itu membuat banyak umat Budha yang datang kesana sehingga suami ibu Maya yaitu romo O’wangulimala berusaha untuk membeli tanah lagi sehingga dapat memperluas bangunan Cetya tersebut.
            Setelah mengumpulkan dana dan dana telah terkumpul, dua tahun kemudian romo O’wangulimala beserta istrinya membeli lagi sebidang tanah dengan luas 150 meter persegi yang berada disamping bangunan Cetya mereka. Sehingga total tanah untuk bangunan Cetya itu sebesar 250 meter persegi. Karena tanah untuk bangunan tersebut sudah semakin besar, maka romo O;wangulimala beserta istrinya dan para perintis lainnya memutuskan untuk membangun bangunan berupa vihara, vihara ini diberi nama vihara Jetavana yang hingga sekarang masih tetap berada. Tahun makin tahun vihara Jetavana ini semakin berkembang berkat usaha kerja kerasa para umat dan pengurus vihara Jetavana untuk meningkatkan dan memajukan vihara ini. Umat yang datang ke vihara ini juga semakin meningkat.
            Kemudian pada tahun berikutnya tepat pada saat memperingati hari Tri Suci Waisak, vihara Jetavana ini dikunjungi oleh banyak umat Budha di Tangerang. Dengan dihadirin oleh banyak umat di Tangerang, para pengurus kemudian nelakukan satu rencana untuk mendirikan sebuah bangunan vihara secara permanen. Akhirnya pada tahun 1985 vihara Jetavana berhasil memiliki bangunan vihara yang permanen dengan luas bangunan seluas 8x22 meter persegi. Dengan adanya bangunan vihara yang sudah permanen ini, membuat para umat menjadi semakin rajin untuk berdoa di sini dan selain itu dari bulan ke bulan umat yang datang ke vihara ini semakin banyak. Dari situ lah kemudian umat yang bergabung divihara itu secara rutin melakukan kebaktian terutama Puja Bhakti pada Cet It Cap Go malam sabtu dan hari minggu. Dengan seiring berjalannya waktu, vihara ini memiliki semakin banyak kegiatan mulai dari bakti sosial, lomba antar viahara lain, generasi olah raga antar vihara, dan sebagainya.
            Kemudian pada tahun 1990an  vihara Jetavana mendapatkan sebuah bantuan dana dan dukungan dari Dimas Hindu dan Budha Jawa Barat dan para donatur lainnya. Bantuan dana tersebut kemudian dipergunakan untuk membuat gedung serba guna. Gedung serba guna itu kemudian digunakan untuk para umat melakukan kegiatan-kegiatan pada saat hari raya atau saat ada keperluan keperluan tertentu. Bahakan gedung serba guna ini juga diperbolehkan untuk digunakan oleh warga sekitar apabila ingin melakukan rapat atau kepentingsn bersama. Vihara  Jetavana ini terus semakin berkembang, bangunannya pun semakin bagus dan luas. Umat dan kegiatan yang dilakukan di vihara ini juga semakin banyak, itu semua terjadi karena kerja sama antara umat dengan para pengurus yang memiliki tujuan yang sama untuk terus meningkatkan dan mengembangkan vihara Jetavana ini.
            Hingga pada akhirnya, pada tahun 1995 vihara Jetavana dijadikan sebuah yayasan. Yayasan ini dikelolah oleh bebrapa umat yang dijadikan pengurus sebanyak lima orang yang salah satu dari pengurusnya itu sendiri adalah romo O’wangulimala. Pengurus pengurus lainnya juga dianataranya adalah ibu Maya Wangulimala, bapak Wing Wahyudi, bapak Jokolana, dan bapak Gunawan. Selain dibentuknya pengurusan, yayasan vihara Jetavana juga memiliki aturan aturan mengenai anggaran dana dan anggaran rumah tangga. Dimana setiap pengurus yayasan ini harus mampu bekerja sesuai dengan visi dan misi yang telah tercantum dalam anggaran dana dan anggaran rumah tangga yayasan ini sendiri. Selain itu, yayasan ini juga memiliki ketentuan ketentuan, antara lain seperti pergantian pengurus yang dilakukan setiap tiga tahun sekali dan semua penghasilan yang didapat oleh vihara Jetavana harus diatur dan dikelolah oleh yayasan. Dan tentunya juga apabila ada penggunaan dana dalam yayasan itu harus diketahui oleh tiga orang pengurus yayasan tersebut yang terdiri dari ketua, bendahara, dan seketaris.
 Hal itu dilakukan agar tidak terjadi penyalahgunaan dana yayasan. Semenjak vihara Jetavana ini menjadi yayasan, kegiatan yang dilakukannya pun juga semakin beragam dari mulai aktif dalam kegiatan sosial juga aktif dalam program program yang diadakan oleh pemerintah seperti aktif menjadi anggota forum umat beragama. Selain itu para pengurusnya juga aktif dimajelis majelis umat beragama Budha. Contohnya seperti menjadi ketua maju putih dan ketua Walubi pada tahun 2012 seprovinsi Banten. Walubi itu sendiri merupakan perwakilan umat Budha Indonesia yang menjadi wadah  kebersamaan organisasi umat Budha Indonesia yang terdiri dari majelis majelis agama Budha. Selain itu, Walubi juga merupakan lembaga agama Budha dan badan kehormataan serta menjadi wadah untuk masyarakat yang bernapaskan Budha di Indonesia. Walubi itu sendiri juga sudah ada sejak 20 Agustus 1998 yang didirikan di DKI Jakarta.
            Sejak tahun 1995 ketika vihara Jetavana disahkan menjadi sebuah yayasan, saat itu lah terbentuk sebuah visi dan misi yayasan vihara Jetavana yang dari visi misinya itu adalah yang pertama, untuk mengembangkan Budha Dharma, yang kedua adalah untuk  membantu pemerintah dalam kegiatan kegiatan keagamaan dan sosial, yang ketiga, melakukan kegiatan sosial, membantu fakir miskin, dan mendidik anak asuh yang tidak mampu utnuk dijadikan anak asuh vihara Jetavana, dan yang keempat adalah dapat bekerja sama dengan seluruh unsur agama yang lain untuk membantu pemerintah dalam kehidupan beragama.
            Vihara Jetavana ini masih tetap berada di Jalan Iman Bonjol, gang vihara 1. Saat ini vihara yang sudah berdiri sejak lama dikelolah oleh romo Jura Wangulimala yang merupakan anak dari ibu Maya Wangulimala dan bapak O’wangulimala. “Vihara Jetavana ini sudah berada sejak saya kecil, vihara merupakan bagian hidup dari saya dan peninggalan dari kedua orang tua saya. Memang sejak SMA saya sudah memiliki cita cita dan keinginan untuk menjadi seorang pendeta di vihara ini. Maka dari itu saya saat ini sudah mencapai keinginan saya yaitu menjadi seorang pendeta di vihara Jetavana dan vihara ini saya yang mengurus beserta istrinya,” ungkap romo Jura Wangulimala sambil merangkul sang istri yang berada disebelahnya.
            Romo Jura Wangulimala beserta istrinya memang sangat terlihat senang dalam mengelolah vihara peninggalan orang tuanya itu. setiap hari mereka berdua datang kevihara itu untuk melihat dan mengecek kondisi vihara tersebut, padahal divihara itu sudah ada penjaganya yang bertugas utnuk mengurus dan membersihkan vihara tersebut, tetapi beliau beserta istrinya yang bernama Entjap selalu menyempatkan waktu untuk mendatangi vihara yang tak  jauh dari rumahnya itu. Segala sesuatu semua mereka urus untuk kemajuan vihara ini.

            Pada setiap tahunnya juga pada tanggal 10 November, vihara Jetavana pasti selalu merayakan hari ulang tahun vihara tersebut, yang pada tanggal itu juga secara bersamaan merupakan hari ulang tahun romo Jura wangulimala yang merupakan pendeta vihara Jetavana dan juga anak kedua dari enam bersaudara pasangan ibu Maya Wangulimala dan romo O’wangulimala yang merupakan pendiri dan perintis vihara Jetavana tersebut. Pada setiap tahunnya seluruh keluarga Wangulimala beserta umat datang ke vihara untuk melakukan puja Bhakti dan merayakan hari ulang tahun pendeta nya dengan melakukan tumpengan. Kegiatan seperti ini selalu dilakukan setiap tanggal 10 November tiap tahun. Hal ini selain untuk memperingati hari ulang tahun vihara, bertujuan juga untuk saling berbagi kepada seluruh umat vihara Jetevana sambil mengenang berdirinya vihara tersebut yang hanya berawal dari sebuah Cetya sederhana.

Wednesday, June 12, 2013

Demi Bertahan Hidup

Sambil membawa kantong plastik berwarna kuning dan berwarna merah ,yang berisikan botol-botol plastik yang sudah tidak layak pakai, Masturo berjalan di sekitar perumahan sektor 1B, Gading Serpong. Melewati setiap rumah-rumah yang beratap merah dan juga seorang laki-laki yang sedang mencuci mobil. Sekali-kali, perempuan berusia 60 tahun itu, membuka tempat sampah di setiap rumah, mencari-cari barang bekas yang bisa menjadi penghasilannya.
“Kalau botol plastik kayak gini, satu kilonya dapat seribu rupiah,” katanya sambil menunjukka botol plastik yang sudah pipih kepada saya. “Seminggu baru dapat sepuluh ribu rupiah,” lanjutnya lagi. Memungut barang bekas, menjadi satu-satunya jalan baginya untuk menambah uang. Ketiga anaknya sudah besar. Dua orang menjadi kuli bangunan dan seorang lagi menjadi tukang ojek. Namun, ketiga anaknya pun tidak bisa membantu banyak. Mereka hanya bisa menghidupi keluarganya sendiri, sedangkan suami Masturo sudah meninggal dua setengah tahun yang lalu.
 Walaupun ia juga bekerja sebagai tukang cuci-gosok, penghasilan yang ia dapat masih kurang untuk membiayai hidupnya terutama masalah listrik rumahnya. “Yah, saya sih malu sebenarnya kalau “mungut”, tapi gimana lagi,” kata perempuan yang menggunakan baju dengan motif bunga-bunga berwarna merah itu ketika diwawancara.
Rasa malu ini juga ikut dirasakan oleh Cicih. “Malu juga dilihat orang banyak, tapi kalau nggak, yah, nggak bisa makan nanti,” katanya. Perempuan yang berusia 55 tahun ini, juga bekerja sebagai tukang cuci-gosok di dua rumah, satu di sektor 1A dan satu lagi di sektor 1B. Ia mulai mengumpulkan barang bekas semenjak kaki suaminya tersambar petir sehingga butuh waktu tiga bulan untuk sembuh.
Selain mengumpulkan botol bekas atau kardus, Cicih juga mengumpulkan bunga kering. “Kalau basah cuman sepuluh ribu saja satu kilo, kalau bunga kering bisa sembilan puluh ribu satu kilo,” tuturnya. Hal ini menyebabkan banyaknya pemungut barang bekas mencari bunga untuk dikeringkan yang biasanya adalah bunga kamboja. “Kalau pagi, biasanya di kuburan pasti ramai. Apalagi habis hujan atau angin besar, wah, rebutan pasti,” kata perempuan berkulit sawo matang itu sambil tertawa. Namun, tetap saja ia lebih memilih bekerja di rumah, mengingat kaki kanannya yang terkena rematik. “Saya juga mau kerja di rumah. Dagang gitu. Tapi, saya tidak punya modal,” ujarnya.
Jumlah penduduk miskin di Banten pada bulan Sepetember 2012 sebesar 648.254 orang atau sebesar 5, 71%. Di Tangerang sendiri, kemiskinan setiap tahunnya naik 5%. Tentu saja, hal ini berdampak pada masalah-masalah yang lain. Di masalah kesehatan misalnya. Untuk harga kamar di rumah sakit kelas III di Tangerang, harga paling murah adalah Rp 43.000,- per harinya. “Waktu kaki suami saya tersambar petir, saya sampai jual rumah untuk biaya,” kata Cicih. Suaminya akhirnya hanya menetap di rumah sakit selama seminggu, kemudian pulang ke rumah.
Selain kesehatan, pendidikan juga bisa menjadi masalah karena adanya kemiskinan. “Hanya anak pertama yang sampai kelas empat SD, sisanya tidak sekolah,” kata Masturo. Inilah yang membuat anaknya akhirnya bekerja sebagai buruh dan tukang ojek. Lain halnya dengan Cicih, dari empat orang anak, dua orangnya tidak memiliki pekerjaan yang tetap. “ Bisa dapat dua puluh ribu aja sehari sudah bagus,” katanya. Untuk Tangerang Selatan, jumlah penggangguran pada tahun 2010 mencapai 50.132 jiwa walaupun wilayah Tangerang Selatan berada pada peringkat keenam penggangguran terbanyak dari delapan wilayah yang di survei di Banten.
Selain masalah-masalah yang berhubungan dengan uang, masalah sosial juga dialami oleh orang-orang yang dikategorikan miskin. Cicih pernah tidak dibayar atas uang yang seharusnya menjadi haknya. “Masa seratus ribu saja tidak punya, padahal saya kan dibayar per minggu,” kata istri dari Cui ini. “Tuh, uang kamu!” Ujarnya sambil memperagakan gaya majikannya ketika membentak dirinya. “Habis itu, uangnya di lempar ke lantai,” lanjutnya lagi.
Bahkan oleh majikan yang sama, Cicih pernah diancam dilaporkan ke polisi karena selalu bertanya mengenai gajinya yang belum dibayar. “Lah, itu kan uang saya. Kalau nggak, saya makan apa? Mending kalau dikasih makan di rumahnya,” kata perempuan yang menggunakan baju berwarna ungu itu ketika diwawancara. Untungnya, Cicih tidak pernah mendapatkan perlakuan kasar secara fisik oleh majikannya. Banyak kasus kekerasan terhadap orang-orang yang memiliki pekerjaan yang dianggap “rendah” oleh masyarakat. Misal, kasus penyiksaan terhadap buruh kuali yang terjadi di Kampung Bayur Ropak, Tangerang. Dua di antara sembilang buruh tersebut menderita cacat akibat pukulan dan siraman air keras, seperti dilansir di news.okezone.com.
Cicih ingin sekali keluar dari tempat kerjanya itu, tetapi ia belum menemukan tempat lain. Sedangkan, ia harus tetap mencari uang, maka dari itu ia mulai memungut barang bekas untuk dijual kembali. “Yah, habis gimana. Saya sudah nunggak listrik selama dua bulan, makanya harus dibayar, kalau nggak dicabut nanti,” kata perempuan yang tinggal di Rumpak Sinang ini.
Sehari-harinya setiap selesai dari pekerjaan tetapnya, Masturo dan Cicih akan mencari-cari barang di sekitar kompleks perumahan dan pulang dengan jalan kaki. “Habis, naik ojek aja, bayar sepuluh ribu, kan sayang,” kata Masturo. Bagi Masturo, selagi kakinya kuat, ia tidak akan masalah dengan berjalan kaki walaupun perempuan yang menggunakan kain hitam sebagai penutup kepalanya ini, tidak memungkiri kelelahan yang dirasakannya karena jarak dari kompleks perumahan sampai di Pakulonan.
Cicih juga merasa kelelahan, apalagi ditambah dengan kaki kanannya yang sakit sehingga terkadang ia harus berjalan pelan-pelan. Di pagi hari, ia juga tidak makan karena tidak ada bahan makanan yang bisa dimasak. “Minum teh saja,” tuturnya singkat. Ia terkadang merasa pusing, tapi ia tetap menjalani pekerjaannya.
Namun terkadang ada saja orang yang memberikan uang kepada Cicih dan Masturo. Mereka berdua selalu mensyukuri apa yang mereka dapat. “Alhamdulilah, dikasih sepuluh ribu atau dua puluh ribu,” kata Masturo. Mereka berdua pun sebenarnya tidak pernah mengharapkan hal itu, tetapi mereka selalu berterima kasih atas kebaikan orang lain yang mau membantu mereka. “Saya sih cuman bisa doain aja, supaya orang itu makin sehat, tambah rezeki,” kata Cicih. Cicih pun membawa dua plastik, masing-masing satu di kedua tangannya. Ia pun berjalan keluar dari rumah kosong yang berpagar hitam dan berkarat itu, sambil sekali-kali berhenti sejenak. Membawa botol-botol plastik dan bunga kamboja yang sudah berwarna coklat untuk tambahan uang demi bertahan hidup. (Zerica Estefania Surya/ 11140110026/ C)

Yudha Brama Jaya



“Unit 65 dipanaskan! Unit 65!”, ujar laki-laki berkulit sawo matang itu.
“Unit 65, Pak?” Tanya saya kebingungan.
“Iya, 65 itu kode untuk kebakaran. Kalau 66 untuk banjir.”
“Setelah itu disebutkan alamat lokasi kejadian dan ada bunyi sirene panjang. Nguuuunngggg...,” tambahnya memperagakan bunyi sirene jika ada pelaporan kebakaran oleh masyarakat. Laki-laki itu adalah Boediono. Kepala Seksi Kecamatan Cakung ini sudah 15 tahun bekerja di Suku Dinas Pemadam Kebakaran dan Penanggulangan Bencana, Kota Administrasi Jakarta Timur.
Jalan Matraman Raya tidak begitu macet siang itu. Pukul sebelas siang di hari Selasa, memungkinkan masyarakat Jakarta sedang melangsungkan akrivitas bekerjanya. Lewat kaca mobil di sebelah kiri saya, mobil-mobil besar yang dominan berwarna merah itu, diparkir rapi walaupun ada beberapa motor para pemadam kebakaran berada di depan mobil-mobil tersebut. Kantor Pemadam Kebakaran di wilayah Jakarta Timur ini sebenarnya terletak di samping sekat-sekat tempat mobil pemadam kebakaran diparkir. Hanya ada dua warna yang menghiasi tembok-tembok sepanjang gedung itu. Warna merah dan biru. “Semua kantor pemadam kebakaran pasti menggunakan warna yang sama,” jelas Boediono sambil meminum kopi hitamnya.
Warna merah melambangkan keberanian atau semangat yang membara, sedangkan biru melambangkan kesetiaan. Dua warna ini juga terlihat pada logo Asosiasi Pemadam Kebakaran Indonesia yang bisa ditemukan ketika Anda berada di area tempat parkir mobil pemadam kebakaran, yang terletak di dekat tiang bendera atau di setiap pintu mobil pemadam kebakaran jenis apapun. Lima kelopak Bunga Wijaya, dua tangkai 19 lidah api, air, selang, kampak, helm menjadi sebuah kesatuan logo dengan dibawahnya persis tertulis, “YUDHA BRAMA JAYA”, yang berarti kemenangan dan keberhasilan dalam perang melawan kebakaran.
Untuk pemadam kebakaran sendiri sebenarnya sudah dibentuk pada tahun 1873 pada zaman Hindia Belanda. Peraturan tentang kebakaran sendiri atau yang dikenal dalam bahasa Belanda, Reglement of de Brandweer sudah dikeluarkan pada tanggal 25 Januari 1915. Inilah mengapa pada zaman dahulu, biasanya pemadam kebakaran dipanggil dengan sebutan Brandweer. Selain itu, tanggal 1 Maret 1929 juga menjadi momen penting. Tanda penghargaan dalam bentuk prasasti diserahkan kepada Brandweer Batavia karena sudah menjalankan tugasnya sebagai pemadam kebakaran. Prasasti ini sampai sekarang tersimpan di kantor Dinas Pemadam Kebakaran, Ketapang, Jakarta Pusat. Barulah pada tahun 1969, nama Dinas Pemadam Kebakaran dipakai.
Untuk kantor utama di Jakarta Timur ini tidak terlihat seperti kantor-kantor pada umumnya. Dua lemari pendek yang terbuat dari kayu masing-masing satu di sebelah kiri pintu dan di sebelah kanan pintu. Berkas-berkas dokumen berada di atas lemari kayu di sebelah kiri, sedangkan helm berwarna hitam ditaruh di atas lemari sebelah kanan. Poster film “Si Jago Merah” yang salah satunya dibintangi oleh Ringgo Agus Rahman, terpampang di tembok berwarna putih tersebut. Dua komputer masing-masing berwarna hitam dan putih juga sudah tidak digunakan. Hanya meja hitam dan sebuah asbak menjadi “teman” bagi para petugas untuk bercerita satu sama lain,berbagai pengalaman mereka.
“Waktu kebakaran di Bursa Efek Jakarta, saya ikut menangani,” kata Boediono. Sampai di sana, banyak orang di luar,” lanjutnya lagi. Bom yang terjadi pada tanggal 13 September 2000 itu menewaskan 15 orang, sepuluh di antaranya karena kesulitan bernapas. “Saya sempat takut juga karena penyebab kebakaran adalah bom,” kata laki-laki lulusan Intitut Pertanian Bogor ini. “Bisa saja ada bahan kimia yang berbahaya,” tambah laki-laki yang orang tuanya  juga seorang pemadam kebakaran.
“Saya juga pernah menyelamatkan seseorang yang terjatuh di sumur.” Di dalam sumur bisa saja tidak adanya oksigen, sehingga masyarakat dihimbau untuk tidak langsung menyelamatkan korban. “Terkadang ada saja orang yang mau menyelamatkan, eh..malah jadi nambah korbannya,” tuturnya.
Pekerjaan seorang pemadam kebakaran sebenarnya tidak hanya memadamkan kebakaran. Ikut menanggulangi bencana seperti banjir juga menjadi salah satu tugas mereka. Dinas Pemadam Kebakaran Jakarta Timur pernah menyediakan perahu karet waktu adanya banjir di Jakarta pada tahun 2010. Tidak hanya masalah banjir saja, tetapi semua yang sifatnya mendesak seperti pohon tumbang, seseorang yang terjepit atau bahkan menyelamatkan para hewan peliharaan. “Waktu itu ada kucing gubernur tersangkut di pohon, yah kita yang selamatkan,” kata Boediono sambil tertawa.
Namun tetap saja masalah utama yang sering dihadapi para pemadam kebakaran adalah kebakaran itu sendiri. Seperti dilansir Kompas.com, kebakaran yang terjadi di Jakarta pada tahun 2012 mencapai 1.008 kejadian dengan Jakarta Timur lebih “unggul” dibanding yang lain sebanyak 285 kali kejadian. Penyebab utama terbesar adalah korsleting listrik. Hal ini dibenarkan oleh Boediono. “Ini semua karena standar keselamatan pada sebuah bangunan tingkat tinggi tidak diketahui pemilik atau gara-gara masalah kecil.” Terkadang bahan-bahan yang ada di gedung tersebut mudah terbakar atau masalah seperti penggunaan tusuk kontak secara bertumpuk. “Biasanya kita panggil pemilik perusahaan jika tidak sesuai standar,” tambah laki-laki kelahiran Jakarta tersebut.
Bagi seorang pemadam kebakaran, mobil pemadam kebakaran adalah “sahabat sejatinya”. Setiap mobil memiliki jenis yang berbeda-beda. Saya pun berjalan-jalan ke area parkir untuk melihat lebih dekat. Ada mobil yang hanya berisi air saja, foam saja, kipas angin untuk menghilangkan asap atau alat pemadamnya saja. Setiap mobil memiliki kode sendiri yang ditulis di pintu setiap mobil, seperti T 01-02 atau T 09-01 dengan warna kuning.
Di mobil kode T 01-02, ada empat saluran yang bisa dipasang dengan selang, selain itu adanya pegangan untuk mengatur seberapa besar air yang keluar. T 01-02 dapat menampung 4000 liter air. Di sekat paling kanan, terdapat mobil dengan kode 563, tidak ada perbedaan warna dengan mobil sebelumnya, namun tangga berwarna putih yang bisa mencapai 24 meter itu berada di atasnya. Lain lagi dengan kode 508, bagian mobil ini dilengkapi dengan kotak besar yang berisikan pasokan air tambahan.
Saya pun berjalan ke belakang melewati kantor utama. Di sebelah kanan persis pintu kantor utama, ada sebuah majalah dinding yang ditempel kertas berwarna-warni berisikan kegiatan-kegiatan yang dilakukan para petugas seperti lomba-lomba dan ajakan untuk olahraga bersama. Dua orang petugas dengan seragam berwarna biru sedang menikmati acara televisi dan lainnya sedang bermain catur. Di area belakang, mobil-mobil pemadam kebakaran lainnya sedang dicuci, Ada juga yang menikmati makan siangnya di warung-warung kecil di depan gedung. Sekitar 450 orang bekerja menjadi pemadam kebakaran untuk wilayah Jakarta Timur dan mereka tahu bahwa menjadi pemadam kebakaran bukanlah hal mudah.
“Pemadam kebakaran itu kerja sosial dan taruhannya nyawa,” ujar Boediono. Boediono tahu bekerja menjadi pemadam kebakaran bukanlah pekerjaan yang bisa memberikan penghasilan tinggi. “Gaji saya tidak seberapa dengan pekerjaannya. Kakak saya pernah di sini, tapi dia keluar. Tidak tahan,” kata laki-laki yang memiliki dua orang anak ini.
 Belum lagi masalah, masyarakat yang terkadang selalu merasa tidak puas karena keterlambatan pemadam kebakaran. Di Jakarta yang sudah terkenal dengan kemacetannya tentu saja bukanlah hal mudah untuk mencapai lokasi kebakaran dengan cepat. “Kami selalu mencoba untuk datang lebih cepat. Target kami sepuluh sampai lima belas menit dalam perjalanan.” Wilayah Jakarta Timur menyediakan 24 pos untuk mempermudah para petugas datang ke lokasi lebih cepat.
Selain itu, seorang petugas pemadam kebakaran bekerja selama 24 jam dan mendapatkan hari kosong selama dua hari setelah bertugas. “Sempat capek, tapi itu kan pekerjaan kita,” kata Boediono. “Kadang baru mau mandi, eh ada kebakaran lagi,” tambahnya. Namun, mereka mengemban tugas ini dengan serius. Bagi mereka kebakaran adalah hal yang sangat berbahaya sehingga dibutuhkan konsentrasi yang tinggi.
Tinnnn! Tinnn! Suara klakson mobil terdengar di jalan raya, namun tidak ada suara “nguunnnnggg” dari sirene seperti yang diperagakan Boediono. Para petugas bersantai, menikmati hiburannya masing-masing, tetapi siapa yang tahu. Jam selanjutnya, menit selanjutnya atau detik selanjutnya, mereka semua akan mengenakan helm putih dan jaket oranye, bersama dengan “sahabat sejati” mereka, sang mobil pemadam kebakaran, melaksanakan makna dari warna cat tembok yang bukan sekedar warna, mempertaruhkan nyawa untuk melayani masyarakat karena sebuah kode “65”.
Zerica Estefania Surya/11140110026/C

Jose Vide: Sepak Bola, Hidup Saya

“Booo...! Mereka berteriak, mengganggap remeh kami. Tapi, di lain sisi ada suara “Tauras! Tauras”. Kamu bisa mendengar suara terompet yang sangat kencang. Rasanya luar biasa,”, ujar laki-laki keturunan Portugis tersebut. Hari itu, 22 Juli 2010. Di New GSP Stadium, Cyprus, Yunani, FK Tauras Taurage bertemu dengan APOEL Nicosia untuk kualifikasi Liga Eropa. Jose Vide yang menggunakan nomor punggung 16, tidak bisa berhenti untuk menatap setiap penonton yang bersorak-sorai, mendukung tim favorit mereka.
“Sekitar tiga puluh ribu orang memenuhi stadion. Saya sempat tegang ketika berada di lapangan,” ujarnya. Saat itu, ia menggunakan seragam berwarna merah dengan garis hitam sebagai salah satu pemain tengah FK Tauras Taurage. “Bagi saya yang berkesan tidak hanya bermain untuk kualifikasi, namun bagaimana antusias penonton. Jujur kami kalah, tapi saya tidak pernah ditonton banyak orang sebelumnya,” kata laki-laki yang menggunakan baju berwarna merah muda ketika diwawancara sambil tertawa.
Jose Vide adalah anak ke lima dari pasangan Carlos Lopes Vide dan Petrolina Margarida Correia. Sejak umur sembilan tahun, Jose sudah mulai serius untuk menjadi seorang pemain bola. Walaupun ia lahir di Dili, Timor Leste, namun ia mulai mengikuti sekolah bola di Lisbon, Portugal. “ Banyak orang yang bilang saya bisa membuat trik-trik yang sulit dilakukan pemain bola pada umumnya. Hal itulah yang menjadi motivasi saya,” ujar laki-laki berkulit sawo matang tersebut.
Real Sport Clube menjadi klub di mana laki-laki yang memiliki seorang anak perempuan bernama Crystal ini, bermain. Jose mendapatkan perhatian dari pelatihnya, Jose Goncalves. “Untuk bisa bermain dengan angkatan di atasmu, membutuhkan kemampuan yang baik. Kalau tidak pelatih tidak mungkin mengizinkanmu,” jelasnya. Karena kesempatan yang diberikan oleh pelatihnya inilah, maka Jose bisa bermain dengan anak-anak yang lebih tua dan salah satunya adalah Luis Carlos Almaeida da Cunha atau yang lebih dikenal dengan sebutan Nani.
Awalnya ibunya tidak mengizinkannya untuk bermain bola. Inilah yang membuat laki-laki yang suka jogging ini bolos kelas. Hal ini juga dibenarkan oleh kakaknya, Joaquim Lopes Vide. “Suatu hari pelatihnya datang ke rumah kami karena tahu Jose absen latihan,” kata laki-laki yang memiliki rambut pendek berombak ini. “Ibu kami ingin dia seperti anak pada umunya dan waktu itu ibu kami tidak punya uang untuk membayar bis kalau Jose pulang setiap malam,” lanjutnya lagi. Akhirnya, sang pelatih pun setuju untuk membiayai keperluan Jose karena melihat talenta yang ada pada dirinya.
Di dalam klub ini juga, Jose pernah diberikan kartu merah. Pertandingan Real Sport Clube melawan FC Alverca menjadi salah satu kejadian yang tidak bisa ia lupakan. Skor pada saat itu 1-0 untuk Alverca, Jose pun mulai berlari-lari di sekitar tempat duduk untuk mempersiapkan masuk ke babak ke dua. Di babak kedua, ada salah satu gelandang berkali-kali menendangnya. “Wasit saat itu melihatnya, tapi anehnya tidak memberikan kartu kuning,” tuturnya. Satu waktu, gelandang ini menendangnya hingga ia jatuh tersungkur di tanah. Telapak tangan kirinya yang belum diangkatnya, diinjak dengan menggunakan sepatu bola. Tidak cukup dengan itu, sang gelandang juga membuang ludah di dekat kepalanya yang masih berada di tanah.
“Saat itu juga seperti ada bunyi ‘trikk’ di kepala saya dan saya sudah tidak peduli lagi dengan pertandingan” kata laki-laki yang lahir di tahun 1987 ini. Ia berdiri dan dengan tangan kanannya memukul wajah si gelandang sampai gelandang itu jatuh. Ia pun juga mengambil sepatu bolanya dan memukul bahu anak itu yang juga sudah jatuh di tanah, terus menerus. Akhirnya, wasit pun datang dan “menghadiahinya” kartu merah. Saat ia keluar dari lapangan, Jose Goncalves, sang pelatih hanya menatapnya datar. “Kita akan bicarakan hari Senin,” ujar Jose meniru apa yang dikatakan pelatihnya itu.
Setelah kejadian itu, Jose pun dihukum selama satu bulan untuk tidak bermain bola. Ia hanya diminta untuk lari di lapangan selama satu jam tiga puluh menit. Ia hanya bisa melihat teman-temannya bermain bola dan ia merasa frustasi saat itu. “Itu hukuman yang berat buat saya. Saya mengerti apa yang ingin disampaikan Pak Jose. Setelah itu, saya selalu berpikir dua kali untuk melakukan sesuatu,” katanya.
Di umur 17 tahun, ia dan keluarganya pun pergi ke London karena melihat situasi yang lebih baik di Inggris daripada Portugal, mengingat ibunya yang sudah berlanjut umur. Ia sempat bermain bola, namun di sana, laki-laki yang berzodiak Aquarius ini lebih banyak menghabiskan waktunya untuk bekerja dan bersekolah. “Saya pernah bekerja di bar dan rumah makan. Di sana, mereka membayarmu per jam,” tutur laki-laki yang lahir pada tanggal 4 Februari tersebut.
Walaupun begitu, menjadi seorang pemain bola sudah menjadi impiannya sejak kecil, ia pun mencoba peruntungannya ke Lituania dan akhirnya menjadi pemain FK Tauras Taurage. Klub dengan lambang banteng hitam ini adalah klub yang ada di Lituania yang tepatnya berasal dari kota Taurage. Klub ini juga bermain pada divisi utama atau yang disebut dengan A Lyga di Lituania. Namun, Jose merasa kurang cocok untuk bermain di klub yang seragamnya dominan dengan warna merah dan hitam ini. “Kami sempat tidak lolos kulaifikasi Liga Eropa, sehingga klub tidak mendapatkan uang dan mereka mulai memotong gaji kami,” katanya. “Selain itu, cuaca di sana sangat dingin dan saya tinggal di kota kecil yang sedikit berbahaya,” lanjutnya lagi.
Dari situlah, Jose mencoba lagi peruntungannya di Indonesia. “Saya hanya iseng mengirim pesan ke Eddy apakah ia bisa mencari tim untuk Jose. Ternyata, ia menyuruhnya datang ke Indonesia,” kata Joaquim. Eddy Syah adalah salah satu agen pemain bola di Indonesia. Joaquim mengenal Eddy dari kakak iparnya yang tinggal di Indonesia, Benny Surya.
Masuk di Indonesia, Jose mulai bergabung dengan tim PSSB Biereun. Klub ini terletak di Biereun, Aceh dan bermain dalam divisi utama. Dengan pelatih, Simon Elissetche yang berasal dari Chili waktu itu, Jose mulai mencoba bermain sepak bola di Indonesia. Untuk laki-laki yang punya dua adik perempuan ini, bermain sepak bola di Indonesia memiliki banyak perbedaan. “Saya melihat banyak hal yang belum pernah saya lihat sebelumnya,” ujarnya. Makanan yang pedas menjadi salah satu perbedaan besar dengan makanan di Eropa, sehingga baginya yang tidak suka dengan makanan pedas, agak sulit untuk beradapatasi. “Pada pukul enam pagi, mereka menyediakan nasi dan ayam goreng sebelum latihan, jujur itu makanan yang berat di pagi hari,” tuturnya.
“Selain itu juga ada perbedaan besar sepak bola di Eropa dengan di Indonesia,” katanya lagi. Simon, sebagai pelatihnya sangat membantu dirinya dalam beradapatasi, mulai dari makanan sampai berinteraksi dengan orang-orang sekitar. “Dia sangat membantu saya. Untung dia bisa sedikit berbahasa Spanyol, sehingga tidak terlalu berbeda jauh dengan Portugis,” kata laki-laki yang menyukai lagu hip hop dan kizomba ini.
Satu hal yang menurut Jose menyenangkan ketika bergabung dengan klub yang sudah ada sejak tahun 1970 ini adalah para pemain dari klub itu sendiri. “Rata-rata pemain berasal dari Paraguay sehingga mereka juga bisa bahasa Spanyol, tapi yang saya lihat tidak hanya itu,”ujarnya. Para pemain di Bireun mengerti apa yang dirasakan Jose selaku seorang pemain asing yang datang dari luar, meninggalkan kota kelahiran dan keluarganya, karena mereka semua pun mengalami hal yang sama. Hal itulah yang dilihat Jose.
Pengalaman tidak digaji oleh klub ini pernah dirasakan oleh Jose. Hal ini termasuk hal yang baru baginya karena sebelumnya tidak demikian di Eropa. “Mereka baru membayar gaji saya setelah dua bulan. Padahal bagaimanapun juga ini adalah pekerjaan saya. Saya harus digaji,” ujarnya. Kasus pemain asing yang tidak digaji di Indonesia bukanlah sesuatu yang baru. Sebut saja kasus Moukwelle Ebanga Sylvian. Seperti dilansir dari  tempo.co.id, pemain asal Perancis ini tidak digaji selama sembilan bulan dan menyayangkan sikap manajemen dari Persewangi, klub di mana ia bergabung.
Kasus lainnya seperti yang dialami Sylla Mbamba, Salomon Begondo dan Camara Abdoulaye. Ketiga pemain Afrika ini harus mengemis di jalan untuk menyambung hidupnya karena hanya mendapatkan lima belas persen dari nilai kontrak. Pemain asing dari klub Persipro ini memilih untuk meminta-minta di jalanan, sekitar kota Probolinggo.
Kasus yang lebih fatal lagi adalah kasus pemain asing Persis Solo, Diego Mendieta. Seperti dikutip dari okezone.com, Diego yang meninggal dunia karena sakit, mengalami kesulitan ekonomi karena gaji sebesar seratus juta rupiah belum dibayar oleh klubnya tersebut. Jose sempat membaca berita tersebut dan sangat menyayangkan apa yang dilakukan klub Persis Solo. “Mereka sudah melampaui batas. Bagaimana rasanya menjadi keluarganya? Ini sangat menyedihkan dan tidak adil,” kata laki-laki yang mempunyai postur tinggi 175 cm ini.
Keluar dari PSSB Bireun, Joaquim mengajak adiknya tersebut untuk bergabung dengan tim nasional Timor Leste. “Walaupun saya lebih banyak main di Eropa, tapi bagaimanapun juga saya lahir di sana,” tuturnya. Ia pun sempat mengikuti salah satu ajang sepak bola yang negaranya tergabung dalam ASEAN dan dilakukan setiap tahunnya yaitu  AFF Suzuki Cup. “Menjadi pemain tim nasional merupakan pengalaman yang membanggakan karena kita bermain mewakili negara kita,” katanya.
Hal yang sama juga disampaikan Jesse Pinto, kapten dari tim nasional Timor Leste. “Saya bermain waktu Suzuki Cup, sayangnya kita tidak menang,” kata Jesse. Pemain dengan nomor punggung 10 itu mengakui Jose adalah salah satu pemain yang baik. “Dia orang yang sangat bersemangat. Saya suka kepribadiannya. Dia bisa berbicara kepada siapa saja di Timor,” katanya. “Sebagai pemain bola, dia orang yang disiplin. Tidak harus disuruh untuk latihan dan dia bisa bermain sebagai pemain tengah atau di sayap kanan dan kiri,” lanjutnya lagi.
Selesai dari Suzuki Cup, Jose masih berjuang mencari klub reguler. “Saya mencoba Persidafon, Papua. Awalnya semua baik. Manajer mengatakan besok akan mengurus kontrak, tapi ternyata yang terjadi sebaliknya,” kata laki-laki yang memiliki seorang kakak perempuan ini. Ia tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi, namun manajer klub yang dibentuk pada tahun 1970 ini menyuruhnya untuk pulang kembali ke Jakarta.
“Setelah dari Persidafon, saya mencoba Persija IPL. Saya juga kaget karena ada dua liga di Indonesia, IPL dan ISL,” katanya sambil tertawa. Indonesia Premier League atau IPL adalah kompetisi tertinggi dalam sepak bola Indonesia sejak tahun 2011 mengalahkan ISL atau Indonesia Super League. Dalam IPL, hak siar, tiket dan lain-lain masuk ke PSSI atau Persatuan Sepak bola Seluruh Indonesia. Lain halnya dengan ISL yang setiap klubnya mencari sponsor sendiri sehingga hasil yang didapat tidak masuk ke PSSI.
 Seperti dilansir dari boromania.net, klub-klub besar dan sudah berdiri sejak lama tetap menjadi perhatian karena sudah memiliki sponsor sendiri, sehingga IPL yang baru berdiri memunculkan aturan untuk menggabungkan tim IPL dan ISL sehingga terciptalah dualisme, seperti Persija (Jakarta FC ) dan Persija Paulus. “Aneh, tapi itu yang terjadi di Indonesia,” kata Jose.
“Ya! Bagus! Sekarang ambil bolanya dan kembali ke posisi semula,” kata Jose kepada Rofin, yang menggunakan kaus putih. Di dalam Futsal Salon, Gading Serpong, Jose yang menggunakan baju biru tua dan celana pendek hitam di hari Jumat itu, mengajari tujuh orang anak teknik dasar bermain bola. Bryan, anak yang menggunakan baju hitam itu, mulai menggelinding bola dan meloncati sebuah cone yang berbentuk mangkuk berwarna putih satu per satu. Setelah selesai bola itu digiringnya sedikit ke kanan dan dengan kaki kanannya, ia menendang bola ke arah gawang.
“Saya tidak terlalu banyak berharap dengan klub Indonesia sekarang. Bagaimanapun juga saya harus bisa menghasilkan uang untuk visa saya,” ujar Jose. Karena ia pernah mengajari anak-anak di lingkungan sekitar sektor 1B Gading Serpong, ada beberapa anak yang antusias untuk belajar lebih dalam tentang sepak bola. Dari situlah, ia mengeluarkan sekolah bola “Estrella” yang dalam bahasa Portugis adalah bintang. “Minimal saya ada uang. Kalau nantinya ada kesempatan untuk bermain bola lagi, tentu saya akan senang sekali,” lanjutnya lagi.
Jesse sebagai temannya sangat berharap Jose bisa bermain bola di sebuah klub yang baik. “Saya dengar dia tertarik dengan sebuah klub di Thailand. Saya selalu berharap yang terbaik untuknya,” kata laki-laki yang besar di Australia ini. “Semoga saja di bisa bermain lagi dan kita bisa bertemu dan bermain bersama lagi di tim nasional,” katanya sambil tertawa.

Zerica Estefania Surya/ 11140110026